14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Merayakan Ketakwaan

Merayakan Ketakwaan

Fiqhislam.com - Bertakwa adalah tujuan puasa yang dilakukan oleh kaum mukminin selama sebulan penuh pada Ramadhan yang telah berlalu. Hal itu sesuai dengan pesan Allah SWT yang dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 183. “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Oleh karena itu, merayakan berakhirnya bulan puasa Ramadhan pada hakikatnya adalah merayakan ketakwaan. Merayakan kemuliaan manusia karena akan menjadi Muttaqin atau orang yang bertakwa.

Ketakwaan bagi Allah SWT adalah indikator utama bagi manusia yang paling mulia (QS al-Hujuraat: 13). Suatu derajat kepasrahan, kepatuhan, dan keyakinan paling luhur tentang tidak adanya Tuhan kecuali Allah SWT dan kesaksian bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Derajat langitan yang mengikat raga sekaligus mengangkat jiwa menjadi tenang (mutmainnah).

Takwa bukan hanya sebagai anugerah atas capaian kaum mukminin yang telah benar-benar melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, tapi juga bekal berharga bagi laku-lampah ke depan. Karena takwa adalah sebaik-baiknya bekal kehidupan (QS al-Baqarah: 197) di dunia yang fana dan kelak di akhirat yang kekal. Bekal yang membuat manusia bisa memelihara diri dari perbuatan hina dan menghinakan.

Selain itu, takwa juga adalah pakaian bagi kaum Muslimin karena menurut Allah SWT, pakaian yang terbaik adalah takwa. Yakni selalu memelihara diri dari “bendu” Allah SWT dengan mengikuti segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Karenanya, mereka senantiasa memiliki jiwa dan raga yang terlindungi sekaligus terhiasi sedemikian rupa dengan pakaian takwa.

Dengan bekal dan pakaian takwa tersebut, sebagaimana tersirat dalam sejumlah firman Allah, manusia akan terdorong selalu mengamalkan semua unsur perilaku saleh dengan dasar beriman dan mencari ridha Allah (QS al-Baqarah: 1-5); senantiasa memelihara hubungan silaturahim (QS an-Nisa: 1); mendirikan tempat ibadah untuk kesatuan umat, bukan untuk memecah belah persatuan umat (QS at-Taubah: 107-110); dan senantiasa berbuat kebajikan serta menjauhi kemungkaran, seperti berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa senantiasa dijawab dengan kata-kata baik (QS al-Furqaan: 63-73).

Suatu tindakan yang mencerminkan kearifan atau kebijaksanaan dan keadilan.

Oleh karena itu, merayakan ketakwaan pada hakikatnya adalah mengukuhkan kemenangan diri sebagai Muttaqin. Yang berarti selalu mengagungkan nilai-nilai Ketuhanan melalui shalat, qira’at, dan taat akan adanya (kehidupan) akhirat.

Dan, membumikan nilai-nilai kemanusiaan dengan selalu menafkahkan sebagian rezekinya agar tercipta kemakmuran dan keadilan bagi sesama. Wallahu a'lam bi shawab. [yy/republika]

Oleh Asep Sahid Gatara

 


 

Tags: Ketakwaan | Takwa