1 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 27 September 2022

basmalah.png

Sumbangsih Ahmed Deedat untuk Kajian Kristologi

Sumbangsih Ahmed Deedat untuk Kajian Kristologi

Fiqhislam.com - Dua orang sahabat Ahmed Deedat, Goolam Hoosein Vanker dan Taahir Rasool, memiliki peran yang besar dalam perjalanan karier Deedat. Pada 1957 tiga orang ini mendirikan Pusat Dakwah Islam Internasional (IPCI) dengan tujuan mencetak berbagai buku keislaman menawarkan kelas untuk mualaf. 

Deedat mendirikan lembaga kajian Islam As-Salaam Educational Institute yang terletak di Braemar di selatan provinsi Natal. Namun, kelas seminar ini tidak sukses karena kurangnya tenaga kerja dan dana

Kelas ini diambil alih oleh Gerakan Pemuda Muslim dari Afrika Selatan pada 1973. Deedat kemudian kembali ke Durban dan memperluas kegiatan IPCI ini.

Dengan dana dari negara-negara Teluk, Deedat menerbitkan dan memproduksi bukunya  secara massal. Buku yang dicetak lebih dari 12 bahasa itu sebagian besar tentang  ceramah Deedat serta sebagian besar lain berisi perdebatannya saat menjadi misionaris.
 
Karya-karya Deedat tersebut, antara lain: Is the Bible God's Word?, What The Bible Says About Muhammad, Crucifixion or Cruci-Fiction?, several smaller spin-off titles on specific aspects of Crucifixion,  Muhammad: The Natural Successor to Christ, Christ in Islam, Muhammad The Greatest dan Al-Qur'an the Miracle of Miracles.

Buku Deedat yang berjudul The Choice: Islam and Christianity sangat populer pada 1990-an. Buku ini tersedia secara gratis di banyak outlet misionaris di seluruh Amerika Utara. Sejumlah penerbit menawarkan mencetak ulang. Dan, dalam waktu dua tahun, sebanyak 250 ribu eksemplar telah dicetak dan sebagaian besar tersebar  di Timur Tengah.

Volume kedua berjudul yang berjudul The Choice: Volume Two juga mendapat sambutan positif. Deedat juga mempromosikan bukunya yang dicetak di Afrika Selatan. Hasil penjualan buku tersebut disumbangkan ke masyarakat Afrika Selatan. [yy/republika]

 

Sumbangsih Ahmed Deedat untuk Kajian Kristologi

Fiqhislam.com - Dua orang sahabat Ahmed Deedat, Goolam Hoosein Vanker dan Taahir Rasool, memiliki peran yang besar dalam perjalanan karier Deedat. Pada 1957 tiga orang ini mendirikan Pusat Dakwah Islam Internasional (IPCI) dengan tujuan mencetak berbagai buku keislaman menawarkan kelas untuk mualaf. 

Deedat mendirikan lembaga kajian Islam As-Salaam Educational Institute yang terletak di Braemar di selatan provinsi Natal. Namun, kelas seminar ini tidak sukses karena kurangnya tenaga kerja dan dana

Kelas ini diambil alih oleh Gerakan Pemuda Muslim dari Afrika Selatan pada 1973. Deedat kemudian kembali ke Durban dan memperluas kegiatan IPCI ini.

Dengan dana dari negara-negara Teluk, Deedat menerbitkan dan memproduksi bukunya  secara massal. Buku yang dicetak lebih dari 12 bahasa itu sebagian besar tentang  ceramah Deedat serta sebagian besar lain berisi perdebatannya saat menjadi misionaris.
 
Karya-karya Deedat tersebut, antara lain: Is the Bible God's Word?, What The Bible Says About Muhammad, Crucifixion or Cruci-Fiction?, several smaller spin-off titles on specific aspects of Crucifixion,  Muhammad: The Natural Successor to Christ, Christ in Islam, Muhammad The Greatest dan Al-Qur'an the Miracle of Miracles.

Buku Deedat yang berjudul The Choice: Islam and Christianity sangat populer pada 1990-an. Buku ini tersedia secara gratis di banyak outlet misionaris di seluruh Amerika Utara. Sejumlah penerbit menawarkan mencetak ulang. Dan, dalam waktu dua tahun, sebanyak 250 ribu eksemplar telah dicetak dan sebagaian besar tersebar  di Timur Tengah.

Volume kedua berjudul yang berjudul The Choice: Volume Two juga mendapat sambutan positif. Deedat juga mempromosikan bukunya yang dicetak di Afrika Selatan. Hasil penjualan buku tersebut disumbangkan ke masyarakat Afrika Selatan. [yy/republika]

 

Awal Ahmed Deedat Mulai Berdakwah

Awal Ahmed Deedat Mulai Berdakwah


Awal Ahmed Deedat Mulai Berdakwah


Fiqhislam.com - Nama Ahmed Husain Deedat bukan figur asing di kalangan umat Islam dan dunia internasional. Tokoh kelahiran Tadkeshwar, India, pada 1918 ini dikenal sebagai kristolog dan 'misionaris' ulung yang pernah dimiliki umat Islam sepanjang sejarah abad modern.

Dia tidak hanya unggul dengan kemampuan retorika, tetapi juga istimewa di bidang tulis menulis. Berkat kontribusinya ini, Deedat pernah dianugerahi King Faisal International Prize pada 1986.

