pustaka.png
basmalah.png.orig


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Lee Kang Hyun: 'Pak Haji' dari Samsung yang Cinta Mati Indonesia

Lee Kang Hyun: 'Pak Haji' dari Samsung yang Cinta Mati Indonesia

Fiqhislam.com - Orang Indonesia cinta Tanah Airnya tentu suatu yang biasa. Tapi bila orang asing yang cinta mati dengan Indonesia, barulah terdengar lebih istimewa.

Ya, banyak warga negara asing yang datang ke Indonesia mulanya hanya untuk bekerja atau wisata. Setelah menginjakkan kaki di sini, mereka malah enggan pulang dan memutuskan untuk mengabdikan dirinya untuk kemajuan negeri ini.

Salah satunya Lee Kang Hyun, Vice President Samsung Electronic Indonesia. Lantaran sudah menetap selama 15 tahun, Lee tak hanya fasih berbahasa Indonesia, ia juga paham betul kebudayaan dan karakteristik masyarakatnya yang majemuk. "Saya itu setengah Korea, setengah Indonesia," ujarnya saat berbincang dengan detikINET saat ditemui di kantornya.

Kecintaan Lee dengan Indonesia berawal dari ajang sahabat pena. Salah satu temannya berasal dari Indonesia. Pada 1989, ia memutuskan untuk mengunjungi sahabat penanya tersebut.

Sambutan hangat dan keramahan keluarga sahabat penanya membuat dirinya betah berlama-lama tinggal di Indonesia. Dan saban tahun, ia pun bertandang ke rumah sahabatnya tersebut. "Ketika pulang ke Korea, mereka sering muncul di dalam mimpi saya. Benar-benar ingat terus," cerita Lee.

"Senyuman orang Indonesia juga paling membekas. Waktu itu mungkin orang asing tidak begitu banyak. Tapi orang-orang di sini tak segan membantu," lanjutnya. Untuk memudahkan berkomunikasi, Lee mempelajari bahasa Indonesia. Ia bahkan mengambil pendidikan khusus selama sebulan di Universitas Indonesia.

Terngiang Indonesia

Lee mengaku punya keinginan kuat untuk bekerja di Indonesia. Karena itu, ketika diterima di Samsung pada 1991, ia menyampaikan hasratnya tersebut. Berbekal pengetahuannya tentang Indonesia. Cita-citanya dapat cepat terwujud, Samsung mengirimnya untuk bertugas di Indonesia pada 1993.

Ia sangat bersyukur karena keputusan tersebut amat jarang terjadi. Biasanya Samsung akan mengirimkan karyawannya untuk bertugas di luar negeri bila telah bekerja cukup lama. "Minimal 10 tahun, barulah dikirim bertugas ke luar," katanya.

Namun keistimewaan tersebut bukan tidak ada konsekuensi. Menurut Lee, ia merasa mendapat tugas lebih berat ketimbang karyawan lain yang dikirim ke Indonesia. Karena usianya saat itu masih seumur jagung, ia dituntut lebih tahu banyak mengenai bisnis Samsung. Di saat yang bersamaan, Lee diharuskan mengetahui segala aturan dan kebijakan bisnis yang dibuat oleh pemerintah Indonesia.

"Jadi saya semberi bekerja, juga harus belajar. Dulu tidur mungkin cuma 3 jam saja," aku pria kelahiran Seoul ini.

Tapi kerja keras Lee terbayar. Sederet jabatan penting pernah diduduki. Ia berhasil menjembatani pihak Samsung dengan karyawan dan pemerintah Indonesia. Tak heran bila semua karyawan Samsung Indonesia mengenal sosoknya. begitu pula para petinggi pemerintah, tak terkecuali Presiden Jokowi.

