<
pustaka.png
basmalah.png

Benarkah Seluruh Kitab Suci Diturunkan Saat Ramadhan?

Benarkah Seluruh Kitab Suci Diturunkan Saat Ramadhan?

Fiqhislam.com - Kitab-kitab suci Allah SWT yang diturunkan pada sejumlah nabi dan rasul berlangsung saat Ramadhan, tak terkecuali Al Quran. Dan ternyata keseluruhan Al Quran telah diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia saat Ramadhan.

"Selanjutnya, Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur menurut kepentingannya selama 23 tahun," kata Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi dalam kitab Fadhilah Ramadhan.

Syekh Maulana Muhammad Zakariyya menyampaikan, Nabi Ibrahim AS telah menerima shuhufnya pada 1 atau 3 Ramadhan. Nabi Daud menerima Zabur 18 atau 12 Ramadhan, Nabi Musa AS menerima Taurat 6 Ramadhan. Nabi Isa AS menerima Injil tanggal 12 atau 13 Ramadhan.

"Dari situ dapat diketahui adanya hubungan yang erat antara kitab-kitab suci dan bulan Ramadhan," katanya.

Oleh karena itu kata Syekh Maulana Muhammad zakariyya hendaknya kita membaca Al Quran sebanyak mungkin pada bulan ini. Demikian kebiasaan para waliyullah.

Malaikat Jibril pun membacakan seluruh Al Quran kepada baginda Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadhan, setiap tahun. Riwayat lain menyatakan bahwa baginda Nabi SAW yang membaca dan malaikat Jibril yang mendengarkan.

"Dengan menggabungkan dua riwayat tersebut, para ulama menyatakan bahwa mustahab (sangat dianjurkan) kita membaca Al Quran dengan cara seperti itu suatu orang membaca, yang lain mendengarkan secara bergantian," katanya

Artinya kata Syekh Maulana Muhammad, hedaknya sedapat mungkin umat Islam bersungguh-sungguh dalam membaca Al Quran. Waktu yang tidak digunakan untuk membaca Al Quran sebaiknya jangan pula disia-siakan.

Menurut Syekh Maulana di akhir hadits di atas baginda SAW menganjurkan empat hal agar kita mengamalkannya sebanyak mungkin pada Ramadhan yaitu membaca kalimat thayyibah beristighfar memohon dimasukkan ke dalam surga, dan berlindung dari jahannam. Oleh karena itu seluruh waktu luang yang dimiliki hendannya kita gunakan untuk empat amalan tersebut.

"Dan mesti kita anggap hal itu sebagai suatu keberuntungan. Inilah cara menghargai sabda baginda Nabi," katanya

Syekh Muhammad Zakariyya menyarankan agar umat Islam membiasakan lidah dengan bershalawat atau mengucapkan kalimat Thayyibah dalam kesibukan dunia, sehingga lisannya kelak akan terbiasa dengan kalimat-kalimat dzikir. [yy/republika]

 


 

top