<
pustaka.png
basmalah.png

Zakat dari Hasil Korupsi

Zakat dari Hasil Korupsi

Fiqhislam.com - Islam selalu memerintahkan bahwa sumber harta, proses memperolehnya, dan pertumbuhannya harus halal dan baik. Allah SWT berfirman:

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS Al Baqarah: 168).

Selain itu, Allah SWT telah melarang semua bentuk dan jenis pendapatan dan harta yang haram dan buruk, baik sumber maupun proses perolehannya. Sebab semuanya itu merupakan tindakan aniaya terhadap orang lain. Allah SWT berfirman:

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil…” (QS Al Baqarah: 188).

Pada zaman sekarang terdapat bermacam harta yang diperoleh dengan cara batil (haram) dan tidak sesuai dengan syariat, misalnya riba, suap, ghasab, penipuan, jual beli jabatan, uang palsu, judi, pencopetan, pencurian, cuci uang (money laundering), korupsi, hasil dari jual beli barang yang diharamkan, seperti babi, narkoba, dan minuman keras.

Semua jenis harta di atas, tidak wajib dizakati atau tidak tunduk kepada aturan Zakat. Ini berdasarkan firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Al Baqarah: 267).

Harta hasil korupsi pada dasarnya merupakan harta yang diperoleh dari cara yang tidak halal/haram. Karena itu hukumnya berlaku sebagaimana harta-harta haram lainnya.

Pemegang harta haram, jika dia mengeluarkan zakat atas harta tersebut maka zakatnya tidak sah dan tidak akan diterima, sebagaimana kaidah ushul fiqih mengatakan:

Maa haruma akhdzuhu haruma i'thoouhu” artinya sesuatu yang diharamkan mengambilnya, maka diharamkan pula memberikannya. Demikian pula dia tidak mendapatkan pahala dari apa yang dilakukan, sebaliknya dia berdosa karena masih memegang harta haram.

Beberapa dalil yang menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

• Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu bagus (baik); tidak menerima kecuali dari yang baik pula, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimana Dia perintahkan kepada para Rasul, lalu berfirman: ‘Hai para Rasul makanlah yang baik-baik dan berbuatlah yang baik pula…’ (QS Al Mu’minun: 51) dan 'Hai orang-orang beriman makanlah yang baik-baik dari rizqi yang Kami berikan kepada kalian…’(QS. Al-Baqarah: 172). (Sahih Muslim, Zakat (1015); Sunan Tirmidzi, tafsir Al-Qur’an (2989); Musnad Ahmad (2/328); Sunan Ad-Darimi, Ar-Riqaq (2717).

Syeikh Al Mubarakafuri dalam kitab Tuhfat Al Ahwadzi menerangkan: kata “Thayyib” di dalam hadits ini artinya yang halal, ini berarti harta yang tidak halal/haram tidak akan diterima. Lalu menyadur perkataan Imam Al Qurtubi: “Sesungguhnya Allah tidak menerima sadaqah/zakat dengan yang haram, karena harta haram bukan milik yang bersedekah dan dilarang baginya untuk menyalurkannya” (Tuhfat Al Ahwadzi syarah Sunan Tirmidzi)

• Dari Ibnu Umar ra, beliau terima dari Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci (berwudhu), dan tidak menerima sadaqah/zakat dari harta curian/korupsi (Ghulul)" (Sahih Muslim, bab Wujub ath-thaharah li ash-shalat (557); Sunan Nasa’i, Thaharah (139); Sunan Abu Daud, Thaharah (59); Sunan ibnu Majah, Thaharah (271); Musnad Ahmad (5/74); Sunan Ad-Darimi, Thaharah (686).

• Dari Ibnu Mas’ud RA beliau terima dari Nabi SAW bersabda: “Seorang hamba memperoleh harta haram lalu menginfakkannya seolah-olah diberkahi dan menyedekahkannya semua hartanya seolah-olah diterima melainkan usahanya itu makin mendorongnya masuk ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan keburukan dengan keburukan, akan tetapi menghapuskan keburukan dengan kebaikan; sesungguhnya kenistaan tidak akan menghapuskan kenistaan” (Musnad Ahmad 1/387).

• Ibnu Abbas RA pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan kezaliman dan mengambil harta haram, lalu dia bertaubat kemudian berhaji, berumrah, dan bersedekah dengan harta haram itu, beliau menjawab: 'Sesungguhnya keburukan tidak akan menghapuskan keburukan'.

Demikian juga Ibnu Mas’ud RA berkata: “Sungguh yang buruk tidak akan menghapus yang buruk, tetapi yang baik akan menghapus yang buruk”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: 85)

• Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Ketahuilah bahwa sadaqah/zakat dengan harta haram mencakup dua hal:

Pertama: Si pelaku pencurian/korupsi bersedekah untuk dirinya, maka perbuatan itu tidak akan diterima sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rasul.

Demikian pula dia tidak akan mendapat pahala, bahkan berdosa dengan memberikan harta yang bukan miliknya tanpa izin; pemilik harta tersebut pun tidak mendapat pahala karena dia tidak meniatkan untuk itu. Itulah pendapat sejumlah ulama di antaranya: Ibnu ‘Aqil.

Kedua: Si pelaku pencurian/korupsi bersedekah untuk pemilik harta itu apabila tidak memungkinkan untuk mengembalikannya kepada si pemilik maupun ahli warisnya. Hal ini boleh dilakukan berdasarkan pendapat sebagian besar ulama di antaranya Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dll.

Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa harta haram sebaiknya disimpan dan tidak boleh disedekahkan sampai betul-betul ada kejelasan siapa pemiliknya (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: 86-90).

Wallahu a’lam bishhawab.

Ustaz Kardita Kintabuwana, Lc, MA
Dewan Syariah Rumah Zakat (kem)

okezone.com

 

top