4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

Seberapa Kokoh Rumah Tangga Kita?

http://4.bp.blogspot.com/_agqEGEOcqEU/S1rryVpW11I/AAAAAAAAAHQ/ANW3nChl8CU/s320/link-building.jpgSudah sembilan tahun Toni berumah tangga. Ia tidak menyangka bahwa sembilan tahun pernikahannya hampir berujung pada perceraian. Permasalahan sudah semakin rumit. Jika diibaratkan benang, permasalahannya seperti benang kusut. Tidak jelas mana ujung pangkalnya.

Ia mencoba menjawab pertanyaan, ‘sudah habiskah rasa cinta itu, mengapa ia memilih bercerai?’

Cinta...  Memikirkan cinta membuat Toni terkenang pada  awal pernikahannya dengan Linda, istrinya. Ketika itu ia sangat jatuh cinta pada Linda.

Linda adalah sosok yang baik hati, lembut, dan sangat suka menolong teman-temannya. Tulus, tidak  banyak perhitungan saat menolong orang lain. Begitu ujar Toni ketika menggambarkan sosok Linda.

Linda berasal dari keluarga berada, sementara Toni berasal dari keluarga bersahaja. Keduanya tidak merasa bahwa itu akan menimbulkan masalah. Menikah adalah keputusan mereka.

Jelang pernikahan, Toni baru mengenal keluarga besar Linda. Ternyata keluarga besar Linda adalah tipe High Profile, sangat percaya diri, dan cenderung memandang remeh diri Toni.

Penampilan Toni yang apa adanya membuat ia di mata keluarga besar Linda tidak ada artinya. Toni tak gentar menghadapi itu semua. Ia merasa tertantang, dan bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang mereka kira. “Aku mau buktikan kalau Aku bisa  membahagiakan Linda”

Maka segenap strategi diambil untuk membuktikan ia mampu membahagiakan Linda. Tanpa ia bertanya pada Linda, apa yang membuatnya bahagia, dia berikan kartu ATM dan key B** untuk memudahkan Linda mengambil uang miliknya. Ia tidak pernah bertanya berapa banyak yang ia ambil, dan untuk apa uang itu diambil.

Toni pun tak pernah mengusik uang yang Linda peroleh dari pekerjaannya. Karena ingin membahagiakan. Ia juga sering mengalah dalam rangka membahagiakan, bahkan yang menyangkut kebutuhan lahirpun ia korbankan demi membahagiakan istrinya.

Tak pernah ada pembicaraan tentang permasalahan rumah tangga dalam rumah tangga Toni. Hubungan suami istri, finansial, pendidikan anak, semua dianggap tidak ada masalah, walau nyatanya sebenarnya sedikit demi sedikit mengusik kebahagiaan Toni, tetapi  Toni tidak mau menyusahkan istrinya dengan membicarakan hal-hal yang berat. Kalau ada yang mengganggu pikirannya karena ketidakcocokan akan sikap istrinya, ia akan membangun keikhlasan dalam hatinya. Ia tidak mau mengeluh pada istrinya…. Ia ingin Linda bahagia sepenuhnya.

Ia pun tidak mau menunjukkan kesusahan dalam menghadapi masalah rumah tangga. Ia selalu tampil sendiri untuk menyelesaikan permasalahan, tanpa melibatkan istrinya. Ia tidak mau menunjukkan kelemahan dirinya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membahagiakan istrinya, seperti niatnya di awal pernikahan.

Sampai episode kehidupan itu tiba, usaha Toni bangkrut. Secara finansial, Toni sekarang bermasalah. Sulit untuk menceritakan hal itu pada Linda. Ia coba tutupi. Tetapi bagaimana menutupinya, karena kebutuhan rumah tangga terus berjalan.

Selama sembilan tahun pernikahannya, baru kali ini Toni perlu menyampaikan hal yang berat pada Linda. Ia tak kuasa untuk menyimpannya sendiri.

Waktu pun dipilih untuk menyampaikan hal ini, dan ternyata Toni menemukan keterkejutan yang amat sangat, karena Linda berkata “Mas, aku tidak bisa mendengar masalahmu ini, karena aku juga sudah pusing dengan masalahku”

Tak lama, Linda pun bertutur bahwa ia terbelit pinjaman kartu kredit sebesar puluhan juta rupiah. Selama ini, ia tidak mampu mengkomunikasikannya pada Toni, karena khawatir Toni akan marah besar. Toni terduduk lemas. Entah rasa apa yang ia rasakan.

