12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Perjalanan Islam di Tunisia

Perjalanan Islam di TunisiaFiqhislam.com - Sahabat Rasulullah SAW, Uqbah bin Nafi, mengawali upaya pembebasan Tunisia oleh kedaulatan Islam. Pada 647, pasukannya berhasil menguasai Sbeitla (Sufetula) di Tunisia tengah.

Sebagian ahli sejarah menilai, itulah mulanya era Arab-Islam di negeri tersebut. Pada 670, jenderal yang aktif sejak era Khalifah Umar bin Khattab itu memulai pembangunan kota baru di negeri tersebut. Namanya, al-Qayrawan atau Kairouan sekitar 180 km dari Tunis.

Mulanya, Kairouan hanyalah tanah kosong. Di sana-sini, terdapat puing-puing bekas benteng Romawi Timur (Byzantium). Uqbah kemudian mendirikan masjid dan markas pemerintahan di sana. Sekilas, al-Qayrawan tampaknya berasal dari bahasa Arab. Namun, akar kata itu dapat ditemukan dalam bahasa Persia, gayrawan atau karwan. Artinya, karavan. Penamaan itu menunjukkan, kota tersebut memiliki posisi yang cukup strategis baik dalam rute perdagangan maupun ekspedisi militer.



Uqbah meninggal dunia pada 683. Penggantinya tidak mampu mempertahankan Kairouan. Situasi mulai kondusif sejak kedatangan Hassan bin Nu'man al-Ghassani. Dia adalah jenderal yang diutus khalifah kelima Dinasti Umayyah, Abdul Malik, untuk menaklukkan Afrika Utara.

Pada akhir abad ketujuh, Hassan mengalahkan pasukan Byzantium yang bersekutu dengan sukusuku Berber. Sesudah berhasil dengan misinya, dia mendirikan pusat kekuasaan baru di Tunis. Bagaimanapun, Kairouan tidak diabaikannya sama sekali. Kota yang diinisiasi Uqbah bin Nafi itu dijadikannya sebagai pusat administrasi untuk memantau perkembangan penaklukan Muslimin atas Afrika Utara.

Menjelang abad kedelapan, Dinasti Umayyah sudah menguasai kawasan yang amat luas. Merentang dari Andalusia (Spanyol) hingga seluruh pesisir Afrika Utara. Kairouan ikut berkembang menjadi kota yang berperadaban tinggi. Musibah datang pada 757. Suku-suku Berber menyerbu kota tersebut. Mereka merusak banyak bangunan. Bahkan, masjid dijadikannya sebagai kandang kuda. Pasukan Muslim dari golongan Ibadiyah berhasil menyelematkan Kairouan dari kehancuran lebih jauh.

Abad kedelapan bisa dikatakan sebagai masa konsolidasi pengaruh Islam di Afrika Utara. Apa yang dahulu disebut bangsa Romawi sebagai Africa Proconsularis kini menjadi Wilayat Ifriqiya. Luasnya merentang dari Tunisia, sebagian Libya, hingga Aljazair Timur. Kairouan di Tunisia menjadi salah satu kota terpenting.

Dinasti Umayyah tumbang dan digantikan Dinasti Abbasiyah. Pada 800, Sultan Harun al-Rasyid menunjuk Ibrahim bin al-Aghlab sebagai gubernur Ifriqiya. Sosok dari Bani Tamim itu akhir nya merintis Dinasti Aghlabi. Dia mendiri kan ibu kota baru, al-Abbasiyah, dekat dari Kairouan. Di bawah kepemimpinannya, Ifriqiya mengalami periode kemakmuran. Berbagai infrastruktur dibangun, seperti bendungan, masjid, perpustakaan, dan madrasah.

Pemerintahannya juga sukses menjaga situasi harmoni antara bangsa Arab dan Berber-Muslim. Pada akhir abad kesembilan, Ibnu al-Aghlab juga mendirikan Baitul Hikmah di Kairouan. Formatnya mengikuti Baitul Hikmah yang lebih dahulu eksis di Baghdad. Kairouan kian bersinar sebagai salah satu mercusuar peradaban Islam di Afrika Utara. Banyak sarjana Muslim yang berkarier di sana.

Misalnya, Ishaq bin Imran, seorang ahli ilmu medis dari Irak yang kemudian mendirikan sekolah kedokteran di Kairouan. Salah seorang muridnya kelak menjadi pakar kedokteran terkemuka pada masa itu. Namanya, Ishak Israil bin Sulaiman. Di kota yang sama, sarjana Yahudi itu juga berkiprah dalam bidang filsafat, logika, dan metafisika. Dia memilki seorang murid, Ibnu al- Jazzar Al-Qayrawani. Bagi masyarakat Eropa abad pertengahan, pakar kedokteran itu lebih dikenal sebagai Algizar.

Tidak hanya Kairouan. Kota Tunis juga berkem bang pesat terutama pada abad ke-13. Pamornya kian berkilau seiring dengan berdirinya Madrasah al-Zaituna di kota tersebut. Inilah perguruan tinggi pertama di Afrika Utara. Banyak ilmuwan terkemuka yang dihasilkannya. Di an ta ranya adalah Ibnu Khaldun (1332-1406).

Namun, Tunis sempat terpuruk saat diserbu bangsa Normandia dari Eropa. Selanjutnya, Kekhalifahan Fatimiyah yang berpusat di Mesir berhasil mengusir mereka. Tunis pun kembali bangkit, khususnya pada masa Dinasti Almohad atau al-Muwahidun. Elite mereka berasal dari suku Berber yang telah memeluk Islam sejak abad ke-12.

Hingga abad ke-15, Tunisia dikendalikan sejumlah kekuatan politik. Mulai dari Dinasti Ziridiyah (973-1148), invasi militer Normandia dari Eropa (1148-1160), Almohad (1160-1229), sampai Hafsiah (1229-1574).

Menjelang era modern, Kesultanan Utsmaniyah menguasai negeri itu. Meski dikuasai Turki, Tunisia dapat menjadi wilayah otonom di bawah pemerintahan berturutturut Dey (1591-1659), Mouradi (1659-1705), dan Huseini (1705-1957). Akhirnya, negeri itu dicaplok bangsa Eropa menjelang Perang Dunia I. [yy/republika]