Fiqhislam.com - Dalam beragama Jeremy Ben Royston Boulter, seorang penganut Katolik, berkeyakinan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya.
Dan sebaliknya, manusia tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan-Nya. Prinsip itu ia jaga saat mencari kebenaran hakiki.
Jeremy dilahirkan memang dilahirkan dalam keluarga Katolik. Akan tetapi ia tidak memercayai Yesus sebagai Tuhan, dan Maria sebagai Ibu Tuhan. Menurutnya, Yesus dan Bunda Maria hanyalah penghubung Sang Pencipta.
"Saya merasa frustasi dengan Perjanjian Lama. Terlalu banyak kejanggalan. Misalnya saja, Tuhan menganggap Yerusalem sebagai istrinya, dan apa yang dipercaya membuat keduanya berposisi sejajar. Tetapi, Tuhan memanggilnya pelacur, dan memintanya agar bertobat. Bagaimana ini?" kata dia.
Jeremy menduga Alkitab merupakan dalih gereja untuk tujuan tertentu. Merasa tak menerima logika yang dibangun Alkitab, ia memilih untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Ia pelajari sejarah Perang Salib, termasuk manuver Paus saat membangun kekuatan dan kekuasaan di Eropa melalui Portugis dan Spanyol. Ia juga mempelajari pemerintahan teror ala Machiavelli.
"Dari apa yang saya baca, saya melihat upaya gereja menahan dan menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Saya percaya Tuhan versi Alkitab adalah palsu, dirancang untuk membohongi banyak orang demi kekuasaan," ucapnya.
Dalam pemahaman Jeremy, Tuhan versi Alkitab adalah sosok yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Ia membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya. Jadi, Jeremy sulit menerima logika ini.
Pemahaman itu kian menguat ketika ia banyak membaca fiksi ilmiah dan teori konspirasi primitif. Menurutnya, pemikiran Erich Von Daniken (Chariots of The Goods) dan Charles Berlitz dan William Moore (The Philadelphia Experiment) membuka pikirannya bahwa ada semacam konpirasi yang dilakukan kalangan elite dan pemerintah terhadap masyarakat awam.
Namun, tidak setiap negara dan pemerintahan terlibat dalam konspirasi besar. "Saya membutuhkan perbandingan guna mendapatkan kesimpulan yang pasti. Maka saya jadikan Hindu dan Buddha sebagai bahan perbandingan," kata dia.
Jeremy mulai mempelajari Hindu. Ia ikuti ritual dalam agama tersebut seperti meditasi. Selama meditasi ia merasa tenang, tapi ketika bicara bagaimana dunia dan manusia tercipta, ia merasa aneh.
"Mereka bicara tentang kosmos, evolusi dan reinkarnasi. Jelas, saya segera meninggalkan agama ini," tuturnya.
Usai mendalami ajaran Hindu, ia eksplorasi ajaran Buddha. Dalam kepercayaan Buddha, Jeremy menyimpulkan, setiap manusia mencari pencerahan dan kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Pencerahan ini meniadakan ego. "Saya melihat agama ini lebih banyak bicara filsafat," kata dia.
Jeremy menyimpulkan ajaran Budha seperti konsep dalam pemikiran Karl Marx. Menurut Marx, agama itu adalah candu bagi masyarakat. Karena sifat candu itu, mereka (umat beragama) dikendalikan oleh kelompok elite dalam masyarakat.
Merasa telah memahami ajaran Buddha, ia dalami Toteisme. Jeremy perlu melihat sistem kepercayaan kuno ini guna menarik benang merah dari proses beragama di dunia. Dalam Totemisme, semua hal memiliki penghubung.
Dalam buku James Lovelock, The Revenge of Gaia, disebutkan bahwa bumi adalah sosok yang harus dihormati, mampu membimbing dan melindungi manusia. Namun bagi Jeremy, bumi itu terlalu sempit. Sebab, di luar bumi terhadap langit yang begitu luas.
Guna mendapatkan esensi "penghuni" langit. Jeremy banyak membaca tentang astrologi. Melalui astrologi, ia berusaha memahami mengapa posisi benda langit akan menentukan nasib makhluk. "Untuk sementara, saya menjadi peramal amatir," ujarnya sembari tersenyum.
Suatu ketika, Jeremy bertemu dengan seorang pria. Ia tak ingat siapa namanya. Yang pasti, pria itu berasal dari Irlandia, penganut Katolik Roma. Ketika bertemu dengannya, Jeremy tengah membaca buku karya Stewart Farrar, Omega. Sepanjang hari mereka berdua berbicara panjang lebar tentang konsep Tuhan.
Pria Irlandia itu setuju dengan pemahaman Jeremy soal kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Jeremy berpendapat segala isi alam memiliki sistemnya sendiri, tetapi ada satu hukum yang membuatnya berjalan seiring sejalan dan harmonis. Sebuah hukum semesta yang dikendalikan sosok yang berkuasa dan berkekuatan Mahadahsyat.

