17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
RUMAH TANGGA

Moammar Emka: Poligami Itu Selingkuh

Moammar Emka: Poligami Itu Selingkuh"Tiga dari Dua Eksekutif Selingkuh", demikian topik acara bincang-bincang yang dihadiri beberapa pria eksekutif di Brewhouse Resto, Senayan City, Rabu (27/7/2011) lalu. Tema bincang-bincang tersebut merupakan hasil survei majalah Eksekutif terhadap 500 pria eksekutif di Jakarta untuk mengamati pola perilaku perselingkuhan. Hasil survei menyimpulkan, perselingkuhan sudah dianggap sebagai hal yang biasa sehingga tak perlu lagi diperdebatkan.

Dalam bincang-bincang tersebut, Moammar Emka, penulis buku-buku bertema kehidupan malam Jakarta, melontarkan pengamatannya mengenai tipe perselingkuhan. Menurutnya, selingkuh terbagi menjadi empat jenis, yaitu selingkuh tradisional, rekreasional, kreatif, dan poligami.

"Selingkuh tradisional itu adalah selingkuh yang melibatkan perasaan, emosional, melibatkan hati. Sementara selingkuh rekreasional adalah selingkuh yang hanya bertujuan untuk mencari kesenangan, untuk mencari variasi baru dalam hubungan seksual," ujar penulis buku seri Jakarta Undercover ini.

Adapun selingkuh kreatif menurutnya adalah ketika sepasang kekasih saling mengetahui bahwa masing-masing melakukan perselingkuhan, tetapi tidak mempermasalahkan hal tersebut. Misalnya suami-istri tahu sama tahu bahwa pasangannya selingkuh, tapi kemudian memutuskan untuk "nyebur" sekalian dengan melakukannya bertiga atau berempat. Inilah yang disebut selingkuh kreatif.

"Bahkan ada suami yang membawa laki-laki karena ingin merasakan sensasi dengan sesama jenis dan melakukan di depan istrinya, atau sebaliknya," ujar pria yang akan meluncurkan dua buku lagi di tahun ini.

Tipe terakhir adalah selingkuh poligami. Menurut Emka, ketika seorang laki-laki berbagi "perhatian" dengan beberapa perempuan sekaligus, hal itu bisa dikategorikan selingkuh. Poligami adalah perselingkuhan paling resmi yang pernah ada, kelakar Emka.

Ia sendiri mengaku belum pernah selingkuh meskipun kerap berganti-ganti pasangan. "Status saya single. Jadi kalau gonta-ganti pasangan itu namanya bukan selingkuh," ungkapnya membela diri.

Tenni Purwanti | Dini | kompas.com

 

{mooblock=Tiga dari Dua Pria Eksekutif Selingkuh}

Selingkuh kini sudah bersifat universal. Tak hanya kaum eksekutif yang memiliki banyak uang yang bisa melakukan selingkuh. Profesi apa pun, bahkan tukang becak sekalipun, bisa melakukan selingkuh. Namun, karena kaum eksekutif kadang merupakan public figure, perselingkuhan yang dilakukannya pun menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat.

Seperti survei dilakukan oleh majalah Eksekutif terhadap 500 pria eksekutif di Jakarta untuk mengamati masalah perselingkuhan. Hasil survei yang dipublikasikan melalui Facebook rupanya mendapat respons dari ribuan orang. Banyaknya pro dan kontra ini menunjukkan antusiasme masyarakat memperbincangkan masalah perselingkuhan. Banyak pula yang mempertanyakan keakuratan data karena contoh yang diambil belum tentu mewakili kaum eksekutif. Namun, survei ini terbukti menarik perhatian masyarakat untuk berkomentar.

