18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Salah Paham Taha Husain tentang Ibn Khaldun

Salah Paham Taha Husain tentang Ibn Khaldun

Fiqhislam.com - iBNU KHALDUN (732-808 H/1332-1406 M) adalah pemikir besar, sosiolog Muslim terkemuka. Nalarnya setara dengan Montesqueu dan Mably. Bahkan, ia merupakan “kakek” pemikiran para sosiolog modern sekelas Tarde dan orientalis Gobineau.

Posisinya sebagai pencetus ilmu sosiologi tidak ada seorang pun yang meragukannya. Lebih dari itu, sebelum menjadi seorang sosiolog terkenal, ilmu-ilmu agama telah dilahapnya sejak awal masa belajarnya di Tunisia. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri. Kemudian dari guru-gurunya yang lain dia mengambil berbagai cabang ilmu, seperti: Al-Quran, Tafsir, Hadits, Fiqh, Usul al-Fiqh, Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Syair, Logika (al-Manthiq), Filsafat, bahkan musik.

Penguasaan ibn Khaldun terhadap ilmu-ilmu agama dari sana tampak jelas bahwa ibn Khaldun adalah seorang alim besar, karena banyak berguru kepada ulama besar di zamannya. Sehingga sekian banyak buku telah dilahapnya dari para gurunya tersebut.

Hanya Taha Husain saja yang sepertinya meragukan penguasaan buku-buku yang dikatakan oleh ibn Khaldun dalam autobiografinya, seperti Muktasar ibn al-Hajib dan kitab al-Aghani.

Karena ibn Khaldun menyebutkan bahwa Mukhtasar ibn al-Hajib sebagai kitab fiqh dalam madzhab Maliki, Taha Husain berkomentar bahwa itu keliru. Karena Mukhtasar ibn al-Hajib adalah kitab “Usul al-Fiqh”, bukan kitab Fiqh seperti yang ditulis oleh ibn Khaldun.

Dan mengenai kitab al-Aghani, Taha Husain menyatakan bahwa ibn Khaldun dalam autobiografinya menyebutkan pernah melihat naskah buku tersebut. Dan dalam al-Muqaddimah-nya dia menyatakan bahwa mustahil untuk mendapatkan naskah buku tersebut. ini jelas, kata Taha Husain bahwa ibn Khaldun hanya mengenal judulnya saja. (Lihat, Taha Husain, Falsafah ibn Khaldun al-ijtima‘iyyah: Tahlil wa Naqd, Terj. Muhammad ‘Abd Allah ‘Anan (Mesir: Matba‘ah al-i‘timad, cet. i, 1343 H/1925 M), hlm. 11-12).

Agaknya Taha Husain keliru memahami pernyataan ibn Khaldun. Karena dia belum tuntas menghafal kitab tersebut. Dengan tegas ibn Khaldun menyatakan ketika berbicara tentang gurunya Muhammad ibn Sa‘d ibn Burral seperti berikut:

((ودرست عليه كتبا جمة مثل كتاب التسهيل لابن مالك مختصر ابن الحاجب في الفقه ولم أكملهما بالحفظ))
 

(Aku belajar kepadanya tentang banyak buku, seperti kitab al-Tashil karya ibn Malik dan Mukhtasar ibn al-Hajib dalam bidang Fiqh, yang belum hafal secara tuntas). (ibn Khaldun, Tarikh ibn Khaldun (Kitab al-‘ibar), Jilid Vii (Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, 1421 H/2001 M), hlm. 511).

Artinya, ibn Khaldun hanya menyebutkan contoh level buku-buku yang dipelajarinya di masa itu. Konon lagi banyak terdapat buku-buku ringkasan dari kitab-kitab besar itu, yang khusus dipelajari oleh para pemula. ini tentu tidak layak untuk dibanggakan ketika masih dalam masa talaqqi kepada para syaikh.

Selain itu, sejatinya ibn Khaldun tengah memberi pelajaran penting kepada kita, yaitu: dalam belajar dan menuntut ilmu itu harus jeli nan teliti dalam mencatat (al-diqqah). Sehingga dia menyampaikan dengan detail bagian kitab mana yang belum dipelajarinya secara tuntas.

Misalnya dia mengatakan, “Aku membacakan kitab Sahih Muslim ibn al-Hajjaj kepada ‘Ali Muhammad ibn Jabir al-Qaisi, dan aku hanya meninggalkan sebagian kecil dari bab buruan (kitab al-said).” (ibn Khaldun, Kitab al-‘ibar, Vii: 512. Lihat juga, ibn Khaldun, al-Ta‘rif bi ibn Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Syarqan (Dar al-Kitab al-Lubnani, 1979), hlm. 19).

Tentang kitab ibn al-Hajib sendiri, yang dikutip juga oleh Taha Husain, ibn Khaldun menyatakan ولم أكملهما بالحفظ (keduanya belum tuntas aku hafal). ini artinya ibn Khaldun sangat detail dan teliti dalam meriwayatkan apa yang tengah dipelajarinya ketika itu.

Maka, tidak benar apa yang dikatakan oleh Taha Husain dalam bukunya itu. (Dr. ‘Ali ibn ‘Abd al-Wahid Wafi, ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun: Hayatuhu wa atsaruhu wa Mazhahir ‘Abqariyyatihi (Kair: Maktabah Misr, ttp), hlm. 29-30).

Semestinya, Taha Husain jeli melihat apa yang dikatakan oleh ibn Khaldun dalam pernyataan keduanya belum tuntas aku hafal.

Artinya: ada dua kitab Mukhtasar ibn al-Hajib, yang memang berkaitan. Karena ternyata ibn Hajib memiliki kitab ringkasan dalam Fiqh imam Malik yang dikenal dengan al-Mukhtasar al-Fiqhi atau al-Far‘i, atau al-Jami‘ baina al-Ummahat. Kitab ini banyak disyarh (dijelaskan) oleh ulama Maghrib, seperti al-Qadi ibn ‘Abd al-Salam al-Tunisi (guru ibn Khaldun) dan ‘isa ibn Mas‘ud al-Munkilati. (Dr. ‘Abd al-Wahid Wafi, ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun, hlm. 31).

Dan mengenai kitab Mukhtasar ibn al-Hajib ternyata dua-duanya – baik dalam Fiqh maupun Usul al-Fiqh – telah dipelajari oleh ibn Khaldun. Dua-duanya disebutkan di dalam al-Muqaddimah. (Lihat, ibn Khaldun, al-Muqaddimah (Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘ilmiyah, cet. iX, 1427 G/2006 M), hlm. 36. Lihat juga, lihat ibn Khaldun, Kitab al-‘ibar, Vii: 511, 512).

Begitu juga halnya dengan kitab al-Aghani yang ternyata telah dipelajarinya, dan sebagian besar syair yang ada di dalamnya telah dihafalnya. (Lihat, Dr. ‘Ali ‘Abd al-Wahid Wafi,‘Abd al-Rahman ibn Khaldun, hlm. 33-36).

Dengan demikian, apa yang dikatakan oleh Taha Husain tak lebih dari tuduhan belaka. Karena ternyata pembacaannya terhadap penjelasan ibn Khaldun sendiri belum tuntas. Kesimpulan seperti itu tentu saja kontraproduktif sekaligus tidak ilmiah. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

 

Oleh Qosim Nursheha Dzulhadi
- Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara
- Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di indonesia
yy/hidayatullah.com
 
 

Biografi Ibnu Khaldun

Sains Dalam Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun