fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Bayi Tabung dari Sperma Suami yang Sudah Meninggal

Program bayi tabung lazimnya berasal dari sperma pria dan sel telur wanita yang masih hidup namun kesulitan untuk mendapatkan keturunan dari pembuahan biasa. Namun apa jadinya bila sperma yang akan digunakan berasal dari pria yang sudah meninggal?

Pasangan suami istri, Markus Edwards dan Jocelyn Edwards (40 tahun) yang tinggal di negara bagian New South Wales Australia berencana melakukan program bayi tabung. Keduanya secara resmi telah memulai proses perawatan IVF (in vitro fertilization) atau bayi tabung di sebuah klinik kesuburan di tahun 2010.

Tapi satu hari sebelum keduanya melakukan penandatanganan resmi untuk program bayi tabung, sang suami Markus Edward meninggal dalam kecelakaan di tempat kerja pada Agustus 2010. Markus yang bekerja sebagai installer televisi kabel jatuh dari balkon di tempat kerja.

24 jam setelah kematian suaminya, Jocelyn berhasil meyakinkan hakim untuk mengeluarkan perintah mengambil sperma dari tubuh suaminya dan disimpan di laboratorium.

Namun Jocelyn tidak bisa menggunakan sperma suaminya dan harus menunggu keputusan hukum karena menggunakan sperma tanpa persetujuan dari donor dilarang di negara bagian New South Wales. Markus sendiri belum sempat menandatangi surat untuk penggunaan spermanya karena keburu meninggal.

Sejak kematian suaminya pada Agustus 2010, dimulailah hari-hari Jocelyn untuk berjuang mendapatkan sperma almarhum suaminya. Namun pada hari Senin (23/5/2011), Hakim Agung Robert Hulme akhirnya memutuskan bahwa dalam kasus ini Jocelyn dibolehkan menggunakan sperma suaminya, meski sudah meninggal.

"Pilihannya adalah menghancurkan sperma atau memberikannya kepada Ny Edward, dan itu akan memenangkan dirinya sebagai pemilik harta terakhir suaminya," jelas Hakim Hulme, seperti dilansir Telegraph, Selasa (24/5/2011).

Menurut Hakin Hulme, meskipun tidak ada bukti langsung tetapi kesimpulannya jelas bahwa Jocelyn dan Markus berkeinginan untuk memiliki anak dengan bantuan perawatan reproduksi (IVF atau bayi tabung).

Pengacara Jocelyn berpendapat bahwa ia harus memberikan kepemilikan secara hukum dari sperma Markus, sehingga ia memiliki hak untuk membawa sperma tersebut keluar dari New South Wales. Keputusan Jocelyn pun didukung oleh keluarganya dan keluarga suaminya.

Hal ini dilakukan karena Jocelyn berencana untuk menjalani perawatan IVF di dekat Canberra, yang hanya menempuh waktu 3 jam dari Sydney tetapi masuk dalam bagian Australian Capital Territory, sehingga beroperasi di bawah hukum yang berbeda dari New South Wales.

"Ini keputusan yang tepat. Mark akan sangat bahagia, kami akan punya bayi kami sendiri. Itu yang saya rencanakan. Saya hanya ingin mendapatkan hari terakhir dan menikmatinya. Ini adalah waktu sulit yang panjang, panjang, panjang," kata Jocelyn.

Merry Wahyuningsih - detikHealth