18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Ibadah Puasa Ramadhan Menjadi Alat Ukur Ketakwaan Manusia

Ibadah Puasa Ramadhan Menjadi Alat Ukur Ketakwaan Manusia

Fiqhislam.com - Ibadah puasa Ramadhan cara manusia mendidik dirinya sendiri. Mendidik untuk menghentikan sejenak rutinitas perut, mulut, dan hubungan suami istri serta upaya melepaskan diri dari melekatnya kepentingan dunia

Ibadah puasa ini merupakan ajaran yang sudah begitu lama dan berlaku kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad. Tujuannya adalah untuk menjadi manusia yang bertakwa.

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal menjelaskan, seorang ulama besar yaitu Imam Ibnu Rajab al-Hambal yang mengatakan bahwa takwa adalah ketika seorang hamba membuat sebuah perlindungan dari segala sesuatu yang ditakutkan antara diri dan siksa Allah SWT.

Selain itu, menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, takwa adalah mengamalkan segala bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang didasari dengan keimanan dan harapan terhadap ridha Allah, baik dengan menjalakan segala perintah atau menjauhi segala larangan-Nya.

“Allah berjanji pada orang bertakwa, saya kira banyak ayat-ayat takwa. Misalnya, disiapkan surga yang sedemikian dahsyat, yang kenikmatannya itu tidak pernah terbayangkan oleh apapun, tidak pernah terlihat oleh indera mata kita, bahkan tidak sanggup kita imajinasikan. Itu yang Allah janjikan kepada orang-orang yang bertakwa,” tutur Fathurrahman dikutip dari laman Muhammadiyah.

Karenanya, kata Fathurrahman, takwa adalah komitmen umat untuk menjadi hamba Allah yang semurni-murninya. Dengan takwa dapat meraih kunci ridha Allah yang kemudian diwujudkan secara nyata dalam bentuk surga, lengkap dengan segala kenikmatan tiada tara.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka.” (QS ath-Thur: 17-18). [yy/okezone]