<
pustaka.png
basmalah.png

ABASA dan Sportifitas Langit

ABASA dan Sportifitas Langit

Fiqhislam.com - Kita semua pasti pernah mengalami sebuah posisi muka tertekuk yang di sebut dengan cemberut....Sangat tidak enak memang. Buat yang cemburut, terasa capek di muka dan di hati. Buat yang di cemberutin, tentu pun merasa pegal di hati.

Sebagian besar dari kita mengetahui dan bahkan hafal salah satu surat di dalam juz 'Amma ini. Surat ke-80 yaitu surat 'Abasa ( سورة عبس ).

'Abasa artinya Yang bermuka masam, ‘Abasa (عَبَسَ) berasal dari ‘abasa (عَبَسَ) - ya‘bisu (يَعْبِسُ) - ‘absan (عَبْسًا) dan ‘abusan (عَبُوْسًا). Adapun sebab-sebab turunnya ayat sebagaimana yang di sampaikan oleh Aisyah radhiallahu'anha,

أخرج الترمذي والحاكم عن عائشة قالت : أُنزل ( عبس وتولى ) في ابن أم مكتوم الأعمى ، أتى رسول الله فجعل يقول : يا رسول الله أرشدني ، وعند رسول الله رجل من عظماء المشركين ، فجعل رسول الله يعرض عنه ويقبل على الأخر ، يقول له : أترى بما أقول بأساً ؟ فيقول لا ، فنزلت ( عبس وتولى * أن جاءه الأعمى ) .

Di keluarkan oleh Tirmidzi dan hakim dari aisyah RA, beliau berkata : surat abasa wa tawalla di turunkan karena Abdullah bin umi maktum yang buta , beliau datang kepada rasulullah, dan berkata kepada rasulullah : ya rasulullah ajari & beri aku petunjuk , lalu di saat itu ada para pembesar musyrikin di sisi rasulullah, maka rasulullah berpaling dan tidak memperhatikannya dan menghadap dan memperhatikan yang lain, maka Abdullah berkata kepada rasulullah : apakah yang aku katakan ada masalah , jawab rasulullah : tidak , maka turunkah ayat ( abasa ) 1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya

Ibnu Umi Maktum Tidak Melihat Muka Masam itu

Apa yang terbayangkan oleh kita? Pada saat Rasulullah berpaling dan mukanya berubah masam? Apakah Abdullah bin Umi Maktum melihat perubahan air muka Rasulullah dan berpalingnya beliau dari dirinya? Tentu tidak, karena dia buta. Itu pun artinya Abdullah bin Umi Maktum tidak tersakiti hatinya karena perubahan itu.

Tapi perubahan air muka dan berpalingnya Rasulullah itu tidak luput dari pengawasan Allah Subhanawata'ala. Dan tidaklah pantas bagi seorang Rasul dengan kemuliaan akhlaknya berlaku seperti itu.

عَبَسَ وَتَوَلَّى * أَن جَآءَهُ الاْعْمَى

Sebuah teguran yang sangat lembut karena Allah menggunakan kata ganti orang ketiga, pada ayat yang pertama dan kedua ini. "Dia yang bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya."

Beginilah suasananya, ada beberapa pemuka Quraisy yang sedang berbicara dengan Rasulullah. Kalau bicara tentang peluang, tentu kita sudah dapat membayangkan potensi dan peluang yang ada. Apabila para pemuka ini masuk ke dalam Islam, tentunya orang-orang di bawah mereka akan secara sukarela mengikuti Rasulullah. Tapi pada saat dialog terjadi, datang seorang buta yang menyela, "Ya Rasulullah ajari dan berilah aku petunjuk."

Teguran Allah kepada Rasulullah ini juga menjadi gambaran maksumnya (Terlindungi dari kesalahan) Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam. Kekeliruan yang dilakukan oleh Rasulullah itu langsung di koreksi oleh Allah Subhanawata'ala. Walau pun kekeliruan itu tidak merugikan secara langsung Abdullah bin Umi Maktum. Ia tidak tersinggung, tidak tersakiti hatinya karena memang ia tidak dapat melihat semua perubahan itu. Tapi ini merupakan sebuah standar nilai. Tidak di benarkan buat seorang muslim bermuka masam kepada muslim lainnya sekalipun ia seorang yang buta. Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah masih berada di Makkah.

Inilah Sportifitas Langit itu

Pada saat Rasulullah dan para sahabat sudah berada di Madinah. Dan kaum muslimin mendirikan masjdi Nabawi. Rasulullah memiliki dua orang muadzin, Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Umi Maktum. Selama 10 tahun Rasulullah mengimami shalat para sahabat di masjid Nabawi. Pastilah Rasulullah pernah membaca surat 'Abasa. Apa yang kita bayangkan?

Pada saat Rasulullah membaca surat itu, semua orang tahu bahwa itulah ayat-ayat yang menjadi teguran Allah kepada Rasulnya. Dan semua orang pun tahu, penyebab Rasulullah di tegur itu adalah orang buta yang berdiri di barisan shaf shalat yang beliau pimpin. Apa yang terbayangkan oleh kita? Sebuah kemuliaan jiwa, sportifitas yang tiada taranya, kejujuran untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia ayat-ayat yang diajarkan Allah kepada dirinya.

Sekalipun ayat tersebut menyinggung diri dan kredibilitasnya. Ini adalah sebuah kesalahan yang tidak seorang pun tahu kesalahannya, tapi Allah mengoreksinya dengan ayat-ayat yang mulia. Inilah sebuah gambaran tentang sportifitas yang di bangun oleh langit untuk nabinya. Inilah pengajaran sportifitas Rasulullah yang mulia untuk seluruh umatnya.

Bahkan ketika Rasulullah dan para sahabat terkemuka lain pun tidak ada di tempat, maka orang yang menggantikan Rasulullah menjadi imam shalat di masjid nabi adalah orang buta yang karenanya Rasulullah di tegur.
Dari Aisyah :

اسْتُخْلِفَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ عَلَى الْمَدِيْنَةِ يُصَلِّيْ بِالنَّاسِ

"Ibnu Umi Maktum dijadikan pengganti (Rasulullah) di Madinah mengimami shalat penduduknya". [HR Ibnu Hibban dan Abu Ya’la. Dikatakan penulis kitab Sahih Fiqhus Sunnah, bahwa hadits ini sahih li ghairihi]

eramuslim.com

 

top