pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Fatwa Qaradhawi: Pengaruh Maksiat Terhadap Ibadah Puasa

Fiqhislam.com - Puasa yang bermanfaat dan diterima Allah ialah yang dapat membersihkan jiwa, menguatkan kemauan kepada kebaikan, dan membuahkan takwa sebagaimana tersebut dalam firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan alas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Fatwa Qaradhawi: Pengaruh Maksiat Terhadap Ibadah PuasaOleh sebab itu, wajib bagi orang yang berpuasa untuk menahan diri dari perkataan atau perbuatan yang meniadakan puasanya, sehingga dalam menjalankan puasa ia tidak hanya mendapatkan lapar dan haus, serta tidak terhalang dari pahala.

Namun, bagaimanakah hukum orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan apabila dia mengumpat, berdusta, atau melihat wanita lain (bukan mahram) dengan bersyahwat? Apakah sah puasanya?

Dalam hadis disebutkan, "Puasa itu perisai, maka apabila salah seorang dari kamu sedang berpuasa janganlah berkata kotor dan berbuat pandir (tolol); dan apabila ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar maka hendaklah ia berkata, ’Sesungguhnya aku berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya itu melainkan lapar. Dan betapa banyak orang yang melakukan shalat malam, tetapi ia tidak mendapatkan sesuatu dari shalat malamnya itu kecuali tidak tidur."

Menurut Ibnu Arabi, hadis ini mengandung makna bahwa orang tersebut tidak diberi pahala atas puasanya. Dan hal ini menunjukkan bahwa pahala puasa itu hilang disebabkan ucapan dusta dan dosa-dosa lain seperti yang telah disebutkan.

Ibnu Hazm berpendapat, bahwa hal-hal tersebut membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum. Pendapat seperti ini juga diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in.

Syekh Yusuf Qardhawi sendiri sebenarnya tidak sepaham dengan Ibnu Hazm. Namun, dia berpendapat bahwa kemaksiatan dapat menghilangkan ’buah’ puasa dan merusak maksud disyariatkannya puasa itu sendiri.

Karena itulah para salaf yang saleh dahulu menaruh perhatian yang besar untuk menjaga puasa dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia dan haram sebagaimana mereka memeliharanya dari makan dan minum.

Jabir RA berkata, "Apabila engkau berpuasa, maka hendaklah pendengaran, penglihatan. dan lisanmu juga berpuasa dari dusta dan dosa-dosa. Janganlah engkau menyakiti pembantu, hendaklah engkau bersikap merendah dan tenang pada saat berpuasa. Dan janganlah engkau samakan hari berbuka dan hari berpuasamu.

Abu Dzar pernah berkata kepada Thaliq bin Qais, "Apabila engkau berpuasa, maka jagalah dirimu semampu mungkin." Oleh karena itu, jika sedang berpuasa Thaliq tidak keluar rumah kecuali untuk menunaikan shalat.

Abu Hurairah dan sahabat-sahabatnya apabila berpuasa mereka duduk di masjid, dan mereka berkata, "Kami menyucikan puasa kami.

Maimun bin Mahran berkata, "Puasa yang paling ringan ialah puasa dari makan dan minum.”

Bagaimanapun juga, puasa memiliki pengaruh dan pahala, demikian pula ghibah, dusta, dan sebagainya, ada sanksi dan balasannya di sisi Allah. “... dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS. Ar-Ra'd: 8).

Renungkanlah hadis Nabi SAW berikut ini yang menunjukkan betapa halus dan adil hisab Allah di akhirat nanti.

Imam Ahmad dan Imani Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ada seorang sahabat Rasulullah SAW duduk di hadapan beliau seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, saya mempunyai beberapa orang budak, tetapi mereka berdusta dan melanggar kepadaku, lalu saya pukul dan saya caci maki mereka Maka bagaimanakah kedudukan saya terhadap mereka kelak pada hari kiamat?"

Rasulullah SAW menjawab, “Pengkhianatan, pelanggaran, dan kebohongan mereka terhadapmu serta hukumanmu terhadap mereka semuanya akan dihisab. Jika hukumanmu terhadap mereka masih di bawah dosa-dosa mereka, maka engkau memperoleh kelebihan.

Tetapi, jika hukumanmu terhadap mereka melebihi dosa-dosa mereka, maka engkau akan dikenai balasan, kelebihan yang telah engkau peroleh sebelumnya akan diambil.” Lalu orang itu menangis dan menjerit di hadapan Rasulullah SAW.

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Mengapa tidak membaca firman Allah ini, "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)-nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya: 47).

Akhirnya orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak menjumpai sesuatu yang lebih baik daripada berpisah dari mereka (yakni budak-budaknya), maka saya persaksikan kepadamu bahwa mereka seluruhnya telah merdeka.

republika.co.id

Tags: Qaradhawi