21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Mendekati Al-Quran

Fiqhislam.com - Ramadhan, bulan berlimpah kebaikan dan keberkahan. Bulan untuk kita ketam pahala dan anugerah-Nya. Tidak ada yang terlewati dari bulan suci ini kecuali semuanya merasakan kedamaian, ketenangan dan kebahagian.

Di antara amalan yang akan mengundang kebaikan dan berpahala besar adalah mendekati dan membaca Alquran. Atau istilah yang lazim kita dengar dan akrab di bulan Ramadhan adalah tadarus Quran.

Inilah amalan yang tersirat dalam Alquran sebagai amalan yang mengundang keberkahan dan sekaligus mendesain Ramadhan kita menjadi terbaik (QS Al-Baqarah, 2: 185).

Mendekati Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu-Nya. Di bulan inilah Alquran menemukan momentumnya.

Syiarnya sangat berasa dan khas. Di hampir pengeras-pengeras suara mushala atau masjid di negeri ini, Alquran didengungkan.

Orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak, remaja dan anak-anak berhimpun bersama, memandangi mushaf, membaca, mempelajari dan mengkajinya.  

Tidak perlu merasa aneh, karena aktivitas tadarus Quran memang sudah melegenda dan turun temurun. Di bulan inilah, Malaikat Jibril turun ke planet bumi untuk menyimak bacaan Alquran Rasulullah.

Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan Alquran sebanyak enam puluh kali.

Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali atau di tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadhan. Subhanallah.

Terkait larangan Nabi Saw. mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, itu berlaku di luar Ramadhan. Sementara di bulan Ramadhan apalagi di sepuluh akhir Ramadhan justru menjadi amalan utama.

Alquran disebut sebagai Ma`dubatullah (hidangan Allah SWT.), sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "
Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian." (HR. Hakim)

Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula kenikmatannya.

Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk mendekati dan membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.

Oleh Muhammad Arifin Ilham
yy/republika.co.id