<
pustaka.png
basmalah.png

Apa yang Ditimbang Saat Yaumul Mizan?

Apa yang Ditimbang Saat Yaumul Mizan?

Fiqhislam.com - Kehidupan manusia di bumi hanya sementara dan akan kekal di akhirat nanti. Sebelum manusia digiring ke surga, mereka harus melalui beberapa tahapan, salah satunya adalah hari penimbangan atau yaumul mizan.

Namun, apa yang ditimbang saat hari tersebut? Pakar Tafsir Al Quran Indonesia Prof M. Quraish Shihab mengatakan orang beriman harus percaya ada satu cara yang sudah ditetapkan Allah untuk mengukur kualitas seseorang. Untuk mengetahuinya, umat manusia akan ditimbang pada hari penimbangan.

Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Ada yang menyebut orangnya yang ditimbang. Kenapa? Itu ada ayat Al Quran berkata menyangkut orang-orang kafir dalam surah Al-Kahfi ayat 105. Jadi, orangnya yang ditimbang,” kata Quraish Shihab, dalam siniar yang diunggah akun resminya Quraish Shihab.

Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 105:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَاۤىِٕهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًا

Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak lakukan penimbangan atas mereka pada hari Kiamat.”

Quraish menceritakan ada sahabat Nabi bernama Abdullah bin Mas’ud. Dia terkenal dengan cara mengajinya yang merdu.

Suatu hari, Nabi pernah meminta Abdullah untuk membaca Al Quran. Abdullah sempat menolak, tapi akhirnya dia membaca Al Quran untuk Nabi. Saat mendengarnya, Nabi menangis.

Abdullah digambarkan sebagai orang yang kecil. Saking kecilnya, istrinya bisa menggendongnya. Suatu ketika, angin keras menimpa Abdullah.

Segera ia berlindung di suatu pohon. Karena kerasnya angin, dia hampir terbawa. Melihat ini, sahabat-sahabat Nabi SAW tertawa.

Kemudian Nabi mengatakan “Jangan tertawai dia (Abdullah). Meskipun dia memiliki kaki kurus dan kecil, itu lebih berat timbangannya nanti dibandingkan Gunung Uhud.

Sementara itu, ulama lain ada yang berpendapat saat yaumul mizan bukan orang yang ditimbang, melainkan amal. Amal bisa berbentuk perbuatan dari anggota tubuh, niat, dan ucapan yang semua itu ditimbang. Untuk pendapat ini, Quraish memberi contoh salah satu hadits yang diriwayatkan Bukhari.

Nabi bersabda, ada dua kalimat yang Tuhan sangat senangi. Mudah diucapkan tapi berat sekali dalam timbangan, yaitu subhanallah wal hamdulillah. Itu ringan sekali,” ujar dia.

Ada juga pendapat yang menyebut semua amal yang ditimbang digabung dalam kategori masing-masing. Misal, semua amal baik dan semua amal buruk. Jika timbangannya seimbang lolos dan jika kurang tidak lolos.

Yang jelas kita percaya di hari kemudian ada satu cara yang ditetapkan Allah yang menjadikan apa yang ditetapkan itu putusan yang sangat adil dan tepat. Semuanya terukur walau sebesar dzarrah,” tambahnya. [yy/republika]



 

 

top