fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Makkah Izinkan Dimulainya Kembali Pemberian Takjil

Makkah Izinkan Dimulainya Kembali Pemberian Takjil

Fiqhislam.com - Komite Penyiraman dan Bantuan di Makkah mengumumkan dimulainya kembali izin untuk inisiatif Iftar Sayim atau umum disebut Takjil bagi umat Muslim yang berpuasa untuk berbuka. Hanya saja, izin pemberian takjil selama Ramadhan nanti diperuntukkan bagi masyarakat di wilayah Makkah.

Pemilik restoran ataupun keluarga, biasanya akan menyediakan makanan seperti kurma, minuman, dan hidangan hangat yang kemudian dibagikan ke masjid-masjid. Sehingga, bagi pengunjung tidak perlu khawatir tentang apa yang akan mereka makan ketika azan magrib berkumandang.

Tradisi ini umumnya menjadi momentum berharga untuk beramal di setiap bulan Ramadhan, khususnya yang paling dominan terjadi di Masjid Makkah dan Masjid Madinah.

Para pekerja masjid suci akan melapisi lantai dengan plastik kemudian akan menyajikan makanan yang diberikan secara gratis untuk berbuka puasa.

Pekerja yang berdedikasi melapisi lantai masjid dengan penutup plastik, dan makanan yang cukup disediakan untuk memberi makan semua umat.

Tahun ini, karena pandemi covid-19 masih mengkhawatirkan, sehingga makanan yang diizinkan sebagai menu berbuka akan dibatasi pada makanan kering, atau barang yang dikemas sebelumnya untuk meminimalkan risiko kontaminasi. Namun, mereka yang ingin membagikan makanan hangat dapat terus melakukannya di lingkungan pemukiman di kota Makkah itu sendiri.

Selain itu, pihak-pihak yang ingin berkontribusi memberikan keranjang makanan kepada keluarga kurang mampu, harus mendaftar di situs resminya, https://sr-mkh.org.sa.

Mohammed Al-Dosari mengatakan, bahwa dia dan keluarganya tidak pernah melewatkan takjil sebelum ada pandemi. Ia mengingat, Ramadhan tahun lalu yang begitu kehilangan tradisi berbagi takjil tersebut.

"Ramadhan lalu sangat berat bagi kami, kami merasa kehilangan kesempatan untuk membantu komunitas kami dan menyambut tamu Masjidil Haram. Kami sangat merasakan kehilangan kesempatan,” ungkap Dosari dilansir dari Arab News, Jumat (19/3).

Makkah adalah salah satu wilayah yang paling terdampak oleh pandemi. Pemberlakuan penguncian 24 jam telah dimulai jauh lebih awal daripada wilayah lainnya di Kerajaan, begitu juga dengan pembatasan yang baru diizinkan dicabut setelah keadaan lebih aman.

“Kami sangat menantikan untuk melakukan amal tahun ini, dan kami sangat berharap bahwa Masjid Suci akan dapat menerima lebih banyak umat beriman Ramadhan ini,” tambah Al-Dosari.

“Saya pikir banyak Muslim, termasuk saya, sangat terguncang oleh gambar masjid yang benar-benar kosong tahun lalu di puncak pandemi. Kami berdoa agar tahun ini kami akan melihat masjid penuh lagi dan bahwa Allah akan menjaga keselamatan peziarah-Nya tahun ini," harapnya. [yy/ihram]