12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Addas, Pemuda Nasrani yang Memberi Anggur ke Nabi di Thaif

Addas, Pemuda Nasrani yang Memberi Anggur ke Nabi di Thaif

Fiqhislam.com - Kota Thaif yang berjarak 90 kilometer dari Masjid Al Haram di Kota Makkah, memiliki sejumlah destinasi ziarah. Ini karena Thaif pernah menjadi salah satu daerah yang dikunjungi Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah.

Selain Pasar Ukaz, masjid dan makam Abdullah bin Abbas, di Thaif juga ada sebuah masjid yang dinamakan Masjid Addas. Masjid ini tidak besar, tetapi yang unik adalah masjid ini dikelilingi oleh kebun anggur di sekelilingnya.

Suasana hijau terlihat di sekitar masjid dan terlihat kontras dengan bukit-bukit batu di Kota Thaif. Republika.co.id berkesempatan mengunjungi tempat ini pada Rabu (28/8). 

Terlihat di sini banyak jamaah haji yang melakukan ziarah. Di antaranya adalah jamaah haji asal Bangladesh. Tidak terlihat adanya jamaah haji Indonesia yang ada saat itu. 

Padahal, di hari yang sama, jamaah haji Indonesia terlihat berziarah di makam dan masjid Abdullah bin Abbas serta penyulingan mawar.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, Masjid Addas ini memiliki keterkaitan dengan seorang pemuda bernama Addas. Di mana, dia adalah seorang budak beragama Nasrani yang masuk Islam setelah menolong nabi saat mengunjungi kebun anggur. 

Karena itu, pada masa-masa awal Islam, masyarakat Thaif yang sudah memeluk Islam kemudian membangun masjid. Dan, masjid itu diberi nama Addas untuk mengenang pemuda yang bertemu nabi di kebun anggur tadi.

Secara lengkap, Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, seorang sejarawan muslim terkemuka yang memenangkan penulisan sejarah Nabi Muhammad yang diadakan oleh Rabithah Alam Islamy, menuliskan asal mula kisah Addas ini. Dia mengutip penjelasan dari sejarawan Islam abad-abad pertama hijriyah, Ibnu Hisyam.

Kisahnya dimulai ketika bulan Syawal tahun ke-19 kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau awal Juni tahun 619 M, Nabi mengunjungi Kota Thaif yang jaraknya sekitar 60 mil dari Kota Makkah. Beliau datang dan pergi ke sana dengan berjalan kaki didampingi oleh anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah.

Setiap melewati suatu kabilah, beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam. Namun, tak satu kabilah pun yang meresponsnya. Tatkala di Thaif, beliau mendatangi tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka Kabilah Tsaqif.

Mereka masing-masing bernama Yala'il, Mas'ud, dan Habib. Ketiganya adalah putra dari Amir bin Umair Ats-Tsaqafi. Beliau duduk-duduk bersama mereka sambil mengajak kepada Allah dan membela Islam.

Salah seorang dari mereka berkata, "Jika Allah benar-benar mengutusmu, maka dia akan merobek-robek pakaian Ka'bah."

Yang seorang lagi berkata, "Apakah Allah tidak menemukan orang selain dirimu?"

Orang terakhir berkata, "Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu!"

(Mendengar hal tersebut) Nabi berdiri untuk meninggalkan mereka seraya berkata, "Jika kalian melakukan apa yang kalian lakukan (Maksudnya menolak ajakan Nabi), maka kalian menyia-nyiakan aku."

Nabi tinggal di tengah penduduk Thaif selama 10 hari. Selama masa itu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan para pemuka mereka. 

Sebaliknya, jawaban mereka hanyalah "Keluarlah engkau dari negeri kami." Mereka membiarkan Nabi menjadi bulan-bulanan orang tak bermoral di kalangan mereka. Mereka mencaci maki nabi, melempari Nabi dengan batu hingga tumitnya bersimbah darah dan memaki-maki nabi dengan ucapan kotor. 

Zaid bin Haritsah yang bersama beliau menjadikan dirinya sebagai perisai untuk melindungi diri Nabi. Tindakan ini mengakibatkan kepalanya mengalami luka-luka.

