1 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 27 September 2022

basmalah.png

Syekh Ahmad Yassin, Ulama Mujahid dan Pemimpin Palestina

Syekh Ahmad Yassin, Ulama Mujahid dan Pemimpin Palestina

Fiqhislam.com - Hari itu, Senin, 22 Maret 2004, bertepatan dengan 1 Shafar 1425 Hijriyah, dunia Islam kembali berduka. Salah seorang tokoh Muslim dunia yang juga pemimpin spiritual Hamas, Syekh Ahmad Yassin, wafat di tempat pengasingannya di Jalur Gaza, Palestina.

Bukan kematian sang tokoh yang ditangisi masyarakat Muslim, namun cara ia menghadap Sang Khalik-lah yang membuat umat Islam dunia terhentak dan kaget.

Ia syahid setelah tiga buah rudal yang dilepaskan melalui helikopter Apache milik tentara Israel menghantam tubuhnya yang lumpuh total. Saat itu, ia baru saja selesai menunaikan shalat Subuh berjamaah di Masjid Al-Mujama' Al-Islami di Kota Gaza.

Semasa hidupnya, Syekh Yassin dikenal gigih dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah zionis Israel. Sosoknya menjadi motivator dan pemompa semangat jihad di kalangan generasi muda Palestina.

Walaupun usianya uzur, kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki dan setiap hari harus menggunakan kursi roda, namun hal itu tidak menghalanginya untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, serta berjuang bersama rakyat Palestina di Jalur Gaza. Karena itu, dia seringkali dijadikan target sasaran tentara Israel.

Nama lengkapnya Syekh Ahmad Ismail Yassin, dilahirkan di Desa Al-Jaurah, pinggiran Al-Mijdal, sebelah selatan Kota Gaza (sekarang dekat Ashkelon di Israel). Tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Menurut paspor Palestinanya, ia lahir pada 1 Januari 1929. Namun, ia telah menyatakan bahwa sebenarnya lahir pada 1938. Sedangkan, sumber Palestina mendaftarkan tahun 1937 sebagai tahun kelahirannya.

Saat masih kanak-kanak, Yassin dan keluarganya telah dipaksa menjadi pengungsi. Hal ini disebabkan, terjadinya peperangan rakyat Palestina dengan Israel pada tahun 1948. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya, ia tinggal dan hidup di tanah pengungsian.

Saat berusia 12 tahun, ia mengalami kecelakaan dalam sebuah kegiatan olahraga sehingga menyebabkan kelumpuhan total. Dan itu membuatnya harus menggunakan kursi roda sepanjang sisa hidupnya.

Syekh Yassin sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, karena alasan kesehatan, ia tidak dapat melanjutkan studinya hingga tamat.

Selanjutnya, ia memperoleh pendidikan di rumah. Seperti halnya pelajaran yang didapatkan melalui lembaga pendidikan resmi, saat bersekolah di rumah, ia juga mendapatkan pengajaran mengenai filsafat, agama, politik, sosiologi, dan ekonomi.

Kendati memiliki keterbatasan secara fisik, Syekh Yassin pernah bekerja sebagai guru bahasa Arab dan Tarbiyah Islamiyah di sebuah sekolah dasar di Rimal, Gaza. Kemudian, ia bertugas sebagai khatib dan guru di masjid-masjid di sepanjang Jalur Gaza.

Pada masa penjajahan, ia menjadi khatib paling populer di kalangan masyarakat Kota Gaza karena kekuatan argumentasi dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran.

Gerakan perlawanan
Agresi tentara Israel terhadap tanah Palestina yang tiada berkesudahan hingga saat ini, membuat Syekh Yassin bersama dua orang rekannya Abdul Aziz Al-Rantissi dan Khalid Mishal, terpanggil untuk mendirikan sebuah organisasi perlawanan terhadap penjajah zionis Israel. Pada tahun 1987, tiga serangkai ini menyepakati pendirian Hamas.

Di kalangan para petinggi Hamas, Syekh Yassin merupakan tokoh spiritual gerakan Hamas. Disamping itu, ia juga seorang pemimpin bagi pejuang dan rakyat Palestina melawan penjajah Israel.

Sebagai tokoh spiritual dan pemimpin dalam perjuangan, Syekh Yassin banyak memberikan keteladanan bagi pengikutnya dan rakyat Palestina, juga bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam suatu khutbahnya, Syekh Yassin pernah berkata, ''Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemimpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, perilaku, pergerakan, pengetahuan, ataupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilih Allah SWT atau binasa!''

Semangat perlawanan terhadap penjajah Israel yang terus dikobarkan Syekh Yassin kepada para generasi muda Palestina, membuatnya kerap menjadi incaran tentara Israel. Pada tahun 1983, ia ditangkap rezim imperialis Israel atas tuduhan memiliki senjata, membentuk pasukan militer dan menyerukan pelenyapan eksistensi negara Yahudi. Karenanya, beliau dihadapkan ke Mahkamah Militer Israel dan divonis 13 tahun penjara.

Pada tahun 1985, Syekh Yassin dibebaskan dalam rangka pertukaran tahanan antara pihak Israel dengan Front Rakyat untuk pembebasan Palestina, setelah mendekam selama 11 bulan dalam penjara Israel.

Pada akhir Agustus 1988, militer Israel menyerbu rumah kediamannya di Gaza. Mereka melakukan penggeledahan dan mengancam membuangnya dari atas kursi roda ke Lebanon.