Tak banyak yang bisa diketahui dari masa kecil Deedat. Sejumlah informasi hanya menuturkan, ayahnya berimigrasi ke Afrika Selatan, tidak lama setelah kelahirannya.
Pada usia sembilan tahun Deedat meninggalkan India menyusul ayahnya ke Kwazulu-Natal, Afrika Selatan. Ibunya meninggal beberapa bulan setelah kepergiannya.

Tiba di Afrika Selatan, Deedat mulai tekun belajar. Dengan cepat, ia mampu mengatasi perbedaan bahasa dan menjadi siswa berprestasi di sekolah. Namun, karena keadaan keuangan, ia harus berhenti sekolah dan mulai bekerja pada saat usia 16 tahun.

Awal perkenalannya dengan kristologi justru berawal di sini. Pada 1936, saat bekerja sebagai sales furnitur, Deedat bertemu dengan sekelompok misionaris di sebuah seminar Kristen di Pantai Selatan Natal.

Dalam seminar misionaris ini, panitia menyampaikan tuduhan negatif tentang Nabi Muhammad SAW. Tuduhan tersebut membuat Deedat tersinggung.  Dari sinilah minatnya terhadap perbandingan agama muncul. [yy/republika]

 

Ketika Ahmed Deedat Berdebat

Ketika Ahmed Deedat Berdebat


Ketika Ahmed Deedat Berdebat


Fiqhislam.com - Ahmed Deedat memulai perdebatan keagamaan setelah dia membaca buku /Izhar ul-Haqq (Kebenaran Terungkap) yang ditulis oleh Syekh Kairanawi.

Buku yang berisi upaya misionaris Kristen di India itu memiliki efek mendalam bagi Deedat. Dia mulai membeli Alkitab dan berdiskusi dengan para misionaris.

Deedat menghadiri kelas studi Islam seorang mualaf lokal bernama Mr Fairfax. Berkat kecerdasan Deedat, Fairfax menawarkannya mengajar pada sesi tambahan tentang Alkitab dan bagaimana berdialog dengan Kristen. Deedat mengajar selama tiga tahun tanpa melalui proses pembelajaran yang akademis.

Pada 1942 merupakan awal pekerjaan Deedat sebagai misionaris. Kuliah pertama Deedat, berjudul "Muhammad: Messenger of Peace", disampaikan pada 1942 kepada audiensi yang berjumlah 15 orang di sebuah bioskop Durban, Avalon Cinema.

Deedat juga menjadi pemandu wisata dari Masjid Jumma di Durban. Masjid Jumma dibuka untuk turis. Untuk meningkatkan jumlah wisatawan, panitia menyediakan makan siang dan dapat berdiskusi tentang Islam.

Deedat yang menjadi salah satu pemandu memperkenalkan Islam kepada wisatawan. Khususnya, terkait hubungan Islam dan Kristen.

Pada awal 1980-an karya Ahmed Deedat mulai dikenal di luar Afrika Selatan. Dia semakin dikenal di dunia internasional pada 1986, yakni saat menerima penghargaan dari Raja Faisal atas jasanya di bidang dakwah Islam. Penghargaan ini membuat Deedat langsung melakukan tur sebagai pembicara di beberapa negara. Saat itu, usianya 66 tahun.

Deedat mengunjungi Arab Saudi dan Mesir, Inggris Raya (1985 dan 1988), serta Swiss (pada 1987). Dia juga mendatangi Pakistan dan bertemu Zia al-Haq.   

Kunjungan ke AS dilakukan pada akhir 1986. Di AS, Deedat berdebat publik Swaggart, Robert Douglas, dan menyampaikan perkuliahan, termasuk di Arizona.

Pada 1994 Deedat kembali mendatangi AS dan Kanada. Dia mengisi kuliah di Chicago. Sedangkan, Swedia dan Denmark didatangi pada akhir 1991 dan menghadiri tiga debat publik. Australia adalah negara terakhir yang dikunjunginya pada awal 1996, sebelum akhirnya Deddat sakit stroke. [yy/republika]

 

Ahmed Deedat Dorong Umat Islam agar Terus Berdakwah

Ahmed Deedat Dorong Umat Islam agar Terus Berdakwah


Ahmed Deedat Dorong Umat Islam agar Terus Berdakwah


Fiqhislam.com - Pada 3 Mei 1996 Ahmed Deedat mengalami strok yang membuatnya lumpuh dari leher ke bawah karena kecelakaan pembuluh darah otak yang memengaruhi batang otak.

Akibatnya, ia tidak mampu berbicara atau menelan. Deedat diterbangkan ke Rumah Sakit King Faisal di Riyad. Dia belajar berkomunikasi melalui gerakan mata dan surat yang dibacakan untuknya.

Deedat menghabiskan sisa hidupnya di atas tempat tidur kediamannya di Afrika Selatan. Deedat, melalui istrinya--Hawa Deedat, selalu mendorong orang-orang agar tidak pernah berhenti terlibat dalam dakwah Islam.

Deedat  menerima ratusan surat dukungan dari seluruh dunia. Dia juga dikunjungi oleh pihak-pihak yang merasakan manfaat atas karya Deedat. Tamunya ini bukan hanya berasal dari Afrika Selatan, melainkan juga dari luar negeri.

Pada 8 Agustus 2005 Ahmed Deedat meninggal di rumahnya di Verulam, Provinsi Kwazulu-Natal. Ia dimakamkan di pemakaman Verulam. [yy/republika]