9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Tafsir Ayat Puasa

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqa-rah: 183)

Tafsir Ayat:

Allah ta’ala mengabarkan tentang segala yang Dia karuniakan kepada hamba-hambaNya dengan cara mewajibkan atas mereka berpuasa sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa itu atas umat-umat terdahulu, karena puasa itu termasuk di antara syariat dan perintah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman, berpuasa juga menambah semangat bagi umat ini yaitu dengan berlomba-lomba dengan umat lain dalam menyempurnakan amal perbuatan dan bersegera menuju kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan puasa itu juga bukanlah suatu perkara sulit yang merupakan keistimewaan kalian.

Kemudian Allah ta’ala menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, ( لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ) "Agar kamu bertakwa," karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena berpuasa adalah merealisasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan di antara gambaran yang meliputi ketakwaan dalam puasa itu adalah bahwa orang yang berpuasa akan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan jima' dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsunya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala dalam meninggalkan hal-hal tersebut, inilah hal yang merupakan ketakwaan, di antaranya juga sebagai gambaran bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah ta’ala, maka meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah melihatnya.

Gambaran lain dalam puasa adalah bahwasanya puasa itu mempersempit gerakan setan karena setan itu selalu berjalan dalam tubuh manusia seperti jalannya darah, maka puasa akan melemahkan pengaruhnya dan meminimkan kemaksiatan, di antaranya juga bahwa seorang yang berpuasa biasanya akan bertambah ketaatannya, sedang ketaatan itu adalah gambaran dari ketakwaan, yang lainnya lagi adalah bahwa orang yang kaya bila merasakan susahnya kelaparan, pastilah ia menghibur kaum miskin lagi papa, dan ini pun dari gambaran ketakwaan.

Pelajaran berharga dari ayat ini:

1. Pentingnya puasa, karena Allah memulai perintah itu dengan seruan (Wahai orang-orang yang beriman), dan bahwasanya puasa adalah bagian dari keimanan, karena perintah ini ditunjukan kepada orang-orang yang beriman, dan ini dikarenakan meninggalkannya merupakan penghilang dari keimanan.

2. Ayat ini menjelaskan akan wajibnya berpuasa, hal ini ditunjukan oleh firmannya (كتب) : “Diwajibkan”.

3. Ayat ini juga menjelaskan kewajiban puasa atas umat-umat sebelum kita (كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ): “Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.

4. Hiburan bagi manusia dengan diwajibkannya hal yang sama kepada orang selainnya, yang mana hal ini (dapat) menjadikannya merasa ringan melakukan hal tersebut, ini dilandasi firman Allah ta’ala: (كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ): “Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.

5. Bahwa umat ini lebih sempurna di dalam keutamaan dari pada umat-umat sebelumnya, yang mana Allah telah mewajibkan kepada mereka apa-apa yang diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka, (yang bertujuan) agar mereka naik kederajat yang sempurna, sebagaimana naiknya derajat umat-umat sebelum mereka.

6. Hikmah diwajibkannya puasa, yaitu ketakwaan kepada Allah ta’ala, ini didasarkan kepada firman Allah ta’ala: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ): “Agar kamu bertakwa”.

7. Keutamaan takwa, yang mana wajib menempuh jalan untuk sampai (ke derajat) takwa, karena Allah mewajibkan puasa untuk tujuan tersebut (takwa), maka tujuan tersebut (takwa) adalah sebuah tujuan yang agung, dan yang menunjukkan akan keagungannya adalah bahwasanya takwa adalah wasiat Allah bagi orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian (yang terakhir), ini didasarkan kepada firman Allah ta’ala: (وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ): “Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131).

8. Ayat ini menunjukan akan hikmah Allah ta’ala yang telah menjadikan berbagai jenis ibadah, karena jika kita memperhatikan dengan seksama, maka kita akan dapati bahwasanya ibadah itu mempunyai berbagai macam jenis; ada (ibadah) yang murni harta, ada (ibadah) yang murni badan (ibadah badan), dan ada ibadah yang terdiri dari keduanya (harta dan badan); dan ada ibadah yang (memberikan pilihan diantara keduanya ibadah badan atau ibadah harta), yang mana hal ini lebih memberikan keleluasaan bagi (seseorang) yang dibebankan hal tersebut untuk memilih, karena sebagian manusia mudah baginya untuk melaksanakan ibadah badan dan dia tidak mampu melaksanakan ibadah harta, dan ada juga sebaliknya.

Sebagian orang ada yang mudah baginya untuk mengeluarkan sesuatu yang ia cintai; sebagian manusia ada yang sangat susah baginya untuk meninggalkan sesuatu yang ia sukai, dan ada juga yang sebaliknya. Maka Allah ta’ala dengan hikmahnya menjadikan ibadah kedalam berbagai jenis. Puasa menahan diri dari hal-hal yang disukai, bisa jadi bagi sebagian orang dirasakannya sangat berat daripada mengeluarkan apa-apa yang mereka sukai (harta).

