22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Empat Sifat Orang Bertakwa Menurut Al-Quran

Empat Sifat Orang Bertakwa Menurut Al-Quran

Fiqhislam.com - Alquran menerangkan empat sifat orang bertakwa. Di antaranya orang yang berinfak di waktu lapang dan sempit, orang yang dapat menahan amarahnya, orang yang dapat memaafkan kesalahan orang lain, dan orang yang berbuat kebaikan.

Hal ini dijelaskan dalam Surat Ali Imran Ayat 134 dan tafsirnya.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

"(Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran: 134)

Tafsir Kementerian Agama menerangkan, ayat ini langsung menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa.

Sifat pertama, orang yang selalu menafkahkan hartanya baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan kesempitan (miskin), sesuai dengan kesanggupannya.

Menafkahkan harta itu jumlahnya tidak ditentukan sehingga ada kesempatan bagi orang miskin untuk memberi nafkah. Bersedekah boleh saja dengan barang atau uang yang sedikit nilainya karena hanya itu yang dapat diberikan, dan tetap akan memperoleh pahala dari Allah SWT.

Bagi orang kaya dan berkelapangan tentu sedekah dan dermanya harus disesuaikan dengan kesanggupan. Sungguh amat janggal bahkan memalukan bila seorang yang berlimpah-limpah kekayaannya memberikan derma dan sedekah sama banyaknya dengan pemberian orang miskin. Ini menunjukkan kesadaran memberi nafkah belum tertanam di dalam hatinya.

Allah berfirman, hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.

Sifat kikir yang tertanam dalam hati manusia hendaklah diberantas dengan segala macam cara dan usaha karena sifat ini adalah musuh masyarakat nomor satu. Tidak ada satu umat pun yang dapat maju dan hidup bahagia kalau sifat kikir ini merajalela pada umat itu.

Sifat kikir bertentangan dengan perikemanusiaan. Oleh sebab itu Allah memerintahkan untuk menafkahkan dan menjelaskan harta yang ditunaikan zakatnya dan didermakan sebagiannya tidak akan berkurang bahkan akan bertambah.

Sifat kedua, orang yang menahan amarahnya. Biasanya orang yang menuruti amarahnya tidak dapat mengendalikan akal pikirannya dan akan melakukan tindakan-tindakan kejam serta jahat.

Apabila dia sadar pasti menyesali tindakan yang dilakukannya itu dan dia akan merasa heran mengapa ia bertindak sejauh itu. Oleh karenanya, bila seseorang dalam keadaan marah hendaklah ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa amarahnya lebih dahulu.

Apabila ia telah menguasai dirinya kembali dan amarahnya sudah mulai reda, barulah ia melakukan tindakan yang adil sebagai balasan atas perlakuan orang terhadap dirinya. Apabila seseorang telah melatih diri seperti itu, maka dia tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas, bahkan dia akan menganggap perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya itu mungkin karena khilaf dan tidak disengaja dan ia akan memaafkannya.

Allah menjelaskan menahan amarah itu suatu jalan ke arah takwa. Orang yang benar-benar bertakwa pasti akan dapat menguasai dirinya pada saat sedang marah.

Sifat ketiga, orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Memilih memaafkan kesalahan orang lain sedang kita sanggup membalasnya dengan balasan yang setimpal adalah suatu sifat yang baik yang harus dimiliki oleh setiap Muslim.

Mungkin hal ini sulit dipraktikkan karena sudah menjadi kebiasaan bagi manusia membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi bagi manusia yang sudah tinggi akhlak dan kuat imannya serta telah dipenuhi jiwanya dengan ketakwaan, maka memaafkan kesalahan itu mudah saja baginya. Mungkin membalas kejahatan dengan kejahatan masih dalam rangka keadilan, tetapi harus disadari membalas kejahatan dengan kejahatan tidak dapat membasmi atau melenyapkan kejahatan itu.

Mungkin dengan adanya balas membalas itu kejahatan akan meluas dan berkembang. Bila kejahatan dibalas dengan maaf dan sesudah itu diiringi dengan perbuatan yang baik, maka yang melakukan kejahatan itu akan sadar dia telah melakukan perbuatan sangat buruk dan tidak adil terhadap orang yang bersih hatinya dan suka berbuat baik. Dengan demikian, dia tidak akan melakukannya lagi dan tertutuplah pintu kejahatan.

Sifat keempat, orang yang berbuat baik. Berbuat baik termasuk sifat orang yang bertakwa. Maka di samping memaafkan kesalahan orang lain hendaklah memaafkan itu diiringi dengan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan. [yy/republika]