2 Dzulhijjah 1443  |  Sabtu 02 Juli 2022

basmalah.png

Abdullah Wasi'an, Guru Besar Para Kristolog Indonesia

Abdullah Wasi'an, Guru Besar Para Kristolog Indonesia

Fiqhislam.com - Kalau di dunia ada Ahmad Deedat, Indonesia punya KH Abdullah Wasi'an. Ia adalah guru para kristolog di Indonesia. Kiprahnya diakui kawan maupun lawan.

Kyai ini suka dipanggil Pak Wasi'an. Ia lahir di Nyamplungan, Surabaya, pada 9 Juni 1917. Rabu 16 Februari 2011 tepat saat adzan dzuhur, kyai sederhana ini menghadap Allah SWT pada usia 94 tahun. Ia meninggalkan seorang istri yang biasa dipanggil Mbah Ti, dan sembilan anak dan beberapa cucu.

Di usia 6 tahun, ia dimasukkan oleh orang tuanya, Hayat dan Shaleka, ke sekolah Belanda, HIS. Ia beruntung karena tidak semua pribumi bisa bersekolah di sini. Tak heran, ia mampu menguasai bahasa Indonesia dengan baik.

Setelah dari HIS, ia melanjutkan ke MULO tahu 1931. Dari MULO ia masuk ke pesantren di Ampel, Surabaya. Pesantren ini diasuh oleh KH Mas Mansyur (tokoh Muhammadiyah).  Antara tahun 1964 – 1968 ia mengambil kursus bahasa Jerman di Goethe Institute. Selain 'nyantri' ke KH Mas Mansyur, Pak Wasi'an juga berguru ke KH Ghufron Faqih (tokoh NU) dan Ustadz Bahalwan (tokoh Syarikat Islam) yang fasih dan mumpuni dalam bahasa Arab.

Ia mulai menekuni ilmu Kristologi pada usia 43 tahun. Ketertarikannya pada bidang ini sebenarnya merupakan kebetulan, bahkan bisa dikatakan terpaksa. Keterpaksaan itu berawal ketika ada temannya semasa di HIS bernama Luther yang beragama Kristen datang ke rumahnya di Kalibokor, Surabaya. Sejak itu, berbagai perdebatan dan diskusi dengan kalangan Kristen diikutinya. Hasratnya untuk menekuni kristologi ini kian kuat. Ia pelajari ilmu kristologi secara otodidak karena memang saat itu tak ada sekolahnya. Kegigihannya menjadikan ia salah satu kristolog terkemuka di Indonesia.

Pak Wasi'an pun kemudian menambah ilmu bahasanya dengan mempelajari bahasa Jerman dan Prancis. Penguasaan bahasa tersebut penting bagi ilmu kristologi. Soalnya, ia banyak menemukan kata-kata dalam Bibel berbahasa Indonesia yang sulit dimengerti. Kata-kata itu baru bisa dimengerti jika dibaca dalam Bibel bahasa Jerman, Belanda, atau Prancis.

Misalnya, di dalam Bibel Kitab Hagai pasal 2 ayat 7 dan 8 berbunyi "Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam "Sedikit waktu lagi, maka Aku akan
menggoncang langit dan bumi. Aku pun akan menggoncang segala bangsa sehingga barang-barang yang indah segala bangsa akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan firman Tuhan semesta alam." (Al-Kitab cetakan 2000). Ayat ini menerangkan, bahwa Tuhan menggoncang langit, bumi, laut dan juga semua manusia dari segala bangsa. Apabila semua manusia sudah sama panik, maka mereka akan mencari yang indah kepunyaan segala bangsa.

Kalimat "mencari barang-barang yang indah" sulit dipahami karena tidak dijelaskan maksudnya. Dalam Bibel bahasa Belanda kalimat itu berbunyi "Ein zijzullen komen tot den wensch alter heidenen” yang mempunyai arti mereka akan mendatangi "keinginan orang kafir". Kalimat ini juga sulit dipahami.

Penjelasan kalimat tersebut baru bisa dipahami setelah membaca Bibel berbahasa Prancis. Ternyata dalam Bibel bahasa Perancis kata-kata yang indah itu disebut tresor. Tresor bahasa Ibraninya adalah chemdah. Arti chemdah itu "yang dipuji". Berarti ayat tersebut mempunyai pengertian bahwa setelah manusia goncang hatinya, mereka akan mencari yang dipuji. Berarti kalimat tersebut berbunyi "Setelah Tuhan menggoncang langit, bumi, laut, darat, juga semua manusia dari segala bangsa, sehingga mereka semua menjadi panik, maka mereka mencari sesuatu yang dipuji. Dalam pandangan Islam, sesuatu yang dipuji itu adalah Nabi Muhammad SAW. Karena Muhammad itu artinya sesuatu yang dipuji.

Pak Wasi'an selain dikenal sebagai jago podium, juga produktif dalam menulis. Beberapa hasil karya tulisnya berupa buku maupun artikel telah beredar di masyarakat. Artikel-artikel itu dimuat di beberapa media massa Islam seperti Al-Muslimun, Media Dakwah dan beberapa tabloid. Buku-bukunya antara lain "Islam Menjawab", diterbitkan oleh Media Dakwah, "Muhammad dalam Bibel”, "Jawaban untuk Pendeta", dan "100 Jawaban untuk Misionaris", ketiganya diterbitkan oleh Pustaka Dai, "Pendeta Menghujat Kiai Menjawab" oleh Al-lbrah, dan "Nabi Isa Masih Hidup atau Sudah Wafat".

Banyak kalangan yang menilai Kyai Wasi'an sebagai pribadi yang sabar, gigih, otodidak dan sangat bersahaja. Kesederhanaan Kyai Wasi'an tampak dari beberapa hal seperti cara berpakaian, bahkan ia baru menempati rumah sendiri tahun 1990.

Semasa hidupnya ia memberikan pengajian kristologi di Masjid Al Falah Jalan Raya Darmo Surabaya.  Ia pun menggembleng para pemuda dengan kristologi, sebagai pelanjut estafet perjuangan meng-counter para misionaris dan orientalis yang sering menikam Islam. Kristolog Abu Deedat yang memiliki nama asli Syihabuddin juga murid Pak Wasi'an. Ustadz Shodiq yang paling dekat dengan almarhum juga mewarisi ilmu kristologi. Kader-kadernya menyebar di seantero Nusantara.

Salah satu kelebihan Pak Wasi'an sebagai kristolog adalah banyak hafal ayat-ayat Bibel dalam tiga bahasa. Menurut kolega sesama kristolog yaitu Ustadz Masyhud, Pak Wasi'an itu sangat kuat daya hafalnya. Pada usia 92 tahun, Pak Wasi'an bersama kristolog Insan Mokoginta ditemukan dengan pendeta Robert W dari Jakarta. Saat itu Pak Wasi'an dengan lancar menyebutkan Surat Joshua 10 ayat 12 – 13 dengan tepat. Kelebihan lain menurut testimoni putra sulungnya, Evi, adalah kondisi Pak Wasi'an selalu suci (dawamut thaharoh), setiap batal langsung bersuci kembali. Selain itu, Pak Wasi'an pernah tercatat sebagai anggota Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

rif'an wahyudi | mediaumat.com