fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Sultan Maulana Hasanuddin, Penguasa Muslim di Banten

Sultan Maulana Hasanuddin, Penguasa Muslim di BantenFiqhislam.com - Banten dikenal sebagai salah satu wilayah yang sangat kental dengan nuansa keislaman. Bahkan, salah satu tokoh utama dan banyak menghasilkan karya klasik juga berasal dari wilayah Banten.

Yakni, Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani. Karya-karya Syekh Nawawi Al-Bantani telah menyebar hingga berbagai negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, India, dan Thailand.

Namun demikian, sejarah perkembangan dan penyebaran Islam, juga tak lepas dari pengaruh Kesultanan Banten. Berkat peran serta mereka pula, Islam menjadi mayoritas di Provinsi Banten.

Salah satu tokoh besar dan berperan penting dalam penyebaran Islam di Banten adalah Sultan Maulana Hasanuddin. Penguasa Muslim ini lahir pada 1479 di Cirebon. Ia merupakan pendiri Kesultanan Banten sekaligus menjadi penguasa pertama di kerajaan Islam tersebut.

Ayahnya, Syarif Hidayatullah, adalah salah seorang dari sembilan wali (Walisongo) penyebar Islam di tanah Jawa, yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Hasanuddin merupakan anak kedua dari Syarif Hidayatullah dengan Nyi Kaung Anten, putri penguasa Kaung Anten, Banten, Prabu Surasowan. Ketika Prabu Surasowan wafat, kekuasaannya diwariskan kepada putranya, yakni Arya Surajaya.

Pada masa pemerintahan Arya Surajaya, Syarif Hidayatullah sudah kembali ke Cirebon yang kemudian menjadi Sultan Cirebon. Sedangkan Hasanuddin lebih memilih menjadi guru agama Islam di Banten. Hasanuddin pun dikenal memiliki banyak santri di beberapa wilayah Banten. Karena ketokohannya kemudian masyarakat menyebutnya Maulana Hasanuddin.

Setelah menginjak dewasa, Hasanuddin ditugaskan untuk menggantikan posisi sang ayah untuk menyebarkan Islam di Banten menyusul penunjukan Syarif Hidayatullah sebagai tumenggung di Cirebon oleh penguasa Kesultanan Demak.

Dalam usaha penyebaran Islam di Banten, Maulana Hasanuddin berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya.

Kadang-kadang ia berada di Gunung Pulosari, Gunung Karang, atau Gunung Lor, bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon.

Kegiatan dakwahnya menyebabkan penduduk Banten Utara berangsur-angsur memeluk agama Islam. Sebelum Banten berwujud sebagai suatu kesultanan, wilayah ini termasuk bagian dari Kerajaan Sunda (Padjadjaran). Agama resmi kerajaan ketika itu adalah Hindu.

Upaya penyebaran agama Islam ke seluruh daerah Banten mendapat hambatan dari raja Padjadjaran yang mengeluarkan peraturan untuk membatasi masuknya pedagang Islam ke Banten.

Di samping itu, keputusan raja Padjadjaran untuk menandatangani perjanjian persahabatan dengan Portugis, menyulut kemarahan penduduk yang sudah memeluk agama Islam. Di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin, mereka melakukan pemberontakan terhadap penguasa Padjadjaran.

Posisi Banten yang sangat strategis, karena letaknya di pesisir Selat Sunda dan merupakan pintu gerbang lintas Pulau Sumatra dan Jawa, menarik perhatian penguasa Demak untuk menguasainya.

Maka, pada awal abad ke-16 M, Kesultanan Demak mengutus Fatahillah, untuk menyerbu wilayah ini, setelah sebelumnya singgah di Cirebon untuk menemui Syarif Hidayatullah.