Kemudian, pada malam hari tanggal 17 Mei 1989, rezim Israel kembali menangkap Syekh Yassin beserta ratusan aktivis gerakan Hamas lainnya. Tindakan pemerintah Israel tersebut sebagai upaya menghentikan perlawanan bersenjata yang terjadi ketika itu.

Syekh Yassin dituduh mendalangi serangan rakyat Palestina atas Israel dan melucuti senjata serdadu-serdadu Israel, warga Yahudi, serta penculikan terhadap agen-agen Israel.

Pada tanggal 16 Oktober 1991, Mahkamah Militer Israel mengeluarkan keputusan dengan memvonis Syekh Yassin berupa penjara seumur hidup ditambah 15 tahun, setelah disodorkan daftar tuduhan sebanyak sembilan item.

Tuduhan itu, antara lain seruan (provokasi) penculikan dan pembunuhaan terhadap serdadu-serdadu Israel, pendirian gerakan Hamas beserta sayap militer, dan dinas keamanannya.

Di samping menderita kelumpuhan total, Syekh Yassin juga menderita beberapa penyakit lain. Di antaranya, kebutaan di mata kirinya dan lemah pandangan di mata kanannya akibat penyiksaan yang dialaminya saat menjalani penyidikan, menderita radang telinga cukup kronis, alergi paru-paru, serta beberapa penyakit dan peradangan dalam dan usus.

Kondisi penahanan yang buruk membuat kesehatan Syekh Yassin makin merosot, sehingga harus dipindahkan ke rumah sakit beberapa kali. Kondisi kesehatannya terus menurun akibat penahanan dan tidak adanya pelayanan kesehatan yang memadai.

Pada tanggal 13 Desember 1992, sekelompok sukarelawan berani mati (fida'i) dari Brigade Izzuddin Al-Qassam menculik seorang serdadu militer Israel. Brigade Al-Qassam menuntut pelepasan serdadu Israel tersebut dengan kompensasi pembebasan Syekh Yassin dan beberapa tawanan di penjara rezim Israel. Di antara mereka ada yang sedang menderita sakit, orang lanjut usia, serta beberapa tawanan Arab yang ditangkap militer Israel di Lebanon.

Namun, pihak Israel menolak tuntutan tersebut, bahkan balik melancarkan serangan ke lokasi penahanan serdadu Israel tersebut sehingga menyebabkan kematian komandan pasukan Israel dalam penyerangan tersebut.

Rabu pagi, tanggal 1 Oktober 1997, Syekh Yassin dibebaskan berkat perjanjian yang berlangsung antara pemerintah Yordania dan Israel, dengan kompensasi penyerahan dua orang mata-mata zionis yang tertangkap di Yordania setelah mereka gagal dalam upaya pembunuhan terhadap Khalid Mishal, Kepala Biro Politik Hamas di Amman.

Kesederhanaan Sang Mujahid
Di kalangan orang-orang terdekatnya, Syekh Ahmad Yassin dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan bersahaja. Kedua sifatnya ini tak hanya ditujukan kepada orang Muslim saja, tetapi juga orang-orang non-Muslim.

Mengenai ini, suatu ketika ada seorang penganut Kristen di Kota Ramallah, Tepi Barat, datang menemuinya. Orang yang kemudian diketahui bernama Bassam Hana Rabbah ini mengadukan permasalahannya kepada Syekh Yassin karena ada seseorang di Gaza melakukan penipuan terhadap dirinya.

Syekh Yassin yang juga merupakan pimpinan Dewan Islah dengan bijaksana mampu mendamaikan antara orang Kristen tersebut dengan seseorang yang telah melakukan penipuan.

''Syekh meresponsnya dengan serius, bahkan mampu bersikap adil terhadapku. Hak-hak saya pun bisa kembali saya nikmati. Sebagai tanda terima kasih, sebagian hartaku diberikan kepada Dewan Islah,'' tutur Hana Rabbah.

Sebagai seorang pemimpin sebuah gerakan Islam terbesar, Syekh Yassin tidak cinta dunia, tidak gila harta, bahkan kehidupannya sangat sederhana. Salah seorang anaknya, Mariyam Ahmad Yassin, menceritakan tentang sikap hidup sang tokoh karismatik ini.

''Rumah ayah terdiri dari tiga kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Tidak ada lantai, dapur pun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Begitu pun jika musim panas, kami kepanasan.''

Menurut Mariyam, ayahnya adalah sosok yang tidak cinta dunia, namun cinta akhirat. Syekh Yassin tidak peduli dengan berbagai ragam bentuk kesenangan duniawi. Banyak yang menawarinya rumah mewah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya.

Bahkan, pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza, namun tawaran itu pun ditolak. Kendati demikian, lanjut Mariyam, ayahnya sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumahnya di akhirat.

''Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surga-Nya nanti. Untuk itulah, kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau,'' ujar Mariyam.

Bahkan, ketika akan menikah pun, Syekh Yassin tak mau buru-buru. Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya secara matang. Dan setelah mendapatkan pekerjaan tetap sebagai seorang guru dan mapan secara finansial, Syekh Yassin memutuskan untuk menikah dengan salah seorang kerabat dekatnya, Halima Yassin.

Pasangan ini menikah pada tahun 1960, dan saat itu usia Syekh Yassin baru menginjak 22 tahun. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang putri.

republika.co.id