25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Gatoloco dan Darmogandul: Sinisme Terhadap Islam di Awal Abad 20

Gatoloco dan Darmogandul: Sinisme Terhadap Islam di Awal Abad 20


Fiqhislam.com - Soal penghinaan ajaran Islam, bila ditelisik dalam perkembangan sejarah penyebaran Islam di Nusantara—terutama Jawa—sudah berlangsung sangat lama. Semenjak dulu selalu ada sikap dan tindakan pejoratif, sinis, atau bahkan anti-Islam seperti itu.

Salah satu kenyataan itu akan terlihat jelas bila membaca kembali beberapa buku klasik di dalam kesusteraan ‘Jawa baru’, yakni Dermagandul (ada yang menulis Darmogandul) dan Gatoloco (ada juga yang menulis dengan Gato Lotjo).

Pada zaman silam sebelum tahun 1970-an buku ini di Jawa tersebar luas. Orang membicarakan dari mulut ke mulut. Ajaran Islam, fiqh, hingga sosok ulama dan haji jadi bahan olokan. Saking kesalnya, pihak yang tersinggung kerap menyebut olok-olokan  Gatoloco sebagai sebutan ‘kothak-kathik gathuk’ (permaian kata-kata) dengan arti: ‘Digathuk-gathue dadine lucu”  (dihubung-hubungkan yang jadinya lucu).

Buku-buku  ini masih ditemukan pada era Soekarno, tetapi di larang selama Orde Baru. Namun pada 2005 dan 2006,  Dermagandhul diterbitkan ulang di Surakarta dan Yogyakarta oleh pengarang yang tampaknya berbeda, yang merupakan nama samaran (noms de plume)  dari satu penulis yang lebih suka namanya anonim karena takut masih adanya larangan resmi penerbitan.

Namun,  sekitar dua tahun silam, stensilan buku Gatoloco versi penerbit Tan Khoen Swie, Kediri, Tjetakan ke V tahun 1958 masih gampang di dapatkan. Di  kios buku antik yang berada di pinggiran Alun-Alun Utara Surakarta (tak jauh dari Kraton dan Masjid Besar Surakarta) buku ini masih dijual belikan.

Sampul gambar buku sangat sederhana, namun menarik karena terasa antik. Gambar nya memakai lukisan sketsa seorang lelaki yang duduk bersimpuh di depan seorang perempuan yang berdiri di depan sebuah gua. Perempuan itu digambarkan dengan memakai kebaya dan kain. Lekuk tubuh keperempuannya terkesan ditonjolkan. Bahasa buku ini terkesan ‘asli’ karena memakai bahasa Jawa baru.

Jalinan cerita buku ini mengisahkan tentang perdebatan antara tiga sosok kyai (ulama) dengan seorang  lelaki bernama Gatoloco digambarkan sebagai orang yang berpenampilan buruk, berbau busuk, bermulut kotor, penghisap candu, pembantah, filosofis, dan berpikiran seksual. Gatoloco pun tak sendirian. Dia ditemani  bujangnya yang bernama Darmogandu

Sikap ingin menista atau sinis terhadap Islam, tercermin dalam percakapan antara tiga orang ulama dengan Gatoloco. Dalam Bab ke IV, buku Gatholco tebritan Tan Khoen Swie Kediri hal 1958 (Gambuh, 26). Perdebatan ini terkait dengan soal haramnya kaum Muslim memakan daging babi:

(26) Den ingu kawit kuntjung, lah tah sapa wani ganggu-ganggu, luwih kalal saking iwak wedhus pithik, jen asale iwak wedhus, sakko anggone anjenjolong.

(Sudah dipelihara semenjak kecil (babi), lalu siapakah yang berani mengganggu, (karena) lebih halal daging babi itu dari pada kambing- ayam, bila asalnya daging kambing  itu didapat dari mencuri,red).

