pustaka.png.orig
basmalah.png


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Zakat Kepada Anak Kandung yang Miskin, Bolehkah?

Tanya: Seorang anak sudah berkeluarga dan bekerja tetapi boleh dikatakan gajinya belum mencukupi. Apakah orangtua anak tersebut boleh berzakat kepadanya dengan kata lain apakah anak tersebut termasuk salah satu dari 8 golongan yang berhak menerima zakat (nmattusin@yahoo.com)

Zakat Kepada Anak Kandung yang Miskin, Bolehkah?Fiqhislam.com - Sebelum menjawab pertanyaan utama Anda, terlebih dahulu perlu dikemukakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah gaji wajib dizakati atau tidak jika telah mencapai nishab (senilai 86 gram emas). Namun, semuanya menetapkan bahwa sebagian penghasilan hendaknya diberikan kepada mereka yang membutuhkan atau sebagai amal sosial dalam bentuk zakat—bagi yang mewajibkannya—dengan persentase tertentu, atau dalam bentuk sedekah—bagi yang tidak mewajibkannya—dengan jumlah sesuai dengan keikhlasan masing-masing.

Tidak ada halangan menyerahkan zakat kepada keluarga jauh yang tidak menjadi tanggungan wajib. Tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang menyerahkan zakat kepada keluarga dekat, seperti ayah, ibu, anak, saudara, paman, dan dengan banyak perincian. Jika keluarga itu berkedudukan sebagai pengelola zakat (‘amil) atau terlantar dalam perjalanan atau memiliki utang akibat amal-amal saleh yang dilakukannya, maka zakat boleh saja diserahkan kepada mereka.

Sebab, waktu itu penyerahannya bukan disebabkan oleh kekerabatan, melainkan oleh sebab lain sebagaimana Anda baca di atas. Tetapi, jika penyerahan itu didasarkan pada alasan bahwa sang kerabat itu fakir miskin, maka ini pun boleh dilakukan dengan syarat bahwa zakat si wajib zakat diserahkan terlebih dahulu kepada BAZIS. Kemudian, lembaga semi pemerintah ini menyerahkannya kepada keluarga dekat seperti ayah, ibu, anak, dan sebagainya.

Tetapi, jika yang bersangkutan sendiri membagikan zakatnya secara langsung kepada keluarga yang wajib ditanggung belanja hidupnya seperti ayah, ibu, dan anak, maka apa yang diserahkannya itu tidak dinilai sebagai zakat, tetapi sedekah.

Sebab, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi yang diriwayatakan oleh Imam Ahmad,“Engkau dan hartamu milik ayahmu.”Apa pun yang secara ikhlas diberikan kepada mereka dinilai sebagai sedekah.

Memang, ada ulama seperti Ibnu Taymiyyah yang berpendapat bahwa boleh menyerahkan zakat kepada kedua orangtua ke atas (nenek dan kakek), atau anak ke bawah (cucu) selama mereka miskin, sementara yang berzakat berpenghasilan pas-pasan dan keadaan dan tanggungannya yang lain (seperti anak dan istri) akan terganggu bila membelanjai lagi orangtuanya.

Prof Dr Quraish Shihab
yy/detik.com