Sementara, orang-orang Thaif itu terus saja melempari Nabi dan Zaid. Akhirnya, keduanya terpaksa harus berlindung ke kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah yang terletak 3 mil dari Kota Thaif.

Nabi kemudian menghampiri sebuah pohon anggur lalu duduk-duduk di bawah naungannya menghadap ke kebun. Setelah duduk dan merasa tenang kembali, beliau berdoa dengan doa yang mahsyur.

Doa yang menggambarkan betapa hati beliau dipenuhi rasa getir dan sedih terhadap sikap keras yang dialaminya. Nabi pun mengadu kepada Allah. 

Menyaksikan hal tesebut, rasa belah kasih Uthbah dan Syaibah bin Rabi'ah tergerak. Sehingga, mereka memanggil seorang budak milik mereka yang beragama Nasrani bernama Addas seraya berkata kepadanya, "Ambillah setangkai anggur ini dan antarkan kepada orang tersebut (Nabi)," Tatkala Addas menaruhnya di hadapan Nabi, beliau mengulurkan tangannya untuk mengambilnya dengan membaca 'bismillah", lalu memakannya.

Addas berkata, "Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa dicuapkan oleh penduduk negeri ini."

Lantas Nabi bertanya kepada Addas, "Kamu berasal dari negeri mana? Dan apa agamamu?"

Addas menjawab, "Aku seorang Nasrani dari penduduk Ninawa (Nineveh)."

Nabi berkata lagi, "Dari negeri seorang pria shalih bernama Yunus bin Matta?"

Addas berkata, "Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?"

Nabi menjawab, "Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi, demikian pula dengan diriku."

Addas langsung merengkuh kepala Nabi, kedua tangan dan kedua kaki Nabi pun diciuminya. Sementara, Uthbah dan Syaibah bin Rabi'ah saling berkata satu sama lainnya, "Budakmu itu telah dibuatnya menentangmu."

Maka, tatkala Addas datang, keduanya berkata kepadanya, "Bagaimana kamu ini! Apa yang telah kamu lakukan?"

"Wahai tuanku! Tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang lebih baik dari orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku suatu hal yang hanya diketahui oleh seorang Nabi," jawab Addas.

Setelah pertemuan itu, Nabi pun pulang menuju Makkah dengan perasaan getir dan sedih serta hati yang hancur lebur. Tatkala sampai di suatu tempat bernama Qarnul Manazil, Allah mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung untuk menunggu perintah Nabi menimpakan gunung kepada penduduk Thaif.

Namun, Nabi malah mendoakan penduduk Thaif. Tujuannya, agar mereka kelak menyembah Allah. Dan, saat ini  penduduk Thaif pun telah memeluk Islam.

Addas, Pemuda Nasrani yang Memberi Anggur ke Nabi di Thaif

Fiqhislam.com - Kota Thaif yang berjarak 90 kilometer dari Masjid Al Haram di Kota Makkah, memiliki sejumlah destinasi ziarah. Ini karena Thaif pernah menjadi salah satu daerah yang dikunjungi Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah.

Selain Pasar Ukaz, masjid dan makam Abdullah bin Abbas, di Thaif juga ada sebuah masjid yang dinamakan Masjid Addas. Masjid ini tidak besar, tetapi yang unik adalah masjid ini dikelilingi oleh kebun anggur di sekelilingnya.

Suasana hijau terlihat di sekitar masjid dan terlihat kontras dengan bukit-bukit batu di Kota Thaif. Republika.co.id berkesempatan mengunjungi tempat ini pada Rabu (28/8). 

Terlihat di sini banyak jamaah haji yang melakukan ziarah. Di antaranya adalah jamaah haji asal Bangladesh. Tidak terlihat adanya jamaah haji Indonesia yang ada saat itu. 

Padahal, di hari yang sama, jamaah haji Indonesia terlihat berziarah di makam dan masjid Abdullah bin Abbas serta penyulingan mawar.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, Masjid Addas ini memiliki keterkaitan dengan seorang pemuda bernama Addas. Di mana, dia adalah seorang budak beragama Nasrani yang masuk Islam setelah menolong nabi saat mengunjungi kebun anggur. 

