9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Rumaisha binti Mulhan, Tidak Rela Keimanan Ditukar Dengan Cinta Manusia

Rumaisha binti Mulhan, Tidak Rela Keimanan Ditukar Dengan Cinta Manusia

Fiqhislam.com - Tatkala seorang pria nan gagah, berkedudukan  dan kaya melamarnya, Sayyidah Rumaisha’ mengajukan satu pertanyaan. Sudah Islam atau belum? Berlimpahnya harta tidak membuatnya silau dan mencampakkan agama Allah. Baginya, kekayaan yang paling hakiki adalah Islam.

Nama lengkapnya adalah Rumaisha binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin Jaram bin Jundab al-Anshariyyah al-Khazra jiyyah. Banyak sekali sikap kepahlawanan dalam dirinya yang menunjukkan keberanian, kekesatriaan, kekuatan iman dan keteguhannya yang begitu kokoh terhadap ajaran agama Islam. Agama Islam menjadi bagian dari seluruh hidupnya. Di antara sikap kepahlawanannya itu adalah:

Tidak Rela Keimananya Ditukar dengan Cinta
Rumaisha adalah salah satu wanita yang dijanjikan masuk surga. Orang yang pertama kali merintangi dirinya untuk memeluk Islam adalah suaminya sendiri, Malik bin Nadhr. Suaminya begitu murka dan kecewa ketika mengetahui bahwa istrinya telah memeluk Islam, namun malah membuatnya kian berteguh hati dan semakin lantang mengucapkan “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Setelah suaminya meninggal, banyak sekali pria yang berusaha memikat hati Rumaisha. Banyak orang yang kagum terhadap ibunya Anas bin Malik itu, hingga sampai terdengar oleh Abu Thalhah.

Abu Thalhah berniat menikahi Rumaisha, dan dia pun datang menemuinya dan memberikan mahar yang sangat mahal.  Akan tetapi Rumaisha menolaknya dengan alasan dia tidak mau menikah dengan seorang pria musyrik. Saat itu Abu Thalhah masih belum beriman. Ketika Abu Thalhah kembali kepadanya, dia berkata, “Tidak layak bagiku menikah dengan seorang pria musyrik. Tahukah kamu wahai Abu Thalhah bahwa tuhan kalian dipahat oleh bani fulan.  Jika kalian menyalakan api pada patung itu maka niscaya patung-patung itu akan terbakar.

Setelah itu Abu Thalhah kembali melamarnya. Rumaisha hanya menjawab, “Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu sebenarnya tidak layak untuk ditolak., akan tetapi engkau adalah seorang kafir, sedangkan aku adalah seorang wanita muslimah. Aku tidak bisa menikah denganmu.” Dia melanjutkan, “Mahar yang aku minta darimu adalah Islam jika kamu memang ingin menikahiku, wahai Abu Thalhah.”

Abu Thalhah pun lalu pergi mencari Rasulullah untuk menyatakan diri memeluk Islam. Akhirnya Rumaisha pun menikah dengannya. Demikianlah, Abu Thalhah memeluk Islam berkat istrinya, Rumaisha, yang terlebih dahulu menolak untuk dinikahi hingga suaminya itu mau mengucapkan  syahadat “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Abu Thalhah menuruti persyaratan tersebut dan memeluk Islam berkat sikap kepahlawanan yang ditunjukkan oleh Rumaisha. Sikapnya itu membuktikan kekuatan iman dan keberaniannya.

Terlibat di Perang Hunain dan Langkah Kaki
Bukan sikap Rumaisha  itu saja yang mengagumkan. Dia pun sangat berperan dalam menyebarkan dakwah Islam dan menghadapi musuh-musuh Islam. Pada saat perang Hunain dia membawa sebilah pedang dan turun langsung ke medan pertempuran. Disamping itu  dia memberikan minuman kepada para pejuang dan mengobati mereka yang terluka.

Ketika Abu Thalhah melihat Rumaisha membawa sebilah pedang, dia bertanya kepadanya, “Mengapa engkau membawa pedang itu?” Rumaisha menjawab, “Jika ada seorang musrik mendekat kepadaku maka akan aku robek isi perutnya.” Hal itu diberitahukan oleh Abu Thalhah kepada Rasulullah. Rumaisha dengan enteng berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, jika seorang musrik mendekat kepadaku maka akan aku robek perutnya.”

Dari Anas, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah pernah bersabda,”Aku pernah memasuki surga, lalu aku mendengar langkah kaki di hadapanku. Ternyata di hadapanku ada Ghumaisha (Rumaisha) binti Mulhan.”(HR. Muslim)  [yy/eramuslim]