fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Menjaga Keamanan Keluarga

Menjaga Keamanan Keluarga Fiqhislam.com - Hidup di perkotaan memang keras dalam persaingan hidup. Terkadang gesekan sedikit saja, akan memicu dendam kesumat. Apalagi masalah ekonomi, sangat mungkin memicu tindak kriminal. Seperti saat ini, persoalan sepele pun nyawa melayang. Ya, tindak kejahatan ada di mana-mana. Di jalanan rawan begal, di dalam rumah pun bisa jadi korban.

Lantas bagaimana supaya rumah kita aman dan tidak menjadi sasaran kriminalitas? Menjaga keamanan rumah bukan sekadar masalah teknis. Bukan perkara seberapa tebal tembok rumah kita, seberapa kuat gemboknya, seberapa tingginya pagar, rapatnya pintu berteralis, pemasangan alarm tanda bahaya atau kamera pengawas CCTV yang beroperasi 24 jam.

Lebih dari itu, pengamanan rumah terkait dengan bagaimana hubungan kita dengan sesama. Keamanan rumah akan tercipta lebih efektif, jika kita memiliki hubungan baik dengan sesama, terutama orang-orang di sekitar kita. Intinya, jangan sekalipun memiliki musuh atau menyakiti orang. Nah, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk membangun rasa aman di rumah :

(1) Memupuk kebaikan dengan orang-orang rumah. Jika punya pembantu, tukang kebun, sopir atau tukang bangunan langganan, perlakukan seperti anggota keluarga. Berbuatlah secara adil mengingat jasa mereka. Bagaimanapun mereka memiliki andil dalam memperlancar urusan kita. Sebut saja ini sebagai lingkaran keamanan pertama.

(2) Membangun hubungan baik dengan orang-orang di lingkungan tempat tinggal. Janganlah membangun pagar tembok terlampau tinggi. Jika terjadi perampokan, tak ada tetangga yang mendengar teriakan Anda. Pagar besi baja juga belum tentu mempan menghadang orang jahat. Tapi, membangun ‘pagar’ manusia akan lebih efektif. Pagar itu adalah orang sekitar rumah. Jadi, tak perlu  memelihara anjing herder atau membayar satpam pribadi guna menjaga rumah, jika berbaik-baik dengan tetangga, insya Allah rumah kita disegani. Paling tidak, orang sekitar kita tidak akan ada yang berani mengusik. Ini sebagai lingkaran keamanan kedua.

(3) Berbuat baik dengan mereka-mereka yang dianggap berprofesi rendah. Seperti berbuat baik dengan penjaja sayur, tukang bakso, roti, eskrim, rujak, skoteng, dll.  Juga dengan satpam kompleks yang tiap malam keliling menjaga keamanan. Bahkan juga dengan tukang ojek di wilayah perumahan kita. Jika perlu, saat Lebaran atau Idhul Adha, berilah bingkisan barang atau uang. Atau kapan saja ada rezeki berlebih. Walau tak seberapa nilainya, itu akan menjadi pengingat kebaikan. Dengan cara ini, rumah dan keluarga kita akan aman. Selain itu, sekeluarga menjadi orang yang disayangi orang-orang kecil dan sederhana yang sama-sama berjuang mencari nafkah di kota besar. Ini sebagai lingkaran keamanan ketiga.

(4) Menerapkan pola hidup bersahaja. Tidak usah show off bila memiliki barang berharga. Simpan baik-baik di tempat aman dan tidak mudah terjangkau. Kadang-kadang kejahatan terjadi karena kesempatan. Melihat barang berharga tergeletak atau sengaja dipajang, bisa memicu orang baik-baik untuk berbuat nekat.

(5) Selalu waspada. Tetap mawas diri dan memperbanyak zikir agar terhindar dari berbagai marabahaya di manapun kita berada, baik di rumah maupun saat beraktivitas di luar rumah. Selain itu, tetap bertawakal dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sesungguhnya harta hanyalah titipan Allah SWT.

Semoga dengan cara-cara demikian, hidup kita lebih nyaman, aman dan tenteram.

yy/mediaumat.com