30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Makna Itqan dalam Mengerjakan Suatu Amalan

Makna Itqan dalam Mengerjakan Suatu Amalan

Fiqhislam.com - Itqan adalah istilah yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan amal perbuatan seorang muslim. Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW amat menganjurkan umatnya untuk beramal secara itqan.

Mengutip buku Manajemen Pendidikan Islam Kontemporer yang disusun oleh Muh. Hambali dan Mualimin, itqan (al-itqan).

Arti Itqan Menurut Istilah

Itqan adalah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dalam hal bekerja, orang yang itqan akan mengerjakan segala sesuatu dengan hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan bukan seadanya atau asal terlaksana.

Imam al-Ghazali dalam buku Agar Keinginan Cepat Terkabul mendefinisikan itqan adalah mencurahkan pikiran terbaik, fokus terbaik, koordinasi terbaik, semangat terbaik dengan bahan baku terbaik.

Rasulullah SAW amat menghargai orang yang mau bekerja apapun pekerjaannya. Dalam sebuah riwayat, beliau pernah bersabda, "Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian ia membawa seikat kayu di punggungnya lantas dijualnya, maka dengan itu Allah menjaga dirinya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka yang diminta itu memberikan atau menolaknya," (HR Bukhari dan Muslim).

Contoh Itqan dalam Kehidupan Sehari-hari

Itqan dapat diterapkan dalam mengerjakan suatu amalan atau bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz al-Anshari.

Rasulullah SAW melihat tangan Sa'ad melepuh, kulitnya gosong dan nampak kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. Beliau bertanya, "Kenapa tanganmu?". Sa'ad menjawab, "Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencarfi nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku."

Rasulullah SAW lalu meraih tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata, "Inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api neraka."

Kisah mengenai bekerja dengan sungguh-sungguh ini terdapat dalam sejumlah riwayat. Dalam hadits At Thabrani dan Al Baihaqi, Rasulullah SAW juga bersabda, "Barangsiapa yang di waktu sorenya merasa kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapatkan ampunan."

Dalam buku Panggilan Allah SWT dalam Al Qur'an untuk Orang Beriman karya Muslimin Ibrahim dijelaskan, betapa ruginya seorang muslim yang mengerjakan sesuatu seadanya saja. Muslimin berpesan untuk menyempurnakan setiap pekerjaan.

"Sempurnakan ikhtiar, berikan semuanya, sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita," jelas Muslimin Ibrahim.

Syaikh Ridha Shamadi dalam bukunya 30 Ways to Serve Religion mengatakan, orang yang berakal budi selalu berusaha untuk itqan dalam bekerja dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Ia menambahkan, selain diperintahkan dalam agama, itqan juga merupakan ciri-ciri pribadi yang sempurna. Di mana, kesungguhan dalam beramal merupakan cerminan dari kesempurnaan pribadi.

Dalam hal ibadah, perilaku itqan dapat diimplementasikan ketika mengerjakan salat, puasa, hari, dan kewajiban-kewajiban lainnya yang harus ditunaikan. Menurut Syaikh Ridha Shamadi, itqan ini berlaku di segala aspek hukum syariat. [yy/kristina/detik]