fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Restu Orang Tua dan Isteri Pertama dalam Poligami

http://3.bp.blogspot.com/_rD3fj5P8gmE/St76Gkb0zaI/AAAAAAAACSA/13ovQ5fAYnI/s400/klub+poligami.jpg

Ketika nikah sirri yang dilakukan seseorang tetap memenuhi syarat-syarat pernikahan didalam islam seperti : ijab kabul, dua orang saksi serta wali dari pihak perempuan yang langsung menikahkannya dan jika si wanita itu tidak memiliki wali maka hakim (penghulu) yang menggantikan kewaliannya untuk menikahkan maka pernikahan sirri tersebut dianggap sah menurut syariat.

Akan tetapi jika pernikahan sirri yang dilakukan dengan tidak menghadirkan wali dari pihak perempuannya akan tetapi dilakukan dengan perantara orang lain sementara si perempuan masih memiliki wali atau jika si perempuan tidak memiliki wali namun dinikahkan bukan oleh wali hakim sebagaimana banyak terjadi di masyarakat maka pernikahan tersebut tidaklah sah dan keduanya haruslah dipisahkan.

Terkait dengan poligami yang dilakukan seseorang maka islam tidaklah mensyaratkan perizinan dari istri pertamanya. Namun demikian hendaklah dirinya membicarakan keinginan tersebut terlebih dahulu dengan istri pertamanya dan melakukan pengkondisian terhadapnya agar bisa menerima kehadiran istri keduanya ditengah-tengah mereka. Hal itu penting dilakukan dikarenakan belum terbiasanya kehidupan berpoligami dikalangan masyarakat kita dikarenakan ketidakfahaman mereka terhadapnya. Serta untuk menghindari kemudharatan yang kemungkinan buruk yang bisa terjadi didalam rumah tangganya, seperti : percekcokan, pertengkaran atau bahkan perceraian dikarenakan belum ada kesiapan didalam dirinya.

Dan sepertinya langkah-langkah diatas —pengkondisian— tidaklah anda lakukan terhadap istri maupun orang tua anda sehingga terjadi penolakan dalam diri mereka terhadap pernikahan anda dengan istri kedua anda.

Tentunya ketika anda mengambil pilihan untuk berpoligami dengan diam-diam tanpa sepengetahuan istri pertama anda dan orang tua anda maka anda telah siap dengan segala kemungkinan yang bakal muncul pasca diketahuinya pernikahan diam-diam anda itu, seperti : penolakan untuk bertemu baik dari istri maupun orang tua anda.

Untuk itu yang perlu anda lakukan—wallahu A’lam—adalah meredakan atau meluruhkan terlebih dahulu kecamuk amarah yang ada didalam diri istri pertama anda maupun orang tua anda, mungkin dengan cara meminta maaf kepada keduanya, sering mengunjungi dan jika mungkin dengan membawa buah tangan terutama kepada orang tua anda apabila tidak tinggal bersama anda, tetaplah memperlakukan istri pertama seperti saat anda belum berpoligami—menampakkan kasih sayang dan kecintaan anda kepadanya—lalu berlakulah adil terhadap kedua istri anda, seperti : didalam tidur maupun sandang dan pangan sebagaimana tuntutan Allah swt terhadap orang-orang yang melakukan poligami.

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ


Artinya : “kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil. Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa : 3)

Setelah tampak perubahan sikap pada diri mereka berdua maka cobalah anda memberikan pengertian kepada istri pertama anda terlebih dahulu baru kemudian kepada orang tua anda. Dengan harapan jika istri anda dapat menerima apa yang telah terjadi maka akan memudahkan anda untuk memberikan pengertian kepada orang tua anda.

Sebaiknya didalam memberikan pengertian ini anda tidak mengajak istri kedua anda bertemu langsung dengan istri pertama anda karena bisa jadi istri pertama anda belum siap untuk bertemu dengannya atau bisa jadi akan memunculkan kecemburuan dan kemarahan kembali didalam dirinya.

Dan yang terpenting dari itu semua adalah hendaklah anda senantiasa berdoa memohon kepada Allah swt agar memberikan jalan keluar kepada anda karena sesungguhnya ditangan-Nya lah segala solusi dari setiap permasahalan yang dihadapi hamba-hamba-Nya. Wallahu A’lam

Eramuslim.com - Sigit Pranowo Lc