10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Tanda-Tanda Allah Menghendaki Kebaikan bagi Kita

Tanda-Tanda Allah Menghendaki Kebaikan bagi Kita

Fiqhislam.com - Mari kita kenali tanda-tanda Allah Swt menghendaki kebaikan pada diri kita. Beberapa tanda tersebut ada yang buruk dalam pandangan dan menurut perasaan manusia.

Dengan mengenali tanda-tandanya, insya Allah bisa membantu diri kita dan orang-orang terdekat dengan kita tidak larut dalam kesedihan jika mendapatkan “keburukan”, yang sejatinya merupakan tanda Allah Swt menghendaki kebaikan. Sebaliknya, kita merasa bahagia, lebih dari itu kita bisa bersabar, ridha dan bersyukur.

Mengenai tanda-tanda bahwa Allah Swt menghendaki kebaikan pada seseorang, Rasulullah Saw telah memberikan penjelasan. Rasulullah Saw bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan Allah menjadikan dia paham dalam agama.” (HR: Bukhari dan Muslim).

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Allah menyegerakan hukuman untuknya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Allah menahan azab baginya akibat dosanya, sampai Allah memberikan azab secara penuh pada hari Kiamat.” (HR: At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik).

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah jadikan ia beramal.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Rasulullah Saw bersabda, “Dibukakan untuknya amalan saleh sebelum meninggal, hingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridho kepadanya.” (HR: Imam Ahmad).

من يرد الله به خيرا يصب منه

Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan, Allah menimpakan padanya musibah.” (HR: Bukhari).

Demikian pula para ulama salaf telah menjelaskan hal ini, di antaranya Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dan Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi rahimahullah, yang merupakan seorang ulama hadits dan salah seorang dari Tabi’in. Imam Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah menuturkan dalam kitabnya yang indah Al-Wabilush Shayyib (hlm. 7), yang artinya:

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah membukakan untuknya pintu rendah diri, ketidakberdayaan, selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan terus-menerus merasa butuh kepada-Nya. Ia menyadari aib-aib, kebodohan dan kezalimannya. Di samping itu, ia menyadari karunia, ihsan, rahmat, kedermawanan, kebaikan, kekayaan dan kedudukan yang terpuji dari Rabbnya. Maka orang yang mengenal (Allah) akan berjalan menuju kepada Allah dengan kedua sayap (sikap) ini. Dia tidak mampu berjalan kecuali dengan keduanya. Ketika salah satu dari keduanya hilang, maka dia bagaikan seekor burung yang kehilangan salah satu sayapnya.”

Di dalam dua kitab lainnya, yakni Al-Fawaid (hlm. 99) dan Thariqul Hijratain (hlm. 277), beliau juga memberikan penjelasan mengenai hal ini, yang artinya: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia menjadikannya mengakui dosanya, menahan diri dari membicarakan dosa orang lain, dermawan dengan apa yang dia miliki, tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain, dan sabar menghadapi gangguan orang lain. Jika Allah menghendaki keburukan baginya, Dia memberikan kebalikan dari semua keadaan itu.’’

Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia mencabut dari hatinya untuk memandang sempurna amal-amal shalehnya dan menceritakan amal-amal shalehnya kepada orang lain. Selain itu Allah menjadikannya sibuk memperhatikan dosanya.”

Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi rahimahullah berkata dalam kitabnya Shifatush Shafwah (2/78), yang artinya: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah menjadikannya memiliki tiga tabiat yang terpuji: paham dalam agama, zuhud terhadap dunia dan memperhatikan aib-aibnya.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah Swt yang Dia kehendaki kebaikan, meskipun sebagian di antara tandanya merupakan “keburukan”. [yy/hidayatullah]

Oleh Abdullah al-Mustofa
Pelayan di Pusat Kajian Strategis Pendidikan Islam Indonesia (PKSPII) Kampung Inggris Jawa Timur