Karena itu, pada masa-masa awal Islam, masyarakat Thaif yang sudah memeluk Islam kemudian membangun masjid. Dan, masjid itu diberi nama Addas untuk mengenang pemuda yang bertemu nabi di kebun anggur tadi.

Secara lengkap, Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, seorang sejarawan muslim terkemuka yang memenangkan penulisan sejarah Nabi Muhammad yang diadakan oleh Rabithah Alam Islamy, menuliskan asal mula kisah Addas ini. Dia mengutip penjelasan dari sejarawan Islam abad-abad pertama hijriyah, Ibnu Hisyam.

Kisahnya dimulai ketika bulan Syawal tahun ke-19 kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau awal Juni tahun 619 M, Nabi mengunjungi Kota Thaif yang jaraknya sekitar 60 mil dari Kota Makkah. Beliau datang dan pergi ke sana dengan berjalan kaki didampingi oleh anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah.

Setiap melewati suatu kabilah, beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam. Namun, tak satu kabilah pun yang meresponsnya. Tatkala di Thaif, beliau mendatangi tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka Kabilah Tsaqif.

Mereka masing-masing bernama Yala'il, Mas'ud, dan Habib. Ketiganya adalah putra dari Amir bin Umair Ats-Tsaqafi. Beliau duduk-duduk bersama mereka sambil mengajak kepada Allah dan membela Islam.

Salah seorang dari mereka berkata, "Jika Allah benar-benar mengutusmu, maka dia akan merobek-robek pakaian Ka'bah."

Yang seorang lagi berkata, "Apakah Allah tidak menemukan orang selain dirimu?"

Orang terakhir berkata, "Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu!"

(Mendengar hal tersebut) Nabi berdiri untuk meninggalkan mereka seraya berkata, "Jika kalian melakukan apa yang kalian lakukan (Maksudnya menolak ajakan Nabi), maka kalian menyia-nyiakan aku."

Nabi tinggal di tengah penduduk Thaif selama 10 hari. Selama masa itu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan para pemuka mereka. 

Sebaliknya, jawaban mereka hanyalah "Keluarlah engkau dari negeri kami." Mereka membiarkan Nabi menjadi bulan-bulanan orang tak bermoral di kalangan mereka. Mereka mencaci maki nabi, melempari Nabi dengan batu hingga tumitnya bersimbah darah dan memaki-maki nabi dengan ucapan kotor. 

Zaid bin Haritsah yang bersama beliau menjadikan dirinya sebagai perisai untuk melindungi diri Nabi. Tindakan ini mengakibatkan kepalanya mengalami luka-luka.

Sementara, orang-orang Thaif itu terus saja melempari Nabi dan Zaid. Akhirnya, keduanya terpaksa harus berlindung ke kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah yang terletak 3 mil dari Kota Thaif.

Nabi kemudian menghampiri sebuah pohon anggur lalu duduk-duduk di bawah naungannya menghadap ke kebun. Setelah duduk dan merasa tenang kembali, beliau berdoa dengan doa yang mahsyur.

Doa yang menggambarkan betapa hati beliau dipenuhi rasa getir dan sedih terhadap sikap keras yang dialaminya. Nabi pun mengadu kepada Allah. 

Menyaksikan hal tesebut, rasa belah kasih Uthbah dan Syaibah bin Rabi'ah tergerak. Sehingga, mereka memanggil seorang budak milik mereka yang beragama Nasrani bernama Addas seraya berkata kepadanya, "Ambillah setangkai anggur ini dan antarkan kepada orang tersebut (Nabi)," Tatkala Addas menaruhnya di hadapan Nabi, beliau mengulurkan tangannya untuk mengambilnya dengan membaca 'bismillah", lalu memakannya.

Addas berkata, "Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa dicuapkan oleh penduduk negeri ini."

Lantas Nabi bertanya kepada Addas, "Kamu berasal dari negeri mana? Dan apa agamamu?"

Addas menjawab, "Aku seorang Nasrani dari penduduk Ninawa (Nineveh)."

Nabi berkata lagi, "Dari negeri seorang pria shalih bernama Yunus bin Matta?"

