pustaka.png
basmalah2.png.orig


14 Dzulqa'dah 1444  |  Sabtu 03 Juni 2023

Puasa Regenerasikan Jaringan Tubuh

Puasa Regenerasikan Jaringan Tubuh

Fiqhislam.com - Demi mencapai hidup sehat dan bersih, puasa memiliki banyak sekali manfaat. Islam menginginkan umatnya agar senantiasa sehat, bersih, dinamis, gesit dan energik. "Berpuasalah supaya sehat," ucap Nabi Muhammad SAW.

Banyak pula ahli medis kini yang membenarkan dan mengakui berbagai manfaat puasa yang menjamin kesehatan tubuh dan pikiran. Beberapa manfaat positif juga terbukti memiliki pengaruh langsung pada psikologi dan fisik dari mereka yang puasa.

Setelah melalui berbagai penelitian, puasa diketahui mampu dijadikan pengobatan efektif untuk gangguan psikologis dan emosional. Selain menjaga ketahanan dan kemampuan untuk menghadapi kesulitan serta daya tahan, puasa juga memperbaiki penampilan fisik. Dengan manahan rasa lapar sehingga menyingkirkan lemak berlebih.

Manfaat puasa terhadap kesehatan tidak berhenti di sana, ada pula benefit dalam menghindari sejumlah risiko penyakit, termasuk masalah sistem pencernaan, seperti sakit perut kronis, radang usus, penyakit hati, gangguan pencernaan, dan kondisi seperti obesitas, arteriosklerosis, tekanan darah tinggi, asma, dan difteri.

Seorang dokter asal Swiss, Dr Barsilus, mencatat, "Keuntungan menahan lapar melebihi metode medis." Maka itu, tak mengherankan bila beberapa dokter menyarankan pasiennya untuk melewatkan waktu makan, kadang-kadang selama beberapa hari, sebelum pola makan mereka terkontrol.

Secara umum, puasa mempercepat penghancuran jaringan tubuh yang membusuk dengan rasa lapar kemudian membangun jaringan baru melalui nutrisi. Inilah sebabnya mengapa beberapa ilmuwan menyarankan bahwa puasa harus dianggap sebagai cara yang efektif untuk awet muda dan berumur panjang. Namun, Islam tak memberatkan umatnya. Mereka yang sakit, lansia, atau tak mampu dibebaskan dari kewajiban berpuasa.

Namun, puasa bukan sekadar menahan lapar dengan membatasi makanan. Islam merekomendasikan makanan pada dini hari yakni sahur. Dan untuk mendapatkan kesehatan yang baik, seseorang juga harus menahan diri makan berlebihan kala berbuka puasa.


Detoksifikasi Tubuh dengan Puasa

Anda tentu sudah mengenal istilah detoksifikasi atau pembersihan diri dari racun-racun di dalam tubuh. Mungkin Anda mengenal beberapa terapi atau cara mendetoksifikasi, mulai dari terapi air putih hingga hanya makan buah dan sayuran selama beberapa minggu bahkan berbulan-bulan.

Namun, tanpa Anda sadari selama bulan Ramadhan ini (bagi Anda yang berpuasa) merupakan salah satu terapi detoksifikasi. Proses detoksifikasi dengan cara berpuasa merupakan salah satu cara yang efektif dalam membuang racun dari dalam tubuh secara alami.

Berpuasa selama sebulan atau paling tidak 30 hari, dapat membuang sekitar 90% racun yang ada di dalam tubuh dan akan terkuras keluar melalui urin, keringat dan feses. Namun, proses detoksifikasi akan percuma jika Anda tidak mengatur pola makan baik pada saat sahur maupun ketika berbuka.

Puasa membantu tubuh memasuki proses autolisis, yakni pengeluaran sisa-sisa metabolisme dan zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh. Pada saat itulah tubuh mengalami detoksifikasi atau pembersihan terhadap racun, jika dibiarkan terlalu lama, racun tadi akan menjadi penyakit.

Bahkan hasil penelitian oleh peneliti Institut Pasteur, Lille, Prancis, menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan kolesterol baik dalam darah yang disebut dengan High Density Lipoproteins (HDL) sekitar 14.3%, dan menurunkan lemak trigliserol di sekitar 30%. Lemak trigliserol merupakan "bahan" pembentuk kolesterol jahat atau Low Density Lipoproteins (LDL) yang dapat merusak kesehatan.

Puasa selain sebagai sarana untuk mendetoksifikasi ruhani, ternyata juga sebagai detoksifikasi jasmani

Purwanti | mediaindonesia.com