24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Beban Bumi Semakin Berat

Beban Bumi Semakin Berat

Fiqhislam.com -  Angka-angka penduduk bumi berikut ini adalah perkiraan belaka, tetapi menarik untuk dicatat yang diramu dari berbagai sumber.

Dari PRB (Population Reference Bureau) Amerika Serikat, sampai tahun 2016 manusia yang pernah hidup di muka bumi berjumlah 108, 2 miliar. Sebagian besar telah mati ditelan tanah. Tahun 1900, jumlah manusia seluruhnya adalah 1,5 miliar; tahun 2017 ada pada angka 7,6 miliar; tahun 2021 angka itu naik menjadi 7.854.965.732. Menurut perkiraan PBB, tahun 2050 akan melonjak menjadi 9,8 miliar.

Bagaimana dengan umat Muslim tahun 2050? Akan ada pergeseran angka yang perlu disimak. Jika pada 2021 ini penduduk Muslim terbesar masih berada di Indonesia. Tahun 2050 akan disalib oleh Muslim India dan Pakistan, maka jumlah Muslim India menjadi yang terbesar (310,66 juta), Pakistan (273,11 juta), Indonesia (256,82 juta), Bangladesh (182,36 juta).

Dengan perubahan demografis ini, dalam tempo 29 tahun yang akan datang, akuan bahwa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi akan menjadi kenangan belaka.

Dari 9,8 miliar penduduk bumi pada 2050, umat Muslim 2,76 miliar jiwa, sedangkan umat Kristen akan berada pada angka 2,92 miliar, menurut Global Religious Futures. Karena pertambahan penduduk Muslim cenderung semakin meninggi, maka dalam perjalanan waktu, selisih umat Kristen dan umat Muslim di dunia menjadi menyempit. Berapa pula penganut Hindu dan Buddha? Menurut Pew Research Center, pada 2050, Hindu pada angka 1,032 miliar, Buddha 500 juta.

Tanpa kecuali, semua agama itu juga terpecah ke dalam sekte-sekte atau mazhab. Bahkan dalam satu mazhab, terdapat pula aliran-aliran pemikiran yang berbeda, sehingga menjadi sulit mempertahankan kesatuan. Fenomena ini sudah berlangsung selama berabad-abad.

Di kalangan umat Muslim pun, bukan saja berbeda dalam mazhab, peperangan sesama mereka masih saja berlangsung sampai hari ini dengan penyebab yang serba-artifisial. Gempuran pasukan Arab Saudi atas Yaman adalah yang paling brutal dilakukan pada era kita ini.

Kita tidak tahu, untuk peperangan sesama Muslim pada masa yang akan datang. Jika berpedoman kepada sejarah, perang itu masih akan terus berlaku.

Kembali kepada beban bumi. Menurut perkiraan PBB, penduduk bumi pada tahun 2100 akan mencapai angka 11,2 miliar. Sekarang rata-rata pertambahan penduduk bumi sekitar 83 juta per tahun. Kecenderungan ini akan terus berlanjut, sekalipun sejak 1960-an angka kelahiran mengalami penurunan.

PBB juga memperkirakan pada 2050 itu, jumlah penduduk India akan menggeser Cina dan Nigeria akan menggeser Amerika Serikat yang sekarang berada pada posisi ketiga setelah Cina dan India.

Melihat kecenderungan pertambahan jumlah penduduk ini, separuh dari penduduk bumi, di luar Cina, akan terpusat pada sembilan negara: India, Indonesia, Nigeria, Kongo, Pakistan, Etiopia, Tanzania, Amerika Serikat, dan Uganda. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia pasti akan dihadapkan kepada masalah kependudukan yang semakin rumit.

Pulau Jawa yang sekarang dihuni oleh sekitar dua pertiga penduduk Indonesia, pada tahun 2100 itu (79 tahun lagi) belum dapat dibayangkan betapa sesaknya, sementara lahan pertanian sekarang saja sudah berubah menjadi permukiman.

Abad yang lalu, seingat saya, Prof Sumitro Djojohadikusumo pernah mengatakan bahwa Pulau Jawa bisa berubah menjadi gurun pasir, bilamana strategi penggunaan lahan dibiarkan menjadi semakin liar.

Angka 79 tahun itu tidak terlalu lama. Pertanyaan saya: apakah para politikus sekarang yang mulai sibuk dengan Pemilu 2024 mau membaca pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin membengkak itu? Jika mentalitas rabun ayam tidak juga berubah di kalangan mereka, Indonesia yang akan datang sudah bisa diperkirakan dari sekarang akan berada pada tanda tanya besar.

Sekarang saja, kerusakan alam nusantara sudah sangat mencemaskan. Tentu para pengusaha yang juga rabun ayam turut bertanggung jawab atas kemungkinan nasib buruk negeri ini dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi.

Oleh sebab itu, imbauan saya kepada generasi milenial yang menjadi pewaris Indonesia masa depan, pahami dengan baik dan jujur perjalanan bangsa dan negara ini untuk tidak mengulangi kecerobohan generasi yang nyaris punah ini.

Anda semua akan hidup dalam suasana yang lain sama sekali. Perkembangan teknologi informasi akan mengubah segala-galanya, sedangkan perubahan sosial akan pontang-panting karena tidak mampu mengikutinya.

Di atas itu semua, penguasa alam semesta ini bukanlah jenis manusia, melainkan Zat Gaib yang tak terjangkau oleh kekuatan persepsi intelektual kita yang sangat terbatas ini. Bagaimana ujungnya nasib bumi yang sudah sarat dengan beban ini juga nasib planet lain yang jumlahnya jutaan itu, tak seorang pun yang tahu.

Kehidupan di bumi adalah sebuah drama dahsyat yang tidak mudah dipahami. Namun, bahwa kiamat pasti akan datang sebagaimana Alquran dalam banyak ayat telah memberi tahu, tampaknya ilmu pengetahuan juga sudah menyimpulkan demikian. [yy/republika]

Oleh Ahmad Syafi'i Maarif