12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Miqdad, Pemikir Ulung dan Hati yang Tulus

Miqdad, Pemikir Ulung dan Hati yang Tulus

Fiqhislam.com - Meski menjadi salah satu dari tujuh orang pertama yang menyatakan keislaman secara terbuka atau terang-terangan, nama Miqdad mungkin lebih jarang diceritakan dibandingkan kisah sahabat-sahabat Rasulullah SAW lainnya. Kisah Miqdad nyatanya tak jauh berbeda dengan Bilal bin Rabbah.

Miqdad yang sejatinya merupakan seorang pemikir ulung harus menanggung penderitaan atas siksaan yang diterimanya dari kaum Quraisy. Namun berkat pemikiran dan hati yang tulus pada Islam, Miqdad yang serta merta meninggalkan keyakinannya hanya karena siksaan yang menimpanya. Sebaliknya, Miqdad semakin meneguhkan keyakinan pada agama yang dibawa Rasulullah SAW.

Hingga suatu hari, Rasulullah mengamanatkan Miqdad untuk memimpin suatu daerah dan melantiknya sebagai seorang Amir (pemimpin). Miqdad pun mengemban amanat tersebut dengan sangat baik, hingga sampai suatu ketika saat Miqdad kembali dari tugasnya, Rasulullah bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang menjadi amir."

Dengan jawaban yang jujur, Miqdad mengatakan bahwa dia tidak ingin meneruskan amanat sebagai amir. Keputusan ini diambil, karena menurut dia dengan menjadi pemimpin kedudukannya berada di atas dari orang lain. Berbeda dengan kebanyakan orang yang ingin menempati posisi tertinggi, Miqdad justru tidak menginginkan hal itu.

"Anda telah menjadikanku menganggap diriku berada di atas semua manusia. Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sejak saat ini aku tidak berkeinginan lagi menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya," ucap Miqdad, dikutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul karangan Ummu Akbar.

Semenjak menempati posisi sebagai Amir, Miqdad memang selalu dikelilingi oleh kemewahan dan sanjungan dari banyak orang. Namun hal tersebut dipahaminya sebagai suatu kelemahan yang dapat menjauhkannya dari agama.

Miqdad akhirnya memantapkan diri untuk menghindarinya dengan cara mundur dari jabatannya sebagai Amir, meskipun sebelumnya Miqdad telah menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan baik. Maka dari itu, saat Rasulullah menawarkan kembali jabatan tersebut, Miqdad menolaknya.

Meski begitu, kecintaan Miqdad terhadap Islam sangat besar. Dia memiliki tanggung jawab penuh terhadap bahaya yang selalu mengancam, baik dari tipu daya musuh maupun kekeliruan kawan sendiri. [yy/republika]

 

Miqdad, Pemikir Ulung dan Hati yang Tulus

Fiqhislam.com - Meski menjadi salah satu dari tujuh orang pertama yang menyatakan keislaman secara terbuka atau terang-terangan, nama Miqdad mungkin lebih jarang diceritakan dibandingkan kisah sahabat-sahabat Rasulullah SAW lainnya. Kisah Miqdad nyatanya tak jauh berbeda dengan Bilal bin Rabbah.

Miqdad yang sejatinya merupakan seorang pemikir ulung harus menanggung penderitaan atas siksaan yang diterimanya dari kaum Quraisy. Namun berkat pemikiran dan hati yang tulus pada Islam, Miqdad yang serta merta meninggalkan keyakinannya hanya karena siksaan yang menimpanya. Sebaliknya, Miqdad semakin meneguhkan keyakinan pada agama yang dibawa Rasulullah SAW.

Hingga suatu hari, Rasulullah mengamanatkan Miqdad untuk memimpin suatu daerah dan melantiknya sebagai seorang Amir (pemimpin). Miqdad pun mengemban amanat tersebut dengan sangat baik, hingga sampai suatu ketika saat Miqdad kembali dari tugasnya, Rasulullah bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang menjadi amir."

Dengan jawaban yang jujur, Miqdad mengatakan bahwa dia tidak ingin meneruskan amanat sebagai amir. Keputusan ini diambil, karena menurut dia dengan menjadi pemimpin kedudukannya berada di atas dari orang lain. Berbeda dengan kebanyakan orang yang ingin menempati posisi tertinggi, Miqdad justru tidak menginginkan hal itu.

"Anda telah menjadikanku menganggap diriku berada di atas semua manusia. Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sejak saat ini aku tidak berkeinginan lagi menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya," ucap Miqdad, dikutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul karangan Ummu Akbar.

Semenjak menempati posisi sebagai Amir, Miqdad memang selalu dikelilingi oleh kemewahan dan sanjungan dari banyak orang. Namun hal tersebut dipahaminya sebagai suatu kelemahan yang dapat menjauhkannya dari agama.

Miqdad akhirnya memantapkan diri untuk menghindarinya dengan cara mundur dari jabatannya sebagai Amir, meskipun sebelumnya Miqdad telah menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan baik. Maka dari itu, saat Rasulullah menawarkan kembali jabatan tersebut, Miqdad menolaknya.

Meski begitu, kecintaan Miqdad terhadap Islam sangat besar. Dia memiliki tanggung jawab penuh terhadap bahaya yang selalu mengancam, baik dari tipu daya musuh maupun kekeliruan kawan sendiri. [yy/republika]

 

Miqdad bin Amr

Miqdad bin Amr, Mujahid Ulung dan Filsuf


Fiqhislam.com - Miqdad bin Amr termasuk golongan yang pertama kali masuk Islam. Dia juga adalah orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan dari amrah murka dan kekejaman kaum Quraisy.

Keberanian dan perjuangannya di medan perang Badar akan selalu diingat oleh kaum muslimin sampai saat ini.

Bahkan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini…”

Miqdad bin Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar karena kakuatan musuh yang begitu dahsyat.

Miqdad berkata, “Ya Rasulullah… Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda! Demi Allah kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah”, sedang kami akan mengatakan kepada Engkau, “Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu”. Demi yang telah mengutus Engkau membawa kebenaran! Seandainya Engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan…”

Kata-katanya mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad.

Dia seorang filsuf dan pemikir. Hikmat dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Diantara manifestasi filsafatnya adalah beliau tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjatuhkan putusan atas sesuatu persoalan. Dan ini dipelajari dari Rasulullah .

Dari percakapannya dengan seorang sahabat dan seorang tabiin berikut ini, menunjukkan kemahirannya dalam berfilsafat dan ia berhak menyandang gelar seorang filsuf.

Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk ke dekat Miqdad. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki, dan berkata kepada Miqdad, “Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah ! Demi Allah, andainya aku bisa melihat apa yang Engkau lihat, dan menyaksikan apa yang Engkau saksikan.”

Miqdad berkata, “Apa yang mendorong kalian untuk menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya?”

“Demi Allah bukankah pada masa Rasulullah banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya di neraka jahanam? Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebgai orang-orang yang beriman kepada Allah dan nabi kalian?”

Inilah suatu hikmah yang diungkapkan Miqdad, memang tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali ia dapat hidup di masa Rasulullah dan hidup bersamanya. Tetapi pandangan Miqdad tajam dan dalam, pemikirannya dapat menembus sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang sedikitpun.

Itulah pandangan Miqdad, yang memancarkan hikmah dan filsafat. Tidak diragukan lagi Miqdad memang seorang filsuf dan pemikir ulung. [yy/republika]