pustaka.png.orig
basmalah.png


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Ayah, Mengapa Ramadhan Kali Ini Berbeda?

Ayah, Mengapa Ramadhan Kali Ini Berbeda?

Fiqhislam.com - Ayah, tak terasa Ramadhan baru saja pergi meninggalkanku. Meninggalkan kita bersama, meninggalkan sisa-sisa kenangan yang bermakna. Kenangan yang kuharap terukir dalam catatan kebaikan kita kelak di akhirat nanti.

Ayah, wajah Ramadhan itu selalu berbeda tiap tahunnya. Begitu juga dengan tahun ini, wajahnya sangat kontras dengan tahun lalu. Tapi yakini, bahwa skenario Allah Swt. ini merupakan sebuah proses penguatan. Banyak mengambil pelajaran.

Ayah, saat sahur tiba tak ada lagi syahdu seruanmu membangunkanku. Tidak juga suara ibu yang lembut nan merdu, dengan sabarnya membangunkanku. Menyadarkanku agar meraih berkah di waktu sahur itu.

Ayah, tidak ada lagi sahutan sahur dari masjid besar dekat rumah kita. Apalagi peringatan waktu imsak yang disertai dentuman meriam buatan hasil rekaman ketua DKM.

Ayah, sahur tahun ini hanya ditemani denting sendok dan garpu atau sedikit candaan yang tampaknya mengarah kepada ‘bully’. Tren anak jaman sekarang yang keterlaluan dan tidak boleh dibudayakan.

Ayah tahu kan? Biasanya aku ditemani dialog-dialog panjang dari film favoritku. Film ini berbeda ayah, tidak seperti yang lain. Penuh hikmah.

Ayah, disini. Di desa ini, yang jauh dari rumah kita. Tiba-tiba saja kumandang adzan dari masjid kecil itu terdengar. Tanpa aba-aba ayah. Aku terkejut, aku masih tenggelam dalam seporsi sahur sederhana ini.

Ayah, aku rindu semua suasana yang selalu kau buat indah itu.

Oya Ayah, ada yang berubah dari shalat tarawih kali ini. Bukan masalah perbedaan rakaat yang selalu menjadi perdebatan, yang seharusnya tak usah diperdebatkan. Karena itu masalah furu’iyyah, itu yang ayah selalu bilang.

Tapi ibadah qiyamul lail di bulan ramadhan ini sama cepatnya dengan kereta Ekspres yang ongkosnya mahal itu. Sehingga makanan yang tadi masuk seakan meronta meminta keluar lagi saking cepatnya.

Yah ayah, jangankan tajwid dan makhorijul huruf. Sepertinya tak ada beda antara panjang dan pendek bacaan huruf yang sebenarnya. Apalagi memikirkan makna yang terkandung masih benar atau tidak.

Ayah, rasanya berbeda Ramadhan kali ini tidak di dekat ayah. Hambar. Hanya memindahkan waktu sarapan pagi menjadi sarapan dini hari, menghilangkan waktu makan siang dan menjadikan waktu makan malam setelah waktu maghrib tiba. Begitu saja setiap harinya.

Lalu memindahkan waktu shalat Tahajjud menjadi setelah isya. Dan terakhir dentuman meriam rekayasa yang menjadi nyata di tempat ini. Maksudnya petasan yang ramai dinyalakan anak-anak di sekitar rumah posko ini.

Tapi ayah akan bilang seperti ini, bukan jauh atau dekatnya jarak ayah denganmu saat Ramadhan tiba. Tapi semua bergantung dengan jauh atau dekatnya kamu dengan Rabb. Dimanapun kamu berada, dengan siapapun dan dalam keadaan apapun. Ketaqwaan itu selalu dan harus sama bahkan meningkat setelah Ramadhan.

Ingat tidak ada sebuah pendapat ulama yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qodar hanya ada satu kali saat Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.? Dan kamu terbukti meraih malam itu saat ibadah, sikap, tutur katamu sama bahkan lebih meningkat di bulan selain bulan Ramadhan.

Meski Ramadhan telah berlalu, harapan itu harus selalu ada dan dipupuk dengan giat. Supaya ketaqwaan ini, ibadah ini, kejujuran dan menahan emosi serta segala hal yang baik tak hanya ada di bulan penuh ampunan ini. Tapi ada di bulan apapun kita berada.

Hanifah Qomariah
yy/islampos.com