Dari perbincangan santai bertema "3 dari 2 Eksekutif Selingkuh" yang dihadiri beberapa pria eksekutif di Brewhouse Resto, Senayan City, Rabu (27/7/2011), Kompas Female menemukan fakta-fakta baru tentang hal ini. Perselingkuhan ternyata sudah dianggap sebagai hal yang biasa, yang menurut para tokoh ini tak perlu terlalu diperdebatkan.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso–yang hadir sebagai salah satu narasumber–mengatakan, pria eksekutif punya peluang lebih banyak untuk selingkuh karena memiliki dua keunggulan, yakni intelektualitas dan finansial.

"Pria eksekutif karena intelektualitasnya akan bisa menduduki posisi atau jabatan yang baik dalam profesinya. Hal ini yang menyebabkan mereka memiliki pergaulan yang luas. Setelah memiliki pergaulan yang luas dan godaan-godaan yang kuat, sisi finansial kemudian mendorong pria eksekutif untuk melakukan perselingkuhan," ungkapnya.

Lelaki yang akrab dipanggil Bang Yos ini juga menuturkan bahwa pria eksekutif, terutama pejabat atau public figure, bersikap berhati-hati saat melakukan perselingkuhan. "Biasanya kalau pergi ke luar kota, pria eksekutif harus memantau pemberitaan. Selama tidak ada pemberitaan di media massa, berarti aman," ujarnya sembari tertawa.

Bang Yos menambahkan, banyak pria eksekutif di sekelilingnya yang melakukan perselingkuhan dengan cara sembunyi-sembunyi. Mereka janjian bertemu teman perempuannya di suatu tempat tetapi berangkat sendiri-sendiri.

Namun ternyata, tak semua pria merahasiakan perselingkuhannya. Contohnya Alex Asmasoebrata. Pebalap senior ini mengaku selalu jujur kepada istrinya setiap kali melakukan perselingkuhan. Ia merasa tak ada gunanya bersikap sembunyi-sembunyi. Justru, sang istri selalu tahu bila ia sedang selingkuh.

"Kesalahan pria saat berselingkuh adalah membuat pasangannya merasa tidak berguna lagi. Padahal, meskipun selingkuh, kita harus tetap memberi kepuasan bagi istri kita, tetap memenuhi kebutuhannya, baik lahir maupun batin. Buatlah agar istri rela suaminya melakukan perselingkuhan. Istri saya malah bangga suaminya selingkuh, berarti suaminya laku," ujar Alex sembari tertawa.

Alex juga menambahkan, seharusnya perselingkuhan tidak perlu diperdebatkan. "Kalau memang senang sama senang, ya biasa saja. Istri saya hanya mengingatkan bahwa dosa ditanggung masing-masing," kata Alex, yang mengakui bahwa perselingkuhan yang dilakukannya itu sudah lama terjadi dan sudah tidak dilakukannya lagi.

Survei mengenai perilaku kaum pria, khususnya dalam hal perselingkuhan seperti ini, bukan pertama kali dilakukan. Bertahun-tahun lalu, pernah juga dilakukan penelitian yang menyimpulkan bahwa "dua dari tiga laki-laki selingkuh". Bila sampai sekarang masih dilakukan penelitian dengan hasil yang tak jauh berbeda, artinya perilaku seperti ini masih terus berlangsung karena dianggap sebagai hal yang wajar. Dan bila survei dari majalah Eksekutif ini judulnya "tiga dari dua eksekutif selingkuh", tampaknya hal ini merupakan suatu analogi bahwa semua pria memang cenderung selingkuh.

Meski begitu, Moammar Emka, penulis buku-buku yang kebanyakan bertema seks dan kehidupan malam Jakarta, survei seperti apa pun sebenarnya tidak akan bisa menunjukkan angka perselingkuhan yang dilakukan laki-laki.

"Survei secanggih apa pun tidak akan bisa membuktikan sejauh mana laki-laki berselingkuh atau apakah lebih banyak laki-laki yang selingkuh daripada yang setia. Hal ini menyangkut kejujuran para lelaki untuk mengakui apa yang dilakukannya. Jadi sampai kapan pun penelitian atau survei tidak akan pernah akurat dengan kenyataan yang sebenarnya," ujarnya. (kompas.com)

{/mooblock}