Addas berkata, "Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?"

Nabi menjawab, "Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi, demikian pula dengan diriku."

Addas langsung merengkuh kepala Nabi, kedua tangan dan kedua kaki Nabi pun diciuminya. Sementara, Uthbah dan Syaibah bin Rabi'ah saling berkata satu sama lainnya, "Budakmu itu telah dibuatnya menentangmu."

Maka, tatkala Addas datang, keduanya berkata kepadanya, "Bagaimana kamu ini! Apa yang telah kamu lakukan?"

"Wahai tuanku! Tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang lebih baik dari orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku suatu hal yang hanya diketahui oleh seorang Nabi," jawab Addas.

Setelah pertemuan itu, Nabi pun pulang menuju Makkah dengan perasaan getir dan sedih serta hati yang hancur lebur. Tatkala sampai di suatu tempat bernama Qarnul Manazil, Allah mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung untuk menunggu perintah Nabi menimpakan gunung kepada penduduk Thaif.

Namun, Nabi malah mendoakan penduduk Thaif. Tujuannya, agar mereka kelak menyembah Allah. Dan, saat ini  penduduk Thaif pun telah memeluk Islam.

Makam dan Masjid Abdullah bin Abbas di Thaif

Makam dan Masjid Abdullah bin Abbas di Thaif


Kota Thaif tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam. Karenanya, di sini banyak tempat destinasi wisata ziarah yang bisa dikunjungi oleh jamaah haji maupun umrah.

Salah satunya adalah makam dan Masjid Abdullah bin Abbas. Pada Rabu (28/8), Republika.co.id, berkesempatan mengunjungi masjid yang di belakangnya terdapat makam sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadist ini.

Banyak jamaah yang mengunjungi tempat ini. Termasuk juga jamaah haji Indonesia.

Suhu udara di sini termasuk sejuk karena ada di dataran tinggi. Hal tersebut menambah kenyamanan jamaah setelah meninggalkan Kota Makkah yang cukup panas. Kota Thaif sendiri berjarak sekitar 90 kilometer dari Makkah.

Bentuk masjid ini cukup unik. Karena, berbentuk kotak yang panjangnya sekitar delapan meter. Kemudian, lebarnya tujuh meter dan tingginya tiga meter. Adapun halamannya, memiliki panjang tujuh meter.

Di dalamnya, terdiri dari dua sisi dengan dinding dan pintu yang diikat. Ada juga   atau podium kecil dan dikelilingi oleh pagar. Ada puluhan karpet di dalam masjid dan tulisan-tulisan dalam berbagai bahasa.

Dikutip dari Saudigazette, masjid ini didirikan pada 592 hijriah.  Masjid ini telah mengalami perkembangan dalam periode yang berbeda. Awalnya, masjid ini dibangun kembali dan diperluas selama era Kerajaan Arab Saudi oleh Raja Saud. Kemudian, pada masa Raja Faisal bin Abdul Aziz, masjid  diperluas menjadi 15.000 meter persegi.

Sekarang, masjid ini bisa menampung sekitar 3.000 jamaah. Dan, di masjid ini banyak dilakukan agenda keislaman seperti shalat, pertemuan, shalat ied, seminar, dan ceramah.

Sementara, untuk makamnya, ada di belakang masjid. Makam Abdullah bin Abbas sendiri tertutup oleh tembok setinggi 4-5 meter. Sehingga, makam ini tidak bisa dilihat oleh pengunjung.

Namun, banyak pengunjung yang berupaya memanjat ke tembok ini. Tujuannya adalah agar mereka bisa menyaksikan langsung makam ini. Salah satu caranya adalah dengan saling menginjak bahu temannya agar bisa melihat ke dalam makam.

Makam ini terlihat hanya ditandai oleh batu bata. Tidak ada bangunan permanen berupa tembok atau kijing sebagai penanda makam sahabat yang masih kerabat Nabi Muhammad tersebut.

Siapa Abdullah bin Abbas?