---

Sembilan tahun pernikahan bukanlah waktu yang sebentar. Perjalanan sembilan tahun bagi beberapa pasangan biasanya akan menghasilkan kemampuan untuk saling menyesuaikan diri. Namun pada beberapa pasangan lainnya justru berujung pada perpisahan.

Membangun rumah tangga seperti halnya membangun sebuah gedung bertingkat, menjulang tinggi menuju langit. Dibangun setahap demi setahap, dimulai dengan merancang seperti apa gedung yang diinginkan, kemudian membangun pondasi yang kuat, dilanjutkan dengan membangun lantai demi lantai.

Perancangan

Merancang rumah tangga yang kita idamkan sebenarnya dimulai dari sejak kita remaja. Ketika kita remaja, kita mulai mengenali diri kita, memilih sosok seperti apa diri kita, profesi apa yang akan kita jalani ke depan, dan pasangan hidup seperti apa yang akan mendampingi kita. Masih ingatkah kita pada saat proses pembentukan identitas diri di masa remaja?

Sebelum membentuk hubungan dengan lawan jenis (intimacy relationship) yang akan berujung pada pernikahan. Seorang individu, menurut Ericson, seorang pakar perkembangan, perlu melalui tahap pembentukan identitas diri terlebih dahulu. Di masa ini seseorang mengenal dirinya dengan menjawab “Siapa Aku?”, “Potensi apa yang Aku miliki, apakah itu kelebihan, dan kekurangan”, “Apa tujuan hidupku?”, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan diri.

Tidak mudah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Diperlukan kematangan diri, dan lingkungan sosial yang tepat.

Betapa banyak kaum remaja yang sampai akhir masa keremajaannya, atau di masa dewasa awal, belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai diri tersebut. Sehingga ketika dihadapkan pada pilihan pasangan hidup mereka tidak memiliki pedoman (guidance) yang mendukung untuk memutuskan apakah calon pasangan tersebut akan dipilih atau tidak.

Salah satu pertanyaan tentang diri yang perlu dijawab dalam kaitannya dengan pernikahan adalah: “Apa yang membuatku bahagia?” Karena di ujung pernikahan, yang kita harapkan adalah kebahagiaan. Pengenalan di mana titik kebahagiaan kita akan membantu kita saat memikirkan apakah pasangan akan bahagia bersama kita? Apakah pasangan akan membahagiakan kita?

Jika kita analisa cerita di atas, Toni mengabaikan kebahagiaan dirinya dan mengutamakan kebahagiaan pasangan. Hal itupun terjadi tanpa pernah tahu dengan pasti apa yang membuat dirinya bahagia dan pasangan bahagia, karena tidak ada komunikasi mengenai hal tersebut..

Memiliki niat untuk menunjukkan bahwa ia suami yang bisa membahagiakan kepada lingkungan sosial di luar istrinya, adalah cermin bahwa Toni tidak merasa yakin bahwa saat itu, dari sejak awal pernikahan, atau sejak masa pra pernikahan,  ia sudah memilki bekal yang cukup untuk membahagiakan. Ia merasa perlu membuat sosok diri yang lebih membuktikan mampu membahagiakan dengan memberi kebebasan pada istrinya menggunakan fasilitas finansial yang ia miliki, dengan berusaha selalu memaklumi seluruh kekurangan istri, serta tidak mau melibatkan istri dalam setiap persoalan rumah tangga.

Jika Toni memiliki identitas diri yang kuat, sehingga punya penghargaan diri (self esteem) yang positif, dia akan yakin bahwa dengan dirinya sendiri layak untuk menikahi pasangan dan akan membahagiakan pasangan (tanpa perlu merasa tertantang untuk membuktikan pada orang lain). Ia tidak perlu melakukan perilaku berlebihan untuk membahagiakan pasangan sampai-sampai mengabaikan kebahagiaannya sendiri.

Komunikasi

Permasalahan terjadi ketika ia sudah tidak kuasa lagi mengabaikan kebahagiaan dirinya. Sementara pasanganpun tidak mengetahui apa yang bisa membahagiakan dirinya, karena tidak pernah ada komunikasi mengenai hal tersebut.

Merancang rumah tangga, yang dijalani oleh dua insan, perlu diawali dengan sebuah komunikasi. Rumah tangga apa yang Aku inginkan, Rumah tangga apa yang Kamu inginkan, Rumah tangga apa yang Kita inginkan. Bahasa “Kita”, akan dicapai dengan komunikasi yang intensif.

