pustaka.png
basmalah.png


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Mengarifi Tingkatan Puasa

Mengarifi Tingkatan Puasa
Fiqhislam.com - Bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Bulan yang selalu didambakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi. Saat pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Marhaban ya Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan peningkatan iman bagi Muslim. Di bulan ini, semua umat Islam diwajibkan berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa (QS al- Baqarah: 183). Sebulan lamanya umat Islam akan ditempa menahan hawa nafsu, makan, dan minum sejak terbit hingga terbenam matahari.

Puasa saat Ramadhan haruslah dilaksanakan dengan baik dan benar. Nabi Muhammad SAW bersabda, Banyak orang berpuasa di bulan Ramadan, tapi tidak mendapat pahala puasa selain lapar dan haus." Sebelum menjalani ibadah puasa tahun ini, alangkah lebih baik kita mengetahui, Imam al-Ghazali menerangkan beberapa macam tingkatan puasa seseorang. Beliau membagi puasa menjadi tiga tingkatan.
 
Pertama adalah shaumul awam (puasanya orang-orang awam), kedua shaumul khawas (pusanya orang-orang khusus), ketiga shaumul khawashul khawas (puasanya orang-orang yang sangat khusus).

Marilah kita bahas satu per satu tingkatan puasa yang dimaksud Imam al-Ghazali. Tingkatan puasa pertama merupakan puasa yang hanya memperoleh lapar dan haus saja. Tingkatan pertama ini, yaitu orang yang berpuasa, tapi masih tetap melakukan perbuatan dosa. Puasa yang dilakukan sekadar menahan diri dari rasa lapar dan haus tanpa mengendalikan hawa nafsu.

Kedua, shaumul khawas, yaitu puasanya orang-orang yang khusus. Dikatakan puasa orang-orang yang khusus karena puasa yang dikerjakan tidak hanya menahan lapar dan haus saja. Tingkatan kedua ini dilakukan oleh orang-orang yang berusaha memaknai puasa dengan nilai-nilai baik dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang dalam golongan ini tidak hanya perutnya saja yang berpuasa, tapi hatinya juga ikut puasa. Puasanya orang-orang seperti ini masih memiliki celah untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Celah-celah inilah yang berpeluang menodai puasanya. Tingkatan kedua ini termasuk kriteria yang tidak diinginkan Allah. Bagaimanapun, puasa itu harus dijalankan dengan sepenuh hati.

Ketiga, shaumul khawashul khawas, yaitu orang-orang yang tidak hanya memuasakan perut, tapi seluruh dimensi kehidupannya. Orang yang berada dalam golongan ini mampu menerjemahkan esensi nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak hikmah dan esensi yang dapat diambil dari ibadah puasa. Puasa melatih kesabaran, meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Orang- orang golongan ketiga ini menjadikan puasa sebagai suatu riyadhah (latihan) peningkatan keimanan. Setelah Ramadhan, nilai-nilai riyadhah tetap tertanam dalam diri hingga menjadi perilaku yang memiliki sosok insan kamil (manusia sempurna).

Alangkah bijak jika telah mengetahui kebenaran, lantas dilaksanakan. Introspeksi diri atas puasa yang telah kita laksanakan tahun lalu. Masa lalu haruslah menjadi cermin agar kita senantiasa memperbaiki diri. Semoga, puasa tahun ini lebih baik dari puasa tahun kemarin.

Kamil Mubarok
Ketua Sanggar Budidaya Linguistik UPI 2015
yy/republika