fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Optimalisasi Pahala

Optimalisasi Pahala


Fiqhislam.com - Kita sebagai makhluk ciptaan Allah harus menyadari dengan sepenuhnya bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada- Nya (QS adz-Dzariyat [51]: 56).

Maka, kita beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan benar sesuai tuntunan syariat agar diterima-Nya, tentu dengan harapan memperoleh karunia, ridha, dan pahala dari-Nya. Sehingga, perlu berusaha dengan maksimal untuk optimalisasi pahala tersebut, selain memperbanyak ibadah sunah.

Beberapa hadis menerangkan balasan pahala berlipat ganda sesuai tempat ibadah. Pertama "Shalat di Masjid al-Haram lebih utama 100 ribu kali jika dibandingkan masjid yang lain." (HR Ah mad dan Ibnu Majah). "Shalat di masjidku ini (Nabawi) seribu kali lebih baik daripada masjid lainnya, kecuali Masjid al-Haram." (HR Bukhari dan Muslim). "Dan di Masjid Baitul Maqdis 500 kali shalat (melebihi masjid lainnya)." (HR Baihaqi). Kedua "Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian 27 kali derajat." (HR Muslim).

Sedangkan keutamaan waktu ibadah di antaranya bulan Ramadhan, dimana terdapat lailatul qadr yang bernilai seribu bulan (QS al-Qadr [97]: 2-3). Selain itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah (QS al- Fajr [89]: 2-3).

Pahala berlipat ganda dari keutamaan amal dan ibadah diterangkan dalam beberapa ayat berikut. "Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak." (QS al-Baqarah [2]: 245). "Hanya orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS az-Zumar [39]: 10). Agar tidak terhapus, umat Islam diimbau tidak mempersekutukan Allah (QS al-An'am [6]: 88) juga tidak riya. "Bersikap riya itu termasuk syirik." (HR Hakim). Ketiga, tidak mengungkit sedekah yang menyakiti perasaan yang menerima sedekah (QS al-Baqarah [2]: 264).

Keempat, tidak murtad (QS al- Baqarah [2]: 217). Kelima, tidak iri dan dengki. "Hindarilah iri dan dengki karena akan memakan (pahala) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR Abu Dawud). Keenam, tidak zalim kepada orang lain. "Orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat lengkap dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun (ketika di dunia) dia itu ia telah mencaci dan menuduh orang lain, memakan hartanya, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi (pahala) kebaikan amalnya. Jika sudah habis (pahala) kebaikannya maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka." (HR Muslim). Wallahu a'lam.  [yy/republika]

Oleh Sigit Indrijono