pustaka.png
basmalah.png.orig


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Perkuat Tauhid di Bulan Suci

Perkuat Tauhid di Bulan SuciBulan Ramadan bulan ampunan. Saatnya kita meraih ampunan Allah di dalamnya. Sebelum ampunan kita mohonkan, terlebih dahulu tauhid mesti dikuatkan. Walaupun banyak membaca istighfar, apabila tujuannya bukan karena Allah SWT semata, ingin taubatnya dilihat orang misalnya, maka taubatnya dinilai tidak sempurna. Karena lisannya bertaubat, namun hatinya masih karena makhluk. Padahal Allah SWT mengetahui yang tersembunyi di dalam hatinya.

Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini yang mesti dipahami hamba-Nya, yakni bertauhid yang melandasi setiap taubatnya:

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah,  melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad (47) : 19)

Bulan Ramadan adalah bulan peningkatan ibadah. Pada bulan ini sangat penting bagi kita untuk meningkatkan ibadah, karena memang diperintahkan Allah SWT. Namun jika tauhid tidak menyertainya, maka ibadahnya bisa tidak terima. Shalat tarawih hanya karena malu oleh tetangga, misalnya, maka ia beribadah bukan untuk Allah, masih karena penilaian makhluk.

Untuk bisa mendapat tauhid yang kuat, maka kita harus memiliki kuncinya, yakni, berharap hanya kepada Allah.

Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 129, “…. Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.

Mengapa harus berharap  kepada Allah, karena Allah yang Maha Kuasa terhadap apa yang terjadi di dunia ini, apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua dikehendaki oleh Allah, Allah menghendaki yang menimpa diri kita dengan suatu tujuan, setiap kejadian yang menimpa kita, itulah keputusan terbaik dari-Nya setelah ikhtiar terbaik yang kita lakukan, doa maupun jeritan hati kita didengar oleh Allah karena Dia begitu dekat. Apa pun karunia, sekecil dan sebesar apa pun, Allah-lah yang mengkaruniakannya. Sehat, kelapangan, kecukupan, rejeki, dan kepahitan dan kesengsaraan pun datang dengan ijin Allah dan terdapat hikmah di dalamnya; pasti datang karena kemurahan dan kebaikan Allah. Nelangsa itu karena hati kita yang bergantung kepada selain Allah. Ketika diberi kepahitan ujian, lalu hati kita mulai bersandar kuat kepada Allah, maka akan dirasakan kesadaran bahwa ketika hati tergatung kepada selain Allah, di saat itulah yang membuat hati merasa sakit.

Keyakinan ini harus tertanam kuat di dalam diri kita, agar jangan sampai harapan kita berikan kepada makhluk, misalnya berharap untuk dipuji atas kebaikan-kebaikan kita, atau apa saja yang menjadikan makhluk menjadi tujuan harapan. Padahal makhluk tidak bisa memberi karunia nikmat tanpa ijin Allah, sehalus apa pun. Karena memiliki pandangan bahwa makhluk menjadi sumber datangnya nikmat, akan menjadi menjadikan makhluk tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam QS. an-Nahl (16) : 53

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Manusia tidak bisa menolong kita kecuali Allah yang menggerakkan. Keyakinan ini penting untuk dimiliki, karena jika tidak dimiliki akan menjadikan tauhid kita rusak. Memang tingkatan ilmu itu berbeda-beda. Allah Maha Mengetahui, namun kita pun dituntut untuk senantiasa meningkatkan keilmuan tauhid ini agar semakin mengenal Allah. Kita harus menyadari betul bahwa Allah lah yang menguasai masalah, dan tentu saja yang menguasai solusinya. Kita perlu paham bahwa semua takdir kejadian adalah untuk kebaikan kita, karena Allah pasti sayang pada kita. Serahkanlah pada Allah, karena pasti Allah memberikan yang terbaik buat kita

Bagi seorang da’i yang memiliki tauhidnya kuat, maka dakwahnya akan senantiasa sesuai dengan amal perbuatannya. Namun, apabila tidak, maka jika ia mengajarkan orang lain, padahal dirinya sendiri bisa jadi tidak dilakukannya. Pada saat bercerita seakan-akan menjadi ahli sholat yang khusyuk, padahal tidak seperti itu, maka ia seperti tukang bohong.

Kita awali dari segala hal untuk mengurus ketauhidan. Dalam bentuk apa pun lepaskan harapan dari makhluk untuk pribadi kita. Berharaplah hanya dari Allah SWT apa yang kita harapkan, karena Allah yang menguasai segala sesuatu dan harapan kita itu. Sehingga yang paling pokok pula saat Ramadan ini, adalah memeriksa tujuan dari amal-amal kita. Karena sehebat apa pun amal tersebut, tetapi kalau niatnya ingin dipuji, maka sudah melenceng dari yang seharusnya. Amalannya akan seperti tanah di atas batu, ketika ditiup angin, tanah itu bisa cepat hilang.

Ayo kita isi bulan suci ini dengan berbagai kebaikan karena semata-mata untuk Allah SWT. Tiap detiknya demikian berharga, bergeraklah terus berbuat kebajikan.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

eramuslim.com