fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


25 Ramadhan 1442  |  Jumat 07 Mei 2021

Puasa Rohani dan Jasmani

Puasa Rohani dan JasmaniOrang yang berpuasa bukan saja bepuasa zahir iaitu tidak makan, minum dan bersetubuh dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan segala perkara yang bisa mengurangi pahala puasa seperti mengumpat dan membuat kezaliman. Rusak sedikit saja niat mengenainya, maka rusaklah puasa rohani.

Puasa jasmani terikat dengan waktu dari terbit fajar hingga terbenam matahari, sementara puasa rohani ikut di dalam kehidupan sementara serta kehidupan abadi di akhirat. Inilah puasa yang sebenarnya. Sekiranya kita hanya mengambil pengertian umum puasa itu, maka jadilah puasa itu sebagai ‘adat’ yang perlu dilakukan setahun sekali.

Oleh itu, amalan berpuasa hendaklah sentiasa diseimbangkan antara puasa rohani dan jasmani. Nabi s.a.w bersabda:

“Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”.
 

Oleh karena itu, walaupun setelah berbuka, tetapi puasa rohani akan berjalan terus walaupun matahari sudah terbenam, walaupun mulut sudah merasakan makanan tetapi mulut yang sama dituntut untuk terus menahan diri daripada mengeluarkan sesuatu yang buruk bahkan hendaklah menjaga segala pancaindera dan pemikiran supaya bebas dari kejahatan dan perkara yang menyakitkan orang lain.

Puasa rohani dan jasmani adalah puasa yang sebenarnya yang akan memberi kesan positif pada jasad karena dapat meningkatkan kesehatan dan dalam waktu yang sama dapat memberi masukan pada roh dari segi ketakwaan. Ini karena kejadian manusia secara fitrahnya terdiri dari jasad dan roh yang perlu ada keseimbangan antara satu sama lain.

Puasa merupakan benteng pertahanan yang dapat menolak segala arus-arus yang dapat membawa kepada keburukan dan maksiat seperti penzinaan, mengumpat dan sebagainya. Justru, umat Islam dituntut memperbanyak membaca al-Quran, berzikir dan lain-lain yang boleh meningkatkan keimanan seseorang.

Rasulullah s.a.w telah memberikan petunjuk kepada umatNya tentang 2 jenis puasa seperti dalam sabda Baginda s.a.w:

“Bagi orang yang berpuasa mendapat 2 kegembiraan; pertama apabila ia berbuka dan kedua apabila ia bertemu Tuhannya”.

Puasa yang pertama ialah puasa jasmani dimana setelah sehari suntuk menahan diri dari segala perkara yang membatalkan puasa maka tibalah masanya untuk berbuka yang digambarkan oleh Nabi s.a.w sebagai suatu kegembiraan yaitu kegembiraan jasmani yang akan menyegarkan kembali tubuh badan serta melakukan kembali segala perkara yang tidak dapat dilakukan sewaktu puasa.

Manakala puasa kedua yaitu puasa rohani juga akan menikmati kegembiraannya apabila ia dapat menghadap Penciptanya dengan menikmati kalimah syahadah untuk menundukkan hatinya pada Allah, bersujud menundukkan seluruh anggota kepada Allah, menunaikan zakat untuk menundukkan hartanya kepada Allah, gembira dengan ibadah puasa yang sempurna untuk menundukkan nafsunya kepada Allah.

Amat berhargalah bagi orang yang mampu berpuasa rohani dan jasmani karena ia dapat menikmati 2 jenis puasa yang merupakan puasa yang sebenarnya dengan menjauhkan diri daripada melakukan sesuatu yang dapat mengundang kemurkaan Allah.

Sesungguhnya, tidak ada yang berharga untuk diingini, tiada yang dikasihi di dalam dunia ini dan di akhirat, melainkan Allah S.W.T. Walau sebiji zarrah saja dari sesuatu memasuki hati selain kecintaan kepada Allah, maka batallah puasa rohani.

Maka, seseorang perlu memperbaharuinya, menghadapkan segala kehendak dan niat kembali kepada Allah S.W.T. Oleh kerana puasa itu begitu besar falsafah ibadahnya dan layaklah hanya Allah saaja yang akan menilai sendiri amalan kita.

Sesungguhnya Allah S.W.T telah berfirman di dalam hadis qudsi: “Puasa adalah untuk-Ku dan hanya Aku yang membalasnya”.

Buat para dai di jalan Allah, sejarah sepanjang Ramadhan membuktikan umat Islam berada ditahap kekuatan kerohanian tertinggi yang mampu diterjemahkan di dalam perjuangan mereka, contohlah mereka.

disertasi.blogspot.com | amiroz.blogspot.com