20 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 26 Oktober 2021

basmalah.png

Jangan Jadi 'Muslim Musiman'

Jangan Jadi 'Muslim Musiman'

Fiqhislam.com - Setiap tahun, Ramadhan menjadi waktu tepat bagi umat Muslim untuk memperbaiki diri. Sayangnya, sebagai bulan penuh berkah, Ramadhan hanya dianggap sebagian Muslim sebagai sebuah musim yang datang satu tahun sekali. Hasilnya, lahirlah 'Muslim Musiman'.

Tengok saja para pesohor, mulai dari selebritas hingga pejabat, mendadak menjadi kalem dan alim ketika memasuki Ramadhan. Selebritas yang sehari-hari tak malu membuka aurat, berlomba-lomba menutup kemaluan ketika Ramadhan.

Sementara para pejabat memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum memupuk kepercayaan masyarakat, atau bahasa kerennya pencitraan. Apalagi Ramadhan tahun ini yang bertepatan dengan 'tahun politik' dinilai sebagai waktu yang tepat mereguk dukungan masyarakat bagi para politikus, sebelum bertarung pada Pemilu 2014 mendatang.

Bukannya 'nyinyir' akan keberadaan 'Muslim Musiman'. Berkaca pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, tak jarang selebritas yang berhijab selama Ramadhan dengan entengnya menanggalkan jilbabnya dan kembali mengenakan pakaian 'belum jadi' selepas Lebaran. Seolah, ibadah selama Ramadhan tak berdampak membentuk kepribadian sebagai seorang Muslim.

Pun dengan para pejabat atau politikus yang mendadak alim selama Ramadhan. Usai Ramadhan, tak jarang sejumlah politikus diberitakan tertangkap tangan melakukan korupsi atau tindakan asusila lainnya. Kamuflase yang dilakukan para pesohor itu jelas membingungkan masyarakat.

Dalam satu tausyiahnya, almarhum KH Zainudin MZ pernah bertanya kepada jamaahnya. Pilih mana, minyak onta cap babi atau minyak babi cap onta? Minyak onta cap babi masih boleh, tapi minyak babi cap onta, itu menipu, kata Kiai Sejuta Umat itu.

Bukannya keberadaan 'Muslim Musiman' tidak baik. Tapi, masyarakat diingatkan tidak tertipu pencitraan yang dilakukan seseorang atau kelompok-kelompok tertentu, yang memanfaatkan momentum Ramadhan untuk kepentingan mereka. Seperti kata pepatah, emas pasti kuning, tapi tidak semua yang kuning pasti emas.

Fenomena 'Muslim Musiman' di kalangan selebritas dan politik juga berdampak kepada masyarakat. Tak jarang selama Ramadhan banyak orang yang genit agar terlihat tak terlihat ketinggalan musim. Salah satu caranya selalu mengenakan pakaian takwa. Sayangnya, lagi-lagi, ketika Ramadhan berakhir, berakhir pula ketakwaan yang sudah dipupuk selama bulan suci.

Jangan heran jika ada orang shalat rajin, maksiat tekun. Sedekah mau, nyolongnya lebih gede, seloroh Kiai Zainuddin.

Fenomena itu menggambarkan jika Islam tidak menjadi rule of thinking. Ramadhan seperti musim yang temporer. Ketika 'Musim Ramadhan' habis, habis pula ketakwaan selama satu bulan. Ramadhan tidak dijadikan pintu gerbang untuk menjadi Muslim yang paripurna, yang secara kaffah menjalankan ajaran Nabi Muhammad Salallahu Alaihi wasallam.

Di tengah dunia yang penuh dogma sekarang ini, umat Muslim tentu harus pandai-pandai menjaga diri dan iman dari pengaruh buruk gempuran budaya dan pemikiran asing. Sebab, dalam beberapa kasus umat Islam digiring untuk membela seseorang yang melanggar hukum Islam ketimbang yang menjalankan syariat Islam.

Sekarang pilihan ada di tangan kita sebagai umat Muslim. Mau pilih minyak onta cap babi, atau minyak babi cap onta. [yy/republika]

Karta Raharja Ucu