30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Al Quran Bukan Kitab Terkasar

Al Quran Bukan Kitab Terkasar

Fiqhislam.com - Sebuah studi terbaru dilakukan oleh seorang insinyur perangkat lunak, Tom HC Anderson beberapa waktu lalu. Ia membandingkan kitab suci umat Islam dan kitab suci Kristiani dengan perangkat lunak berbasis analisis bernama Odin Text.

Perangkat yang ia kembangkan itu menganalisis delapan kategori di dalam Alquran dan Injil. Kitab yang digunakan adalah versi terbaru internasional Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, dan Alquran berbahasa Inggris yang dicetak pada 1957.

Dalam laporannya, Anderson menjelaskan maksud upaya membandingkan ini. "Proyek ini terinspirasi oleh debat-debat publik yang terus berlanjut terkait apakah terorisme terkait dengan fundamental Islam dibanding dengan agama lain," kata dia.

Hanya butuh waktu dua menit bagi Odin Text untuk membaca dan menganalisis isi dari ketiga kitab tersebut. Delapan kategori yang dianalisis adalah kesenangan, antisipasi, kemarahan, kebingungan, kesedihan, kejutan, ketakutan dan kepercayaan.

Hasilnya menujukkan Injil memiliki nilai lebih tinggi untuk kemarahan daripada Alquran. Untuk kepercayaan nilai Injil lebih rendah daripada Alquran. Analisis lebih jauh menemukan, Perjanjian Lama lebih banyak berisi kekerasan dibanding Perjanjian Baru dan dua kali lebih kasar daripada Alquran.

"Dari ketiga kitab, isi dari Perjanjian Lama jadi paling kasar," katanya. Pembunuhan dan perusakan lebih banyak ditemukan di Perjanjian Baru, yakni sebesar 2,8 persen, sementara Alquran dengan 2,1 persen. Nilai Perjanjian Lama mencapai dua kali lipat yakni 5,3 persen.

Anderson menegaskan, ia tidak ingin membuktikan apa-apa soal kekerasan dari agama Islam. Ia juga menyadari bahwa kedua kitab itu bukan satu-satunya sumber dari agama masing-masing. "Saya menegaskan bahwa analisis ini murni dan temuan tidak berakhir kesimpulan, kami juga menghormati ketiga kitab," kata dia.

Tom mempublikasikan temuannya awal tahun 2016 di situs Odin Text. Di sana tertampang hasil analisis berbentuk permodelan delapan kategori. Untuk kesenangan, kedua kitab menunjukkan angka hampir sama antara 9-10 dengan Alquran sedikit lebih tinggi.

Untuk antisipasi, nilai kedua kitab juga tidak terlalu berbeda pada nilai dua persen. Pada kemarahan, Alquran bernilai delapan persen sementara Injil 10 persen. Nilai kedua kitab dalam ketegori kebingungan sama-sama satu persen. Kesedihan pun sama-sama lima persen.

Kejutan tidak jauh berbeda di satu persen. Sementara ketakutan atau kewaspadaan, Injil memiliki nilai enam persen dan Alquran 10 persen. Kepercayaan, Injil dengan empat persen dan Alquran 10 persen. [yy/republika]