13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Cerita Ramadhan dari Melbourne

Cerita Ramadhan dari Melbourne

Fiqhislam.com - Pengujung akhir Ramadhan tahun 2017 saya berangkat ke Melbourne untuk memulai studi doktoral di Monash University. Saat itu saya menyiapkan diri, menjalani ibadah puasa di negara dengan Muslim minoritas tentu akan menghadapi banyak tantangan. Apalagi Australia adalah negara dengan empat musim. Artinya, jika Ramadhan jatuh pada musim panas (summer), di samping terik matahari dengan udara panas dan kering, durasi siang hari akan lebih lama sehingga menyisakan malam yang lebih pendek dari biasanya.

Alhamdulillah, empat kali menjalani puasa Ramadhan di kota kedua terbesar di Australia ini, selalu bertepatan dengan musim musim dingin (winter) atau musim gugur (autumn). Rasa haus dan lapar tidak begitu terasa karena sepanjang hari udara terasa sejuk, bahkan sangat dingin jika musim dingin tiba. 

Di Australia, musim gugur berlangsung pada bulan Maret hingga Mei. Sedangkan musim dingin berlangsung selama Juni hingga Agustus setiap tahunnya. Dengan demikian, waktu puasa Ramadhan di Melbourne sedikit lebih singkat dibanding puasa di Tanah Air. Imsak dimulai sekitar pukul 05.30 dan iftar pukul 17.00 waktu setempat. Tentunya ada pergeseran waktu sepanjang bulan Ramadhan dan perbedaan setiap tahunnya. 

Tinggal selama empat tahun di Victoria, negara bagian paling selatan negeri kanguru dengan ibu kota Melbourne ini, membuat saya mulai terbiasa hidup sebagai minoritas. Menurut sensus Australia tahun 2016, jumlah gabungan orang yang mengidentifikasi diri sebagai Muslim di Australia berjumlah 604.200 orang atau hanya 2,6 persen dari total populasi. Sebagai muslim yang tumbuh dan besar di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, tentu banyak pengalaman baru yang saya rasakan di negeri ini. 

Misalnya jika di Tanah Air suara azan terdengar lima kali sehari dari pengeras suara masjid dan surau, di Australia tidak pernah terdengar suara azan, kecuali dari aplikasi yang sengaja di-install di gawai masing-masing. Itu pun hanya dibunyikan dengan suara keras jika berada di dalam rumah, sementara di tempat-tempat umum dan di luar ruangan, pengingat waktu salat biasanya diaktifkan dalam bentuk notifikasi atau nada getar.

Jika suara azan tidak sengaja terdengar keras lewat speaker handphone, dengan canggung bahkan gelagapan, kami akan segera mematikannya, terlebih jika berbunyi dalam kelas atau transportasi umum. Walaupun demikian, azan tetap bebas dikumandangkan di dalam surau atau masjid menjelang salat berjamaah. 

Masjid dan Komunitas Muslim di Melbourne

Masjid dan komunitas Muslim menjadi tulang punggung syi’ar dan kegiatan keislaman di Victoria, termasuk kegiatan Ramadhan. Komunitas ini biasanya mudah diidentifikasi berdasarkan masjid yang menjadi basis aktivitasnya. Walaupun pengelompokan berikut ini tidak bersifat eksklusif, paling tidak ada empat bentuk komunitas Muslim di Victoria, yakni komunitas muslim di lingkungan kampus, komunitas Muslim berdasarkan negara asal, komunitas muslim di wilayah tertentu, serta komunitas muslim yang tidak terikat dengan berbagai hal tersebut. 

Tercatat, ada sekitar 30 masjid di negara bagian Victoria yang dinaungi Islamic Council of Victoria (ICV). Tiga di antaranya sering saya kunjungi, yakni Masjid Monash University, Masjid Westall yang dikelola komunitas Muslim dari Indonesia, dan Masjid Huntingdale yang dikelola komunitas Muslim Bangladesh.

Jika dikalkulasi secara nasional saat ini, Muslim dari Indonesia bukan merupakan komunitas Muslim terbesar di Australia, dibandingkan dari Lebanon, Turki, Afghanistan, atau Pakistan. Namun, peran Muslim Indonesia, khususnya para pelaut Makassar sangat penting dalam penyebaran Islam karena mereka inilah yang yang pertama kali datang ke wilayah utara Australia pada awal abad 17, bahkan sebelum Kapten James Cook mendarat di pantai Australia tahun 1770. Para pelaut asal Makassar secara rutin melakukan kontak dengan bangsa Australia untuk menjalin kerja sama perdagangan teripang (sea slug). Khususnya dengan penduduk asli di belahan wilayah utara Australia.

Komunitas Muslim Indonesia sendiri merupakan gabungan dari diaspora WNI, permanent resident, para pelajar dan mahasiswa, serta para pemegang visa bekerja sementara yang berasal dari Indonesia. Fenomena berkomunitas seperti ini dapat dimaklumi karena dalam aneka kegiatan sosial-keagamaan, komunitas Muslim sering menggunakan bahasa dan kebiasaan-kebiasaan dari negara asalnya. Namun demikian, dalam praktik ibadah, misalnya salat berjamaah dan tarawih, komunitas-komunitas tersebut melebur, tidak membeda-bedakan asal negara tertentu. 