Merupakan suatu keanehan pada zaman kita sekarang bahwa sebagian dari manusia ada yang mampu bersabar dalam melakukan puasa, dan dia mengagungkannya, akan tetapi ia tidak mampu sabar dalam melaksanakan shalat, dan tidaklah pengagungan di dalam hatinya terhadap shalat seperti pengagungannya terhadap puasa.

Kita akan medapatinya berpuasa Ramadhan, namun dia tidak mendirikan shalat, kecuali di bulan ramadhan, dan tidaklah ia melaksanakan shalat kecuali di bulan Ramadhan saja. Hal ini tidak diragukan lagi adalah sebuah pemikiran yang keliru. Ini disebabkan karena shalat (waktunya) terulang-ulang setiap hari sehingga dianggap remeh oleh orang tersebut untuk meninggalkanya.

Adapun puasa, maka baginya puasa adalah sesuatu yang sulit untuk ditingalkan, oleh sebab itu jika mereka ingin menghinakan seseorang, maka mereka mengatakan: “Sesungguhnya orang tersebut tidak berpuasa”, (mereka tidak menghinakannya) dengan mengatakan ia tidak shalat, akan tetapi mereka memulainya dengan (ibadah) puasa.
 

Al-Baqarah 184

 

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرُُ لَّهُ وَأَن تَصُومُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

(Yaitu) dalam beberapa hari yang ditententukan. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu menge-tahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Al-Baqa-rah: 184-185).

Ketika Allah ta’ala menyebutkan kewajiban puasa bagi mereka, Dia mengabarkan bahwa puasa itu hanya pada hari-hari yang tertentu atau sedikit sekali dan sangat mudah, kemudian Allah memudahkan puasa itu dengan kemudahan lainnya, Dia berfirman, (فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ) "Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib-lah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain"

Pada umumnya hal itu karena adanya kesulitan, sehingga Allah ta’ala memberikan kemudahan bagi keduanya untuk berbuka, dan ketika menjadi suatu keharusan untuk mewujudkan kemaslahatan puasa bagi setiap orang yang beriman, maka Allah ta’ala memerintahkan kepada mereka berdua agar mengganti puasanya itu pada hari-hari yang lain apabila penyakitnya telah sembuh atau berakhirnya perjalanan dan adanya istirahat.

Dalam firmanNya, ( فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ) "Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain" sebuah dalil bahwa ia harus mengganti sejumlah hari bulan Ramadhan secara sempurna ataupun tidak, dan bahwa ia juga boleh mengganti hari-hari yang panjang lagi panas dengan beberapa hari yang pendek lagi sejuk seperti kebalikannya, dan firmanNya, ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ ) "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)" maksudnya mereka tidak mampu berpuasa, (فِدْيَةٌ ) "membayar fidyah" dari setiap hari yang mereka batalkan, (طَعَامُ مِسْكِينٍ) "memberi makan seorang miskin" hal ini pada awal-awal kewajiban berpuasa ketika mereka belum terbiasa berpuasa dan saat itu kewajiban tersebut adalah suatu yang harus dilakukan oleh mereka yang akhirnya sangat berat bagi mereka untuk melakukannya, lalu Allah ta’ala Rabb yang Maha Bijaksana memberikan jalan yang paling mudah bagi mereka, Dia memberikan pilihan bagi orang yang tidak mampu berpuasa antara melakukan puasa dan itulah yang paling baik dan utama atau memberikan makan.

Oleh karena itu Allah berfirman, ( وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ) "Dan berpuasa lebih baik bagimu" kemudian setelah itu Allah ta’ala menjadikan puasa itu harus dilakukan oleh orang yang mampu sedangkan orang yang tidak mampu, boleh berbuka lalu menggantinya pada hari yang lain. Dan pendapat lain berbunyi; dan orang-orang yang tidak mampu yaitu terbebani dan merasa sangat berat sekali untuk melaksanakannya seperti orang tua yang renta adalah membayar fidyah untuk tiap hari kepada seorang miskin, dan inilah yang benar.

Pelajaran berharga dari ayat diatas:

1. Bahwasanya hari yang diwajibkannya shiam (puasa) hanya sedikit, ini berdasarkan firman Allah ta’ala: “أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ” : “(Yaitu) dalam beberapa hari yang ditententukan.”

2. Rahmat Allah ta’ala atas hambanya, dengan sedikitnya hari yang diwajibkan atas mereka berpuasa padanya.

3. Bahwasanya kesulitan mendatangkan kemudahan, ini berdasarkan firman Allah ta’ala: (فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ): “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

4. Bolehnya berbuka bagi orang yang sakit. Namun (muncul pertanyaan) apakah sakit disini secara mutlak, walaupun tidak ada rasa berat bagi si sakit melaksanakan shiam (puasa), ataukah sakit yang menyebabkan susah dan payahnya ia untuk melakukan shiam (puasa), atau yang menyebabkan lambatnya kesembuhannya ?