Mengkaji buku Gatoloco tersebut, sejarawan Australia, MC Ricklefs, (Mengislamkan Jawa, Serambi, Cet 1 November 2013), menyatakan, di antara kaum priyayi di Jawa pada masa itu memang tumbuh sentiment anti-Islam . Mereka beranggapan bahwa peralihan keyakinan ke Islam adalah sebuah kesalahan dan bahwa kunci modernitas yang sesungguhnya  terletak  kesalahan peradaban.

Selain itu,  mereka pun percaya bila kunci modernitas yang sesunguhnya itu terletak pada penggabungan pengetahuan modern ala Eropa dengan restorasi kebudayaan Hindu –Jawa. Islam dalam hal ini dipandang sebagai penyebab mundurnya wujud paling agung dari kebudayaan tersebut: Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1870-an, para penulis dari Kediri memang telah meramu gagasan-gagasan semacam ini di dalam tiga karya sastra yang ‘mengagumkan’, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco, dan Serial Dermagandul, dan mengolok-olok Islam. Karya tersebut ini meramalkan bahwa penolakan terhadap Islam akan terjadi empat abad setelah kejatuhan Majapahit.

Jadi buku ini mungkin ditulis untuk memperingati berdirinya sebuah sekolah milik pemerintah kolonial bagi kaum elite di Probolinggo pada 1878, atau 400 tahun setelah runtuhnya Majapahit sebagaimana secara tradisional diyakini – dan bahkan orang Jawa akan menjadi pemeluk agama Kristen.

Pada bagian lain dalam buku itu, Ricklefs lebih lanjut menyatakan  bila Babad Kediri , yang ditulis pada 1873, itu  menampilkan satu sejarah yang konon rahasia tentang kemenangan Islam di Jawa, kabarnya terjadi karena pengkhianatan Sultan Demak pertama yang memerangi ayahnya senditi dengan para wali di sekitarnya. Di sinilah muncul Sabdo Palon, penasihat Raja Majapahit, yang mendesak Sultan mempertahankan keyakinan Budhanya. Ternyata Sabda Palon adalah dewa punakawan Semar. Pelindung 'adi dunia' bagi semua orang Jawa.

Dalam kajiannya itu Ricklefs juga menyatakan Suluk Gatholoco --benar-benar kasar dan gila-gilaan – ditulis tidak lebih lama dari tahun 1872. Karya ini menghina Islam dari berbagai segi, bahkan menafsirkan ulang kalimat syahadat sebagai metafora hubungan seksual.

Sedangkan buku ketiga, Serat Dermagandhul, menggabungkan revisisonesme Babad Kedhiri dan Kegilaan cabul Gotholoco. Karya ini meramalkan bahwa setelah tiga tahun (yaitu pada 1970-an) orang Jawa akan mengabdikan diri mereka pada pembelajaran moderen dan menjadi orang Jawa sejati kembali, dan kemudian pindah agama ke Kristiani.

Buku-buku luar  ini masih ditemukan pada era Soekarno, tetapi di larang selama Orde Baru. Namun pada 2005 dan 2006,  Dermagandhul diterbitan ulang di Surakarta dan Yogyakarta oleh pengarang yang tampaknya berbeda, yang merupakan nama samara (noms de plume) dari satu penulis yang lebih suka namanya anonym karena takut masih adanya larangan resmi penerbitan.

Namun, beberapa waktu silam stensilan buku Gatoloco versi penerbit Tan Khoen Swie, Kediri, Tjetakan ke V tahun 1958 memang terbukti masih bisa di dapatkan. Di  kios buku antik yang berada di pinggiran Alun-Alun Utara Surakarta (tak jauh dari Kraton dan Masjid Besar Surakarta). Sampul gambar buku ini memakai lukisan sketsa seorang lelaki yang duduk bersimpuh di depan seorang perempuan yang berdiri di depan sebuah gua. Perempuan itu digambarkan dengan memakai kebaya dan kain. Lekuk tubuh keperempuannya terkesan ditonjolkan. [yy/republika]