fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Meneladani Puasa dengan Ilmu Ikhlas

Meneladani Puasa dengan Ilmu Ikhlas Fiqhislam.com - Puasa bukan sekadar menahan makan, minum, dan berhubungan suami-istri sejak fajar hingga matahari terbenam. Puasa juga memiliki makna hakiki, yaitu menumbuhkan keikhlasan. 

Beramal hanya untuk mendapatkan keridaan Allah SWT. Puasa model inilah yang di dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman: “As-shaumu lii,wa ana ajzi bihi’’. (Puasa itu untuk Aku (Allah), dan Aku (Allah) sendiri yang akan membalasnya). Hadis ini memberikan pengertian kepada kita betapa pentingnya arti keikhlasan.

Tanpa keikhlasan,atau sekadar pamer, semua amal ibadah kita akan sia-sia. Seperti api yang melahap habis kayu bakar. Hadis ini juga mengajarkan kepada kita bahwa pelaksanaan puasa harus sesuai dengan syariat Allah yang mewajibkan kepada setiap hamba-Nya untuk mendasari amal perbuatannya dengan ilmu. 

Karena itu, salah satu refleksi dari puasa di bulan Ramadan adalah kesadaran kita, orang-orang yang beriman, untuk meningkatkan pendalaman ilmu pengetahuan. Bukan hanya ilmu di bidang agama seperti fikih, hadis, dan sebagainya,melainkan juga ilmu yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia. 

Di antara ilmu yang sangat diperlukan adalah ilmu keterampilan. Dengan memiliki ilmu keterampilan, manusia tidak akan bergantung pada orang lain dan akan bersandar pada kekuatandirinya sendiri. Rasulullah bersabda: ’’Al-i’timadu ‘ala nafsi asasun najah’’. Bersandar kepada kekuatan sendiri adalah dasar seseorang mendapatkan kesuksesan

Pantaslah Imam Nawawi Al-Bantani meletakkan hukum fardhu kifayah terhadap mempelajari ilmu keterampilan itu.Fardhu kifayah ini wajib dilakukan. Sebagian masyarakat harus ada yang mau belajar ilmu keterampilan.

Banyak contoh yang dapat kita temukan dari saudara- saudara kita yang karena ilmu keterampilannya dapat mengubah hidupnya menjadi lebih sejahtera. Ini karena dengan skill yang dimiliki, barang yang semula tidak berguna dapat diubah menjadi barang berharga. 

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya dapat mengubah kulit telur yang tidak berharga menjadi sesuatu yang sangat bernilai dan mahal harganya. Apalagi kalau kita memiliki ilmu keterampilan untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki negeri tercinta ini. 

Bukankah Allah telah berfirman melalui ayat Alquran bahwa menghidupi satu manusia pahalanya sama dengan menghidupi manusia sealam jagat raya ini? Untuk itu, harus kita buang jauh-jauh di bulan suci Ramadan ini sifat malas yang berasal dari setan. Setan wataknya menumbuhkan kemiskinan dan permusuhan. 

Karena itulah, kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar dijauhkan dari mengantuk dan malas. Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali. Ramadan adalah satu bulan yang para setan diikat Allah SWT untuk tidak leluasa menggoda manusia agar bermalas-malasan.

Dapat disimpulkan,puasa bermakna memperbaiki etos kerja supaya kita tidak terjebak kepada watak miskin dan permusuhan. Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, mengatakan bahwa puasa adalah pintu segala ibadah. Melalui puasa, kita bisa memasuki ibadah-ibadah lain, baik mahdhoh maupun ghairu mahdhoh. 

Semoga Ramadan tahun ini mampu membuang jauhjauh kemalasan kita untuk menciptakan etos kerja yang baik dan terhindar dari pengaruh iblis dan setan dengan kita jadikan puasa Ramadan sebagai pintu terbukanya kesejahteraan kehidupan kita yang intinya adalah ibadah.

SURYADHARMA ALI | Menteri Agama Republik Indonesia

seputar-indonesia.com