Secara dhahir, ayat ini menunjukan pendapat kedua, dan inilah pendapat jumhur ulama. Ini dikarenakan tidak ada alasan untulk memperbolehkan berbuka dengan sebab sakit yang tidak berpengaruh padanya shiam (puasa), atau yang mana shiam tidak menyebabkan lambatnya proses kesembuhan. Oleh sebab itu maka sakit terbagi menjadi beberapa kondisi, yaitu:

a. Sakit yang tidak membahayakan padanya shiam, maka tidak ada keringanan baginya untuk berbuka

b. Sakit yang jika ia berpuasa, maka ia akan merasa lemah, maka puasanya pada saat itu makruh, karena tidak seharusnya ia menolak rukshah (keringan) dari Allah.

Sakit yang berbahaya padanya shiam (puasa), maka shiam pada kondisi ini hukumnya haram, ini berdasarkan firman Allah ta’ala:


(وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

5. Diperbolehkannya berbuka ketika safar (bepergian), ini berdasarkan firman Allah ta’ala:


(أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ)

atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.

Bagi orang yang berpergian, ia mempempunyai tiga kondisi dalam hal berpuasa:

a. Safar (bepergian) yang mana padanya shiam tidak menyebabkan kesulitan atau kelemahan secara mutlak, yaitu kalelahan yang melebihi kelelahannya dikala berpuasa diwaktu tidak bepergian, maka pada kondisi ini shiam lebih utama, namun jika ia berbuka, maka tidak ada dosa baginya. Hal ini ditunjukan oleh hadits Abu Darda radhiyallahu 'anhu:


خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ، فِي يَوْمٍ حَارٍّ، حَتَّى يضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائمٌ، إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَابْنِ رَوَاحَةَ

Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada salah satu perjalanan beliau, yaitu di hari yang sangat panas, sampai-sampai salah satu dari kami menaruh tangannya di atas kepalanya karena sangat panasnya hari tersebut. dan tidak ada dari kami yang berpuasa ketika itu kecuali Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Ibnu Rawahah”. (HR. Bukhari)

b. Perjalanan yang mana padanya puasa menyebabkan kesulitan yang tidak terlalu berat, maka pada saat itu yang lebih baik baginya adalah berbuka, hal ini berdalilkan pada sebuah hadits: “Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bepergian pada sebuah perjalanan, beliau melihat kerumunan, padanya seorang laki-laki yang dinaungi, maka beliau bertanya tentangnya, maka orang-orang berkata: “Dia seorang yang berpuasa”, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah suatu kebaikan berpusa pada saat berpergian”.

Pada kondisi ini Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menginkari kebaikan pada puasa tersebut.

c. Perjalanan yang padanya puasa menyebabkan kesulitan yang begitu berat, maka pada kondisi ini hanya satu pilihan, yaitu berbuka. Dalil dari permasalahan ini adalah sebagaimana yang tercantum di dalam hadits shahih: “Bahwasanya Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam di suatu perjalanan, dikeluhkan kepada beliau bahwa orang-orang (yang bersama beliau) merasa kepayahan disebabkan puasa, mereka menunggu Nabi [I]shallallohu 'alaihi wa sallam terhadap apa yang akan beliau lakukan, maka setelah shalat asar beliau meminta air, kemudian beliau minum, dan orang-orangpun melihat kepada beliau, kemudian beliau dibawa kepada Nabi shallahu 'alaihi wa sallam, dikatakan kepada beliau shallahu 'alaihi wa sallam: “Sesungguhnya sebagian orang tetap berpuasa”, maka beliau bersabda: “Mereka adalah orang yang bermaksiat, merekaadalah orang yang bermaksiat”. (HR. Bukhari, Muslim)
Pada hadits ini puasa pada saat berpergian adalah maksiat, dan tidaklah dikatakan sebagai maksiat kecuali pada suatu yang haram, atau meninggalkan suatu yang diwajibkan.

6. Hikmah Allah dalam menetapkan hukum secara bertahap, karena puasa pada awalnya ada pilihan padanya bagi seseorang antara berpuasa atau memberi makan, kemudian setelah itu pilihan hanya satu yaitu puasa, hal ini sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu 'anhu.

7. Bagi orang yang lemah berpuasa yang tidak bisa diharapkan lagi, maka baginya memberi makan seorang miskin setiap harinya satu orang, pengambilan dalilnya adalah bahwasanya Allah ta’ala menjadikan “memberi maka orang miskin” sebagai ganti bagi orang yang berpuasa ketika adanya pilihan sebelumnya, maka jika terdapat uzur (penghalang) untuk berpuasa maka yang wajib adalah gantinya. Oleh sebab itu Ibnu Abbas menyebutkan bahwasanya ayat ini adalah bagi seorang yang laki-laki atau wanita tua, yang tidak sanggup lagi berpuasa, maka ia memberi makan seorang miskin setiap harinya.

8. Jenis dan cara yang diberikan makanan itu berdasarkan kebiasaan setempat, karena Allah memutlakan hal tersebut. Sedangkan hukum sesuatu yang mutlak jika tidak ada gambaran secara konkrit maka hal itu kembali kepada adat kebiasaan setempat.


Sumber: Tafsir al-Qur-an al-Karim, oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin jilid 3, Tafsir as-Sa'di, oleh syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa'di

alsofwah.or.id