fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Maria: Kalau Agama Saya Benar, Mengapa Harus Ada Tipu Muslihat

Maria: Kalau Agama Saya Benar, Mengapa Harus Ada Tipu Muslihat


Fiqhislam.com - Cika, begitu akrab disapa. Perempuan 28 tahun ini pernah menjalankan peran yang sangat krusial sebagai seorang misionaris. Segala usaha pernah ia lakukan agar Muslim mau masuk agamanya.

Menurut perempuan kelahiran 26 November 1987 ini, anggapan yang terlontar selama ini, pemicu murtad Muslim akibat impitan ekonomi, tak sepenuhnya benar. Anggapan itu hanya akan menghilangkan perannya sebagai misionaris yang militan.

"Kalian pada nggak tahu saja seberapa masifnya mereka itu merusak akidah umat Islam. Jadi, (misionaris) tidak ujuk-ujuk datang bagi sembako lho," kata dia mengisahkan masa lalunya kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Maria membeberkan, sebelum terjun ke lapangan, para misionaris dibekali dengan persiapan yang matang, baik dari segi agama maupun psikis. "Minimal, mereka menguasai ilmu psikologi dominasi," ujar dia.

Para misionaris itu, ujar jebolan salah satu kampus ternama di Yogyakarta, telah mengantongi persiapan kognitif terkait target sasarannya. Klasifikasi mereka lakukan dengan beragam kategori, mulai dari kelas ulama, santri, dan Islam abangan. "Semua itu cara pendekatannya berbeda," kata dia.

Cika menemukan kejenuhan justru di satu titik. Sebuah pertanyaan mendasar muncul ketika ia dan sesama misionaris ikut serta dalam seminar bedah buku yang berjudul Mengkritik Agama Sendiri Membela yang Lain.

Judul buku tersebut ditulis oleh seorang yang mengaku anak seorang ulama di Jawa Barat lulusan Universitas Islam Bandung. Oknum ini ternyata bukan anak ulama, melainkan memang seorang pemeluk Kristen. Aksi tersebut ia lakukan sebagai tipu muslihat. Atas aksinya itu, ia akhirnya ditangkap pihak berwajib di Surabaya.

"Saya sejak itu berpikir, jika memang agama yang saya anut itu benar, mengapa harus ada tipu muslihat?" kata dia dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Setelah berjalan selama kurang lebih tiga tahun, aktivitasnya tersebut memunculkan kegamangan dalam hidupnya. Hati nuraninya memberontak. Dorongan belajar Islam justru menguat. Kali ini, bukan mencari kelemahannya seperti yang ia lakukan sejak 2002, melainkan menguak kebenaran.

Ada beberapa peristiwa yang dinilai memiliki pengaruh besar menuntunnya ke Islam. Di antaranya, Cika pernah bertemu tiga kali di dalam mimpi dengan seseorang yang mengaku bernama Ahmad.

"Dalam tiga kali mimpi itu (ketika SMP, SMA, dan kuliah) si Ahmad ini selalu mengatakan kalimat yang sama, yaitu, 'Tempat kamu bukan di sini, ayo kemasi pakaianmu kita pergi dari sini.' Saya pun tidak mengerti maksudnya," ujarnya.

Akhirnya, pada 2005 di bawah bimbingan teman satu kampusnya di Yogyakarta, Cika bersyahadat. "Beliau sudah almarhum, semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya. Amin," kata Cika yang berganti nama Islam menjadi Aini.

Maria mengatakan, sebenarnya ia merupakan keturunan keluarga Muslim. Kedua orang tuanya beragama Islam. Karena faktor adat, Cika menjadi non-Muslim di bawah asuhan nenek dari jalur sang ibu.

"Sesuai adat, kami anak pertama dari pernikahan itu harus kembali ke tempat ibunya. Jadi, begitu saya lahir langsung diserahkan ke keluarga ibu," ujarnya.

Meski hidup di bawah asuhan berbeda keyakinan, Cika sering bersinggung dengan ajaran Islam. Lingkungan bermain Cika didominasi Muslim. Ia masih ingat, pernah belajar Iqra bersama teman-teman sebayanya.

"Keluarga melarang itu pasti, tapi namanya anak kecil, suka ikut ramai saja makin dilarang saya makin nekat ikut." Aini harus melewati hari-hari berat dalam hidupnya setelah memeluk Islam. Perempuan yang yatim-piatu sejak usia belia itu mendapat cobaan berat.

Nenek yang membesarkannya menolak kehadiran Aini. "Saya nggak bisa pulang karena dianggap nggak ada," kata dia. Ia tidak lagi diterima sebagai penerus klan.

Namun, Allah berkehendak lain dan menyiapkan skenario terbaik bagi dirinya. Allah mengirimkan baginya sosok pendamping yang mengisi hari-harinya dengan asupan iman sekaligus mengawal keislamannya. "Setelah menikah, saya dibawa suami ke Jakarta dan sekarang saya menetap di Bekasi," ujar dia. 

Di bawah naungan Islam, Aini menata hidupnya. Aini aktif mengikuti taklim dan berusaha istiqamah menggunakan burka. Ia beranggapan, jenis pakaian ini menghindari timbulnya fitnah dan menjaga kehormatan suami.

"Saya mulai pakai cadar belum ada sebulan. Sebelumnya, saya berjilbab biasa," katanya. Saat ini, Aini yang aktif di Komunitas Tahajud Berantai (KUTUB) ini sedang berusaha mendekati keluarganya untuk mengenalkan Islam secara bertahap. "Cuma, ya celah masuknya masih sulit dan masuh tertutup. Saya berharap, suatu hari akan ada jalannya. Amin."  [yy/republika]