Kepala Seksi Pendidikan dan Informasi Kenadziran Masjid Agung Kesultanan Maulana Hasanuddin Banten, M Al-Hatta Kurdie, mengatakan dengan bantuan pasukan gabungan Demak-Cirebon, Maulana Hasanuddin dapat menguasai seluruh Kadipaten Banten. Penyerangan yang dilakukan terhadap wilayah itu, dikarenakan adanya perjanjian antara Padjadjaran dengan pihak Portugis.

“Perjanjian tersebut bocor dan sampai ke telinga Sultan Demak, apalagi waktu itu Demak sedang sakit hati dengan Portugis karena Pati Unus atau Pangeran Sebrang Lor kalah perang di Malaka,” kata jelas Kurdie.

Atas keberhasilan ini, pada 1526 Maulana Hasanuddin diangkat oleh Sultan Demak sebagai bupati Kadipaten Banten.

Keberhasilannya memimpin daerah ini membawa kemajuan yang pesat di berbagai bidang sehingga Kadipaten Banten diubah menjadi negara bagian Demak pada 1552 dengan tetap mempertahankan Maulana Hasanuddin sebagai sultannya.

Sultan Maulana Hasanuddin memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). Ia memindahkan pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten Girang (Banten Hulu) ke Banten Lor (Surosowan) yang terletak di pesisir utara.

Ia melengkapi pusat pemerintahan yang baru ini dengan berbagai sarana dan prasarana, seperti keraton, benteng, pasar, dan sarana peribadatan berupa masjid. Ketika pada 1568 Kesultanan Demak runtuh dan diganti Pajang, ia memproklamasikan Banten menjadi negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak.

Berbagai kemajuan
Selama masa pemerintahannya, Banten mengalami kemajuan dalam berbagai sektor. Hal ini tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan Sultan Maulana Hasanuddin dalam melakukan pembangunan negara, antara lain, meliputi bidang keamanan, perdagangan, dan yang terpenting penyebaran Islam.

Hasanuddin memperluas daerah kekuasaan Banten sampai meliputi seluruh daerah Banten, Jayakarta, Karawang, Lampung, dan Bengkulu. Ia juga telah memberikan andil terbesarnya dalam meletakkan dasar Islam yang kuat di Banten.

Bahkan di masanya, Banten menjadi pusat penyiaran agama Islam untuk wilayah Jawa Barat dan Sumatra Selatan. Hal ini telah dibuktikan dengan kehadiran bangunan peribadatan berupa masjid dan sarana pendidikan Islam seperti pesantren.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan keislaman, Sultan Maulana Hasanuddin mengirim sejumlah mubaligh ke berbagai daerah yang dikuasainya.

Bahkan, banyak orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar agama Islam di Banten, sehingga berdirilah beberapa perguruan Islam, seperti di Kasunyatan.

Di tempat ini, Maulana Hasanuddin juga mendirikan bangunan Masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari Masjid Agung Banten.

Sementara untuk menjaga keamanan kota dari serangan musuh, baik dari darat maupun laut, Maulana Hasanuddin membentengi seluruh kota dengan potongan-potongan kayu besar yang kemudian diganti dengan tembok tebal dari batu karang.

Setiap sudut dilengkapi dengan meriam. Demikian juga di sekeliling istana dibuat benteng yang dibuat dari tembok batas setebal tujuh telapak tangan.

Di samping itu, ia juga mengadakan kerja sama dengan ayahnya membentuk pasukan pertahanan kuat dan besar, sehingga ketika terjadi serangan Demak ke Pasuruan, Banten mengirimkan tujuh ribu tentara kerajaan lengkap dengan persenjataannya. Kerjasama itu diperluas ke bidang ekonomi dan politik.

Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada 1570, dalam usia 91 tahun. Setelah mangkat ia diberi gelar 'Marhum Sabakingking'. Jasadnya dimakamkan dekat Masjid Agung Banten.

Berbagai usaha yang telah dirintis oleh Sultan Maulana Hasanuddin dalam menyebarluaskan Islam dan membangun Kesultanan Banten kemudian dilanjutkan oleh para keturunannya. [yy/republika]