Sebagai contoh, di Masjid Westall yang dikelola oleh Muslim diaspora dari Indonesia, tidak sedikit juga Muslim dari negara lain ikut berpartisipasi. Pernah suatu kali di luar bulan Ramadhan, ada warga lokal Australia non-Muslim bertanya dengan ramah kepada saya: Apakah di masjid komunitas Indonesia sedang ada kegiatan yang terbuka untuk umum? Setelah memberi penjelasan, saya bertanya mengapa ia ingin tahu hal tersebut. Ternyata jawabannya cukup unik.

Dia senang menghadiri acara open-mosque komunitas Muslim Indonesia karena selain ingin mengenal Islam lebih dekat. Alasan utamanya adalah makanan yang dihidangkan di masjid orang Indonesia menurutnya enak dan menggugah selera. Tercatat, dua kali kegiatan Open Mosque diadakan di masjid Westall setelah tragedi Christchurch, Selandia Baru, dan banyak tetangga serta warga dari jauh yang sengaja datang ke Masjid Westall untuk memberikan dukungan dan simpati.

Selama Ramadhan, di Masjid Westall—dan masjid lain pada umumnya, disediakan makanan untuk berbuka. Makanan dan minuman berbuka tersebut berasal dari donatur tetap ataupun para dermawan. Makanan ringan khas Indonesia, kurma, beserta minuman ringan seperti teh merupakan kombinasi yang biasa dihidangkan sebagai takjil di Masjid Westall.

Setelah shalat maghrib berjamaah, barulah menu utama berupa makanan berat dihidangkan, dan buah-buahan sebagai penutup. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan shalat isya berjamaah, kultum, dan tarawih. Pada hari-hari tertentu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne juga menyelenggarakan buka puasa bersama untuk masyarakat Indonesia yang tinggal di Victoria. 

Ramadhan di Puncak Pandemi

Banyak cerita berkesan setiap kali menjalani Ramadhan di negeri orang. Namun Ramadhan tahun tahun 2020/1441 H menyisakan kenangan khusus bagi saya dan keluarga. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, di tempat yang sama, Ramadhan tahun lalu sangat berbeda, sekaligus diwarnai keprihatinan dan keterbatasan. Begitupun yang saya rasakan, Ramadhan terasa “sepi” karena situasi pandemi.

Jika tahun-tahun sebelumnya Ramadhan terasa begitu semarak karena disyi’arkan bersama oleh komunitas muslim, pandemi membuat semua kegiatan rutin tesebut ditiadakan. Tidak ada buka puasa bersama, pengajian, salat berjamaah, dan shalat tarawih jamaah di masjid-masjid. Satu-satunya kegiatan komunitas yang tetap terselenggara hanyalah kegiatan ceramah agama yang disampaikan secara daring. Jika dalam situasi normal selalu ada Ramadhan Family Day (RFD) yang diselenggarakan Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV) menandai persiapan bulan puasa, di masa pandemi FDR terpaksa diselenggarakan melalui aplikasi Zoom. 

Sebagai bentuk komitmen warga negara yang baik, tentu komunitas Muslim mematuhi aturan resmi dari pemerintah untuk tidak berkegiatan dan berkumpul selama puncak pandemi. Jika imbauan tidak dihiraukan dan kasus baru muncul dari aktivitas kegiatan umat Muslim, maka komunitas menjadi pihak pertama yang akan dikambinghitamkan, di tengah fobia terhadap Islam yang kadang timbul dan tenggelam di Australia. 

Menurut penelitian terbaru dari Charles Sturt University yang dipublikasikan oleh ABC Australia, lebih dari setengah dari 75 masjid yang disurvei di Australia, mengalami serangan antara tahun 2014 dan 2019. Jenis serangan dimaksud termasuk pembakaran, penyerangan jamaah secara fisik, coretan grafiti, vandalisme, pelecehan verbal, dan pelecehan secara daring.

Meskipun semua serba terbatas, pedoman saya saat itu masjid mungkin ditutup di mana-mana, tapi pintu kebaikan dan semangat Ramadhan selalu terbuka. Semangat itu kami praktikkan di rumah masing-masing. Ramadhan tahun 2020 meski tidak banyak acara berkumpul bersama, bukan alasan untuk tidak memanen banyak pahala. 

Ramadhan 2021/1442 H

Seiring dengan semakin terkendalinya kasus Covid-19 di akhir tahun 2020, Pemerintah Australia mulai membuka kembali rumah-rumah ibadah, dengan menerapkan social distancing dan protokol kesehatan. Sejalan dengan kebijakan pemerintah, sejumlah organisasi keislaman juga menyerukan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan dalam beribadah di masjid. Shalat jamaah dan salah Jumat yang berbulan-bulan tidak diselenggarakan, akhirnya kembali dapat dilakukan. Tentunya dengan protokol standar: Membawa sajadah, memakai masker, mengenakan kaus kaki, dan mengisi form online lewat ponsel masing-masing sebagai alat bantu pelacakan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Ketentuan ini pun berlanjut hingga Ramadhan yang resmi dimulai tanggal 13 April 2021 lalu. Pelonggaran untuk beraktivitas bersama semakin terasa. Namun demikian, dibanding waktu normal sebelum pandemi, dua aktivitas utama yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan ditiadakan, yakni buka bersama dan iktikaf di dalam masjid. [yy/republika]

 

Oleh Iwan Awaluddin Yusuf

  • Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia; PhD candidate di Faculty of Arts Monash University Australia