Pada 2006, Lee pulang ke negeri asalnya dan menetap selama 3 tahun di sana. Kemudian sempat ditempatkan di Samsung Nepal, Srilanka dan Bangladesh. Namun pada 2012, ia kembali lagi ke Indonesia. "Saya ingin memberikan keluarga saya pengalaman tinggal di Korea. Selain itu, saya ingin refresh sejenak," ujar Lee

Jatuh Hati Kepada Yuliani

Sejak tinggal secara permanen di Indonesia, banyak hal yang ia telah dapatkan. Tak hanya keluarga angkat, teman dan rekan bisnis. Lee pun menemukan tambatan hatinya di sini.

Ia sebenarnya tak menyangka bakal mendapatkan jodohnya di Indonesia. Pasalnya seperti tipikal pemuda Korea, ia lebih fokus bekerja ketimbang mencari istri. Hingga akhirnya keluarga angkatnya memperkenalkan dirinya dengan Yuliani Sandra, seorang pramugari.

Di awal pertemuan, Lee mengaku terkesan dengan sosok Yuliani. Namun yang membuat Lee jatuh cinta, ketika Yuliani mengurusnya yang tengah dirawat di rumah sakit akibat terserang tipes. "Dalam hati saya berkata saya harus menikahi wanita ini," ujarnya.

Sayangnya niatan keduanya untuk melangsungkan pernikahan tak berjalan mulus. Orang tua Yuliani tidak langsung memberi lampu hijau ketika tau calon menantunya adalah orang Korea. "Mertua saja kaget calon mantunya orang Korea. Saat itu orang Korea sempat dicap jahat," ungkap pria berusia 49 tahun ini.

Lee tak lantas menyerah, ia pelan-pelan menunjukkan dan membuktikan hal tersebut cuma isapan jembol. Hati mertuanya pun luluh dan restu didapat. Lee dan Yuliani melangsungkan akad nikah pada 1996.

"Kami saling mempelajari bahasa dan budaya masing-masing. Istri kini bisa memasak menu Korea. Juga mengajarkan bahasa Korea ke anak-anak saya," ujarnya. Kini, pernikahan mereka memasuki usia ke-19. Keduanya dianugrahi tiga orang putra, yakni Lee Bonny, Lee Boram dan Lee Bohyun.

Mualaf dan Panggilan Pak Haji

Meski lancar berbahasa Indonesia dan mengetahui banyak mengenai kebudayaan nusantara, namun Lee merasa ada dinding yang membatasi dirinya dan masyarakat di sekitarnya. Ia pun mencari tahu, ternyata bermuara pada pemahamannya terhadap Islam.

"Agama di sini sudah menjadi bagian kehidupan. Berbeda sekali dengan di Korea. Mayoritas memilih tidak beragama dan hal itu tidak jadi masalah," ujarnya.

Keingintahuan akan Islam mempertemukan Lee dengan keluarga angkatnya. Kala itu, ia kerap mengamati kehidupan sehari bapak angkatnya. Dari sana ia menjadi tertarik dan akhirnya memutuskan untuk menjadi mualaf. Lee mengucapkan kalimat syahadat di Sunda Kelapa pada 1994.

Pada awal menjadi muslim dirasa Lee cukup berat. Terutama saat bulan Ramadan dan terkait tradisi minum orang Korea. Namun seiring waktu, hal tersebut tak lagi sulit. "Teman-teman Korea tidak lagi menawarkan minuman. Karena mereka tahu saya seorang muslim. Mereka sangat menghormati," ungkapnya.

Sehari-hari, Lee kerap disapa Pak Haji oleh rekan-rekannya. Meski telah mendapat julukan tersebut, nyatanya Lee belum menunaikan ibadah Haji. Namun ia menyimpan keinginan untuk melaksanakan Rukun Islam kelima tersebut.

Meski demikian, Lee telah dua kali menjalankan ibadah Umroh ke tanah suci. Ia mengaku mendapatkan pengalaman spiritual yang tidak bisa dilupakan. "Susah dijelaskan dengan kata-kata," pungkasnya. [yy/news.detik]