Dikutip dari Harian Republika, di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika bersyahadat mereka berusia sangat muda. Atau, ketika mereka dilahirkan, orang tuanya telah menjadi Muslim lebih dulu. Salah satunya adalah Abdullah bin Abbas, atau lebih dikenal dengan Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Boleh dikata, ia hidup bersama Rasulullah SAW dan belajar langsung dari beliau. Ia adalah sepupu Rasulullah. Rasulullah pernah merengkuhnya ke dada beliau seraya berdoa, "Ya Allah, ajarilah ia al-hikmah." Dalam suatu riwayat disebutkan, "(Ajarilah ia) al-Kitab (Alquran)."Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, ummahatul mu'minin, Maimunah binti al-Harist.

Tengah malam, ia melihat Rasulullah bangun dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, sambil diam-diam mengamati cara Rasulullah bersuci. Rasul SAW melihatnya, sambil mengusap kepalanya dan berdoa, ''Ya Allah, anugerahilah pemahaman agama kepadanya.''

Kemudian Rasulullah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang Rasulullah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya.

Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan Rasulullah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, Rasulullah mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang utusan Allah SWT. Rasulullah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi doanya ketika berwudhu.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, Rasulullah wafat. Ia sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikan kesedihannya berlarut-larut. Ia memantapkan hati untuk nyantri para para sahabat Rasul SAW. Dengan sabar, ia menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau dakwahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, bahkan hingga tertidur.

Dan, sesuai doa Rasulullah, Ibnu Abbas mendapatkan banyak ilmu. Ketekunannya belajar membuatnya menjadi seorang ulama yang mumpuni. Ia dijuluki sebagai 'tinta'-nya umat, dalam menyebarkan tafsir dan fikih. Ibn Umar pernah berkata kepada salah seorang yang bertanya mengenai suatu ayat kepadanya, "Berangkatlah menuju Ibnu Abbas lalu tanyakanlah kepadanya sebab ia adalah sisa sahabat yang masih hidup yang paling mengetahui wahyu yang diturunkan kepada Nabi SAW."

Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syura-nya dengan beberapa sahabat senior. Ia selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Beberapa sahabat Umar mempertanyakan kenapa mengajak "anak muda" dalam diskusi mereka. Umar menjawabnya dengan mengundang para sahabat, termasuk Ibnu Abbas.

Umar berkata, "Apa pendapat kalian mengenai firman Allah, 'Bila telah datang pertolongan Allah dan Penaklukan.' (surat An-Nahsr hingga selesai). Maka, sebagian mereka berkata, "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya bila kita menang (dapat menaklukkan Mekkah)." Sebagian lagi hanya terdiam saja. Lalu, Umar pun berkata kepada Ibnu Abbas, "Apakah kamu juga mengatakan demikian?" Ia menjawab, "Tidak."

Lalu Umar bertanya, "Kalau begitu, apa yang akan kamu katakan?" Ia menjawab, "Itu berkenaan dengan ajal Rasulullah SAW di mana Allah memberitahukan kepadanya bila telah datang pertolongan-Nya dan penaklukan kota Mekkah, maka itulah tanda ajalmu (Rasulullah-red), karena itu sucikanlah Dia dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya karena Dia Maha Menerima Tobat." Umar pun berkata, "Yang aku ketahui memang seperti yang engkau ketahui itu." Secara tidak langsung Umar hendak menjawab, kendati muda, keilmuan Ibnu Abbas sangat mumpuni.

Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, ia bergabung dengan pasukan Muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan Abdullah bin Abi-Sarh. Ia terlibat dalam pertempuran dan dalam dakwah Islam di sana. Ia juga menjadi amirul hajj pada tahun 35 Hijrah. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk berdakwah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12 ribu dari 16 ribu Khawarij bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

Ia sempat diangkat menjadi penguasa di Bashrah oleh khalifah Ali. Namun tatkala Ali meninggal karena terbunuh, ia pulang ke Hijaz, bermukim di Makkah, sebelum akhirnya menuju Thaif dan wafat di sana. Ibnu Abbas meninggal pada tahun 68 H dalam usia 71 tahun. Di hari pemakamannya, sahabat Abu Hurairah RA, berkata, "Hari ini telah wafat ulama umat. Semoga Allah SWT berkenan memberikan pengganti Abdullah bin Abbas." [yy/ihram]