22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Said Nursi, Ulama dan Pemikir Agung dari Turki

Said Nursi, Ulama dan Pemikir Agung dari TurkiFiqhislam.com - Kendati berada di penjara, ulama ini berhasil menyelesaikan penulisan sebuah tafsir Alquran yang sangat monumental, yakni “Risalah Nur”.

Bediuzzaman atau Keajaiban Zaman. Gelar itu ditabalkan sejarah kepada Said Nursi ulama terkemuka dari Turki.

Ia juga dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang paling cemerlang di zaman modern. Secara konsisten, Said Nursi memperjuangkan gagasannya yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern.

Said Nursi juga dikenal sebagai seorang teolog bervisi kokoh yang berupaya menyatukan dunia Islam yang telah retak.

Selama hidupnya, Said Nursi telah melahirkan sejumlah karya penting, salah satunya adalah “Risale-i Nur” atau Risalah Nur, sebuah tafsir Alquran setebal lebih dari enam ribu halaman.

Bagi rakyat Turki, ia tak hanya sekadar ulama dan pemikir agung. Said Nursi juga merupakan pahlawan bagi umat Islam di negara yang dulunya sempat menjadi adidaya dunia lewat Kekhalifahan Turki Usmani.

Selain sempat memimpin pasukan untuk melawan invasi Rusia, secara gencar Said Nursi juga melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk.

Sang ulama dan pemikir agung ini terlahir pada era kemunduran Dinasti Turki Usmani. Ia lahir di Desa Nurs, Provinsi Bitlis Anatolia Timur pada 1877. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye atau Nura. Keluarga itu tinggal bersama masyarakat Kurdistan.

Sukran Vahide, penulis buku Biografi Bediuzzaman Said Nursi, dalam catatan akhirnya, menyebutkan bahwa sang ulama ini adalah seorang sayyid, yakni keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Konon, ibunya adalah seorang Husaini dan ayahnya Hasani. Namun, ia tak pernah menyombongkan nasab keluarganya.

Sukran Vahide membagi kehidupan Said Nursi menjadi tiga periode.

Periode pertama adalah Said Qadim (Said Lama). Periode ini dimulai dari kelahirannya sampai tahun 1920 ketika terjadi transformasi spiritual dalam diri Said Nursi. Nursi sendiri menamainya sebagai Said Qadim.

Periode kedua kehidupannya disebut Said Jadid (Said Baru). Periode itu berlangsung sejak 1920 sampai dengan 1950.

Ketiga adalah Third Said (1950-1960). Sejak kecil, Said Nursi telah menunjukkan kepandaiannya. Ia merupakan seorang anak yang cerdas dan kritis. Ia mulai mempelajari ilmu agama dan ilmu lainnya pada usia sembilan tahun.

Ia pertama kali belajar pada madrasah yang dipimpin Muhammad Afandi di Desa Thag pada 1886. Ia juga menimba ilmu dari para ulama terkenal di daerahnya.

Pada 1891, ia bersama seorang temannya berangkat menuju madrasah di Bayezid, satu daerah di Turki Timur. Di tempat itulah, Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu agama dasar karena sebelum itu ia hanya belajar Nahwu dan Sharaf.

Dalam belajar, Said Nursi menunjukkan kesungguhannya. Dalam waktu tiga bulan, Said Nursi telah membaca seluruh buku. Ia menguasai sekitar 80 kitab, di antaranya “Jam’u al-Jawami”, “Syarh al-Mawakif”, dan “Tuhfah”.

Pada 1894, Said Nursi berangkat menuju KotaVan atas undangan wali kotanya yang bernama Hasan Pasya. Dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain.

Berkat kecerdasan dan kemampuannya menguasai beragam ilmu pengetahuan itulah, sang pemikir agung ini dijuluki Bediuzzaman.

Said Nursi tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada di Turki Usmani.
 
Pada 1907, ia berangkat ke Istanbul untuk menyampaikan usulan kepada pemerintah agar mendirikan Universitas Zahra yang memadukan sains dan iptek dengan agama.

Sayangnya, impiannya itu tak tercapai karena keburu pecahnya Perang Dunia I dan kondisi Turki Usmani yang tidak stabil.

Ketika konstitusi kedua diundangkan dalam sistem Pemerintahan Turki Usmani pada 23
Juli 1908, Said Nursi mendukung pemerintahan konstitusional.

Perhatiannya lebih difokuskan pada kegiatan orasi dan menulis makalah-makalah sebagai media untuk menjelaskan makna kebebasan dalam Islam dan pengaruh Islam dalam kehidupan politik.

Pada 1911, Said Nursi berangkat ke Damaskus untuk menyampaikan khutbah di Masjid Umayyah tentang kondisi umat Muslim dan cara mengatasi masalah-masalahnya. Khutbah itu, beberapa tahun kemudian, diterbitkan dalam sebuah risalah berjudul “Hutbe-I Samiye”.

Cinta tanah air
Sejatinya, Nutdi adalah seorang yang cinta damai, namun ia sangat cinta tanah airnya. Ketika Perang Dunia I meletus dan Turki Usmani pun terlibat, ia pun dengan sigap memanggul senjata dan bergegas ke medan perang.

Said Nursi bersama para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi tentara Rusia.

Selama terlibat dalam pertempuran itu, ia tetap mencurahkan waktunya untuk ilmu pengetahuan. Saat perang saja, ia berhasil menyusun tafsirnya yang sangat berharga yang berjudul “Isyarat al-I’jaz Fi Mazhan al-Ijaz” dalam bahasa Arab.

Penyusunan tafsir ini dikerjakan dengan cara didiktekan kepada seorang muridnya yang bernama Habib. Ketika pasukan tentara Rusia memasuki Kota Bitlis, bersama para muridnya ia berjuang untuk mempertahankannya.