Komunikasi seperti apa yang akan menghasilkan rumah tangga yang kokoh? Komunikasi yang terbuka, jelas apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, terutama mengenai perasaan kita.

Karena perasaanlah yang menyelimuti perilaku kita. Perilaku marah yang lazim ditunjukkan, pencetus pertamanya bisa jadi karena rasa takut atau rasa sedih. Misalnya Rasa takut saat suami pulang malam tanpa memberi kabar. Rasa sedih karena pasangan tidak meringankan pekerjaan kita dalam mengasuh anak-anak.

Perasaan ini perlu diungkapkan kepada pasangan, dengan melalui teknik Pesan Aku

Saya (perasaan) karena kamu (perilaku pasangan)

Contoh: Saya takut kalau kamu pulang malam tanpa memberi kabar

Bukan : Gimana sih, pulang malam kok ngga ngasih kabar sedikitpun! Bla...bla...bla

Ini teknik komunikasi yang isi pesannya cenderung tidak ditolak oleh pasangan. Karena pada dasarnya pasangan berkeinginan membahagiakan kita. Pasangan tidak akan nyaman jika tahu ada perilakunya yang membuat kita bersusah hati. Mengkomunikasikan perasan juga akan membuat pasangan lebih mengerti alasan terdalam dari perilaku kita. Seiring dengan waktu, rasa empati kita dan pasangan akan semakin terlatih, sehingga kelak tanpa perlu mengkomunikasikanpun kita sudah bisa menerka perasaan yang dimiliki atau akan dimiliki pasangan. Hal ini akan meminimalkan konflik antar pasangan.

Teknik komunikasi seperti ini bukanlah hal yang mudah. Karena mengungkapkan perasaan bagi kita kalangan timur adalah hal yang belum terlatih sejak kecil. Mengungkapkan perasaan dimulai dengan mengenali perasaan, hal yang bisa dilakukan jika kita memiliki kematangan emosi, atau yang lebih dikenal saat ini dengan istilah kecerdasan emosi.

Perlu latihan untuk membuat kita matang (cerdas) secara emosi, mengenali perasaan, mengelola  hingga  kemudian mengkomunikasikannya pada pasangan. Berlatih terus dari awal pernikahan. Bahkan jika mungkin dari sebelum menikah kita sudah berlatih, dengan terbiasa berkomunikasi tentang perasaan kita apa adanya, kepada teman, rekan kerja atau yang lainnya. Bukan langsung menunjukkan ekspresi dari perasaan yang kita miliki tanpa komunikasi.

Seringkali kita langsung berekspresi marah, padahal sesungguhnya perasaan yang paling dalam yang kita rasakan adalah takut. Sehingga pesan  marahlah yang sampai, bukan pesan bahwa kita takut. Akhirnya respon terhadap rasa marahlah yang kita terima. Kemudian kita merasa tidak nyaman, karena bukan respon tersebut yang sesungguhnya diri kita butuhkan, sehingga kitapun merasa tidak dipahami pasangan. Hal inilah yang memancing konflik antara pasangan.

Saling Ketergantungan

Membangun gedung bertingkat yang kokoh menjulang ke langit tentu memerlukan tim yang solid. Sulit melakukannya sendirian. Membangun rumahtanggapun demikian, karenanya kita menikah. Tim yang solid dalam rumah tangga salah satunya tercipta melalui adanya saling ketergantungan satu sama lain.

Tanpa saling ketergantungan semua berjalan sendiri-sendiri. Setiap masalah yang muncul diselesaikan sendiri, tanpa komunikasi dengan pasangan tentang bagaimana bersama-sama menyelesaikannya. Esensi berumahtangga menjadi hilang sedikit demi sedikit. Padahal jatuh bangunnya pasangan bersama-sama dalam rumah tangga justru akan memupuk kematangan pribadi dan memupuk kesatuan jiwa antara pasangan. Bukan hal yang perlu dihindari.

Kerap kali kita mendengar bagaimana pernikahan kandas karena masing-masing pasangan sudah sangat mandiri, tidak saling membutuhkan satu sama lain. Ketika tali saling ketergantungan ini terputus, maka perpisahan pun akan mudah terjadi.

---

Merancang pondasi yang kokoh, terus membangun komunikasi yang terbuka apa adanya mengenai perasaan yang kita miliki, dan memelihara saling ketergantungan akan pasangan, bisa menjadi langkah-langkah yang membuat rumah tangga kita kokoh, tak mudah tercerai berai.

 

Oleh Lita Edia | ruangmuslim.com