22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Syekh Al-Baqillani Permalukan Raja Romawi Timur Ketika Debat

Syekh Al-Baqillani Permalukan Raja Romawi Timur Ketika Debat

Fiqhislam.com - Kisah debat Syekh Abu Bakar Al-Baqillani dengan Raja Romawi Timur adalah satu dari banyak kisah yang sangat menginpirasi. Bagi yang ingin mencari kebenaran ilmiah, kisah ini dapat dijadikan pelajaran berharga.

Syekh Abu Bakar Al-Baqillani dikenal sebagai seorang ulama besar di zamannya. Kecerdasannya tak ada yang menandingi di zaman beliau. Syekh Al-Baqillani tak pernah melakoni debat dengan emosional. Beliau hanya menyampaikan kebenaran ilmiah dengan kecerdasannya yang luar biasa.

Dikutip dari Dakwah Islamiyyah, selain seorang mutakallim (ahli Kalam), Al-Baqillani merupakan salah satu ulama Ushul Fiqh. Al-Baqilani lahir di Kota Bashrah, kota terbesar kedua di Irak setelah Baghdad. Beliau bernama lengkap Abu Bakar Muhammad Ibnu Al-Thayyib Ibnu Muhammad Ibnu Ja'bar Ibnu Al-Qasim Al-Baqillani rahimahullah.

Beliau hidup pada masa awal pemerintahan Dinasti Buwaihi, sekitar pertengahan abad ke-4 hingga awal abad ke-5 Hijriah. Sumber lain menyebut beliau lahir di Bashrah pada Tahun 940 M, dan wafat pada Tahun 1013 M.

Dikisahkan, pada suatu masa di Tahun 371 H. Raja Iraq mengutus Al-Baqillani ke Konstantinopel untuk meladeni debat kaum Nasrani. Tatkala mendengar akan kehadiran Syekh Abu Bakar Al-Baqillani, Raja Romawi Timur memerintahkan punggawanya untuk memangkas pintu yang tinggi agar menjadi pendek.

Tujuannya adalah agar tatkala Syekh Al-Baqillani masuk melewatinya, mau tidak mau ia menundukkan kepala dan tubuhnya seperti orang sedang membungkukkan diri, sehingga tampak merendah di hadapan raja dan para punggawanya.

Namun, kecerdasan Al-Baqillani bukan main hebatnya. Tatkala Al-Baqillani hadir dan mengetahui rekayasa sang raja, beliau pun membalikkan tubuhnya membelakangi pintu masuk dan membungkuk. Kemudian masuk seraya berjalan mundur menjadikan bagian belakang tubuhnya menghadap raja sebagai ganti wajahnya.

Dari sini raja mengetahui bahwa beliau orang yang cerdas. Al-Baqillani masuk dan memberi ucapan sebagai bentuk penghormatan seorang tamu. Kemudian menoleh ke arah pendeta agung dan berkata: "Bagaimana kabarmu, kabar istri dan anak-anakmu?"

Sang Raja Romawi murka dan berkata: "Tidakkah kau tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah dan tidak punya anak?"

Syekh Abu Bakar Al-Baqillani berkata: "Allahu Akbar! Kalian menganggap suci para pendeta karena tidak menikah dan tak beranak, namun di sisi lain mencurigai Tuhan kalian menikah dengan Maryam dan beranakkan Isa?"

Sang Raja pun bertambah murka. Dan bertanya dengan niatan menghina: "Apa argumenmu atas apa yang dilakukan 'Aisyah?"

Syekh Al-Baqillani menanggapi: "Jika 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah dicurigai (oleh orang-orang munafiq dan kaum Yahudi), maka Maryam pun pernah dicurigai (oleh kaum Yahudi) sedang keduanya adalah wanita suci. Hanya saja, 'Aisyah menikah dan tidak punya putra, sedangkan Maryam punya putra tanpa menikah. Maka, manakah di antara keduanya yang lebih layak dicurigai dengan kecurigaan yang bathil ini? Semoga Allah menjauhkan dari kecurigaan yang jelek dan meridhai Beliau berdua".

Sang Raja Romawi bertambah panik dan bertanya: "Apakah Nabimu pernah berperang?"

Syekh Al-Baqillani menjawab: "Ya".

Sang Raja bertanya: "Apakah ia ikut berperang sebagai pemimpin?"

Syekh Al-Baqillani menjawab: "Ya".

Raja bertanya: "Apakah ia pernah menang?"

Syekh Al-Baqillani menjawab: "Ya".

Raja bertanya: "Apakah ia pernah kalah?"

Syekh Al-Baqillani menjawab: "Ya".

Raja berkata: "Heran! Seorang Nabi kalah perang?"

Syekh Al-Baqillani menjawab: "Masak Tuhan disalib?!

Mendengar itu, Raja Romawi Timur terdiam tak mampu memberi jawaban.

Syekh Al-Baqillani dikenal sebagai ulama yang memiliki pengetahuan luas sehingga banyak orang yang berguru kepadanya. Beliau mempunyai andil besar dalam menyebarluaskan paham Asy'ariyyah bersama Imam Al-Juwaini dan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Para ulama memuji beliau dengan pujian: "Di dadanya terhimpun ilmunya dan ilmu semua orang." Wallahu A'lam. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]

Referensi:
Tarikh Baghdad, 5/379;
Tabyin Kizbil Muftari, hal. 218;
Tartibul Madarik, 7/61-62;
Siyar A’lam an-Nubala`, 17/191;
Al-Bidayah wan Nihayah, 11/350,
Al-Mun-tazam, 7/265
Al-Ansab, 2/51-52.