Ia tertangkap oleh pasukan Rusia dan dibawa ke salah satu satu markas tawanan militer di Qosturma yang terletak di timur Rusia. Saat berada di pengasingan sebagai tawanan perang selama dua tahun, Said Nursi berhasil melarikan diri setelah meletusnya Revolusi Bolsyevik.

Said Nursi mengalami transformasi spiritual yang menyebabkannya berubah dari Said Qadim ke Said Jadid.

Setelah pulang ke Istanbul, Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyah. Pengangkatan itu dilakukan tanpa sepengetahuannya.

Pengangkatan itu dilakukan sebagai penghargaan kepada Said Nursi. Darul Hikmah beranggotakan para ulama terkemuka. Ia pun mengalami transformasi spiritual yang menyebabkannya berubah dari Said Qadim ke Said Jadid.

Ketika Inggris berhasil menduduki Istanbul pada 16 Maret 1920, ia menyelesaikan buku karangannya yang berjudul “Al-Khuthuwat as-Sittah” (Enam Langkah) yang mengkritik serangan Inggris.

Atas jasanya terhadap Turki dan Perang Dunia I, ia berulang kali diundang ke Ankara oleh Mustafa Kemal Ataturk. Ia lalu berangkat memenuhi undangan itu pada 1922. Said Nursi tak betah tinggal di Ankara karena kebanyakan anggota dewan tidak aktif shalat, suatu hal yang membuatnya sangat sedih.

Ia pun berpidato di Majelis Nasional pada 19 Januari 1923. Ia berseru agar anggota dewan menjalankan kewajiban Islam. Said Nursi diasingkan pemerintah ke Burdur, Turki Barat, setelah terjadinya pemberontakan di Turki Timur di bawah pimpinan seorang pemimpin Tarekat Naqsyabandiah pada 1925.

Padahal, Said Nursi sama sekali tak terlibat dalam pemberontakan itu. Sejak itu, ia hidup di penjara atau pengasingan selama 24 tahun. Selama periode ini, dia mengarang kitab yang paling monumental, yakni Risalah Nur.

Setelah bebas dari penjara Eskisehir, Nursi dikirim ke tempat pengasingan kedua, yaitu Kastamonu pada 1936 selama tujuh tahun. Selama tinggal di Kastamonu, ia melanjutkan penulisan Risalah Nur.

Pada periode ini, Nursi selalu berkoresponden dengan para muridnya secara rahasia. Surat-suratnya disalin dan disebarkan ke berbagai kampung, desa, dan kota-kota sekitar Kastamonu.

Ia hanya ingin menyelamatkan iman dan Islam masyarakat Turki.

Selama tinggal di Kastamonu, usai dibebaskan dari penjara Eskisehir, Nursi melanjutkan penulisan Risalah Nur.

Pada periode ini, ia selalu berkoresponden dengan para muridnya secara rahasia. Surat-suratnya disalin dan disebarkan ke berbagai kampung, desa, dan kota-kota sekitar Kastamonu.

Aktivitas menyalin pun tumbuh dan berkembang. Di antara para murid yang aktif menyalin ini ada yang berhasil menyalin lebih dari seribu surat. Langkah tersebut akhirnya membuahkan enam ratus ribu eksemplar manuskrip Risalah Nur.

Pada tahun 1943, Nursi dikirim ke Denizli untuk dipenjarakan dengan tuduhan-tuduhan yang tak masuk akal. Ia dipenjara karena menulis Risalah Nur. Pengadilan membentuk tim ahli untuk meneliti Risalah Nur.

Hasilnya, mereka tidak menemukan unsur yang mengharuskan Nursi didakwa dengan tuduhan-tuduhan yang selama ini dialamatkan kepadanya.

Pada 15 Juni 1944, ia dikeluarkan dari penjara Denizli. Namun, Nursi diharuskan menempati sebuah rumah di Kecamatan Emirdag di Afyon. Ia tinggal di Emirdag sampai 1948.

Selama empat tahun, ia dikunjungi masyarakat dan muridnya. Ia berusaha menyebarkan Risalah Nur ke seluruh pelosok Turki melaui para pembacanya.

Pada 23 Januari 1948, polisi menggerebek dan menggeledah rumah Nursi. Ia bersama muridnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel rutan Kota Afyon dengan alasan yang dibuat-buat dan penuh rekayasa.

Selama masa pengasingan dan penjara (1926-1950), halaqah, pengajiannya, tumbuh dan berkembang. Murid-muridnya pun aktif mempelajari Risalah Nur dan menyalin serta menyebarluaskannya ke seluruh penjuru Turki.

Ia telah berupaya untuk menyelamatkan iman di kalangan masyarakat Turki. Setelah 1950, Said Nursi memasuki periode Third Said. Ia sempat terkait dengan kemenangan Partai Demokrat pada 1950.

Tetapi, keterlibatan Nursi dalam bentuk dukungan dan bimbingan kepada Partai Demokrat digambarkannya sebagai ahwan as-syarr (yang paling sedikit keburukannya di antara yang buruk).

Said Nursi mendukung Partai Demokrat agar menghalangi Partai Rakyat Republik untuk tidak memerintah kembali. Pada periode ini, Said Nursi tinggal bersama murid-murid dekatnya untuk membimbing mereka dan mengajar metode dakwah Risalah Nur.

Setelah mengabdikan hidupnya untuk tetap menjaga agama Islam, Said Nursi meninggal dunia pada 1960. Akan tetapi, pemikiran dan ajarannya tetap berkembang dan diterima di seluruh penjuru dunia hingga sekarang.
[yy/republika]