fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


25 Ramadhan 1442  |  Jumat 07 Mei 2021

Hal yang Sebenarnya Boleh Dilakukan dan tidak Membatalkan Puasa

Fiqhislam.com - Ada beberapa hal yang sebenarnya boleh dilakukan oleh orang yang berpuasa. Kebanyakan informasi yang beredar di masyarakat muslim yang mengatakan hal tersebut tidak boleh dilakukan, bahkan ada yang mengatakan sampai membatalkan puasa.

Namun sebenarnya hal itu boleh dilakukan. Beberapa hal yang mubah tersebut antara lain sebagai berikut;

1. Mandi dengan berenang, atau menyelam di air. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Malik, dan Abu Daud, sebagian sahabat Nabi SAW menceritakan, "Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah saw me­nyiram kepalanya dengan air sedang ia berpuasa, kare­na haus, atau karena panas."

Dalam riwayat lain dari Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah dalam keadaan junub pagi, sedang ia berpuasa. Kemudian Beliau SAW mandi." (HR. Bukhari dan Muslim).

2.  Memakai obat mata seperti; celak, obat tetes, salep dan bagainya. Sama saja adanya terasa di tenggorokan atau tidak. Karena mata bukanlah lubang yang langsung kepada perut. Benda-benda ini tidak membatalkan puasa, baik rasanya dirasakan di tenggorokan atau tidak, inilah yang dikuatkan oleh

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya yang bermanfaat “Haqiqatus Shiyam” serta muridnyaa Ibnu Qoyyim  dalam kitabnya 'Zaadul Ma'ad”, Imam Bukhari berkata dalam kitab “Shahihnya” : “Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakhai' memandang tidak mengapa bagi yang berpuasa.”

3.  Mencium istri bagi orang yang dapat menguasai nafsunya. Aisyah radhiallahu 'anha pernah berkata: "Rasulullah mencium dalam keadaan puasa dan bercengakrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri.  (HR Bukhori (4/131), Muslim (1106)).

4. Injeksi (obat suntik). Menurut Sayyid Sabiq, injeksi obat, baik berupa nutrisi makan­an (seperti infus), atau lainnya, baik dilakukan pada pembuluh darah atau di bawah kulit tidaklah membatalkan puasa. Walaupun injeksi tersebut sampai pada rongga, tetapi tidak melalui pintu makanan yang biasa.

Selanjutnya Sayyid Sabiq menukilkan pendapat beliau, "Mencium bau harum tidak mengapa bagi orang yang berpuasa. Demikian juga celak, injeksi, tetes pada alat kelamin, obat luka di kepala yang berhubungan dengan otak, dan obat luka yang berhubungan di perut."

5.  Berkumur-kumur dan mengisap air.

Kendati hal ini diperbolehkan bagi orang yang berpuasa, namun tetap  harus berhati-hati dan tidak berlebih-lebihan. Sebagaimana hadis yang di­riwayatkan oleh Ashhabus sunan, dari Luqait bin Shaburah, Rasulullah SAW bersabda, "Jika engkau istinsyaq (mengisap air), keraskanlah, kecuali jika engkau berpuasa."

Menurut Imam Abuhanifah, dan Imam Malik, jika seorang berkumur-kumur atau mengisap air, lalu terlanjur air masuk ke rongga, sedang ia mengingat puasanya, maka batallah puasanya, karena sama saja jika ia sengaja minum air.

Sementara menurut Ibnu Qudamah, jika seorang berkumur atau istinsyaq (mengisap air) ketika berwuduk, atau mandi. Kemudian terlanjur air masuk ke dalam tenggorokan tanpa sengaja, atau tidak berlebih-lebihan, maka puasanya tidak batal, demikian juga pendapat dari Al Auzai, Ishak, dan Syafi’i.

6. Pada malam hari, boleh makan, minum, dan menggauli istrinya hingga terbit fajar.

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran, "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu. Mereka itu ibarat pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak akan sanggup menahan nafsumu.  (QS. AlBaqarah: 187).

Apabila seorang sedang makan, sedang fajar telah terbit, maka ia harus segera berhenti. Jika makanan masih ada di mulutnya, ia boleh menghabiskannya dan tidak perlu memuntahkannya. Jika ia sedang bercampur dengan istrinya, maka ia harus segera berhenti. Kalau tidak, maka batallah puasanya.

Orang yang dalam keadaan junub, dibolehkan sampai pagi. Namun jangan sampai ia berlama-lama hingga melewatkan shalat subuh. Demi­kian juga perempuan yang haid dan nifas, jika telah berhen­ti haid atau nifasnya pada malam hari, boleh bagi keduanya menunda bersuci atau mandi hingga pagi, dalam keadaan berpuasa.

7.Mencicipi makanan

Ini dibatasi selama tidak sampai tenggorokan, karena riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma: “Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaaan puasa selama tidak sampai ke tenggorokan.”   (HR. Bukhari secara muallaq (4/154-fath), dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah (3/47), Baihaqi (4/261) dari dua jalannya. Hadits hasan, lihat “Taqliqut Taqliq” (3/151-152)).

 

republika.co.id