17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
RUMAH TANGGA

Fikih Muslimah: Taklik Talak

Fikih Muslimah: Taklik Talak Fiqhislam.com - Ikatan pernikahan adalah sesuatu yang sakral menurut agama. Hubungan itu resmi di sahkan dengan kalimat-kalimat thayyibah, istahlaltum furujahunna bi kalimatillah, demikian salah satu hadis Nabi yang menandakan kesucian nikah sekaligus memperbolehkan hubungan intim antar kedua pasangan atas perintah agama yang suci.

Dalam tradisi ijab kabul yang berlaku di Indonesia, kerap disaksikan adanya ikrar dari pihak mempelai pria. Biasanya, diucapkan setelah prosesi itu dilaksanakan.

Penghulu atau naib memintanya untuk mengucapkan ikrar yang dinamakan Taklik Talak, yaitu perjanjian yang diucapkan calon suami setelah akad nikah yang dicantumkan dalam buku akta nikah berupa janji talak yang digantungkan pada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang.

Istilah taklik talak sendiri berasal dari bahasa Arab, terdiri atas dua kata dasar, yaitu ‘ta’liq’ yang berarti menggantungkan, dan ‘thalaq’ yang bermakna cerai.

Di antara muatan dari taklik tersebut yaitu apabila suami nantinya melanggar isi taklik talak, maka ini bisa dijadikan sebagai alasan istri untuk menggugat cerai suaminya.

Ikrar ini sebagai bentuk komitmen suami kepada istri bahwa ia akan selalu mencintai istrinya dan berjanji akan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami dengan baik. Hal ini juga memberikan perlindungan hukum bagi wanita karena mendapat jaminan dari suaminya.

Dalam fikih Islam, taklik dibagi ke dalam dua macam, yaitu taklik qasami dan taklik syarthi. Taklik qasami adalah taklik yang dimaksudkan seperti janji karena mengandung pengertian melakukan pekerjaan atau meninggalkan suatu perbuatan atau menguatkan suatu kabar.

Sedangkan, syarthi yaitu taklik yang dimaksudkan untuk menjatuhkan talak jika telah terpenuhi syaratnya. Syarat sah taklik yang dimaksud tersebut ialah perkaranya belum ada, tetapi mungkin terjadi di kemudian hari, hendaknya istri ketika lahirnya akad talak dapat dijatuhi talak dan ketika terjadinya perkara yang ditaklikkan istri berada dalam pemeliharaan suami.

Apa hukum kedua taklik tersebut? Ibnu Hazm berpendapat dua jenis taklik talak tersebut; qasami dan syarthi tidak sah dan pengucapannya pun dianggap tidak memiliki dampak hukum apa pun.

Alasannya, Allah SWT telah mengatur secara jelas mengenai talak. Sedangkan, taklik semacam itu tidak ada tuntunannya dalam Alquran maupun hadis Nabi.

Bila taklik tersebut dipandang sebagai sebuah janji, menurut Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim, taklik tersebut tidak sah. Sebagai sanksinya, maka orang yang telanjur mengucapkannya wajib membayar kafarat; memberi makan 10 orang miskin atau memberi pakaian kepada mereka.

Dan jika tidak, ia wajib berpuasa selama tiga hari. Mengenai talak bersyarat, keduanya berpendapat bahwa talak bersyarat dianggap sah apabila yang dijadikan persyaratan telah terpenuhi.

Konteks Indonesia
Dalam konteks tradisi dan regulasi yang mengatur perkawinan, perjanjian semacam ini jika merujuk Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) boleh dilaksanakan. Isi perjanjian tersebut pada dasarnya tidak bertentangan dengan hukum positif dan hukum Islam.

Dalam Buku Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia disebutkan bahwa materi yang tercantum dalam redaksi shighat taklik talaq pada dasarnya telah terpenuhi dan tercantum dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Disebutkan lagi dalam buku itu, menurut Kompilasi Hukum Islam Indonesia (KHI), perjanjian taklik talak bukan merupakan keharusan dalam setiap perkawinan. Penegasan itu tertuang di KHI Pasal 46 ayat 3.

Persoalan taklik talak juga menyedot perhatian kalangan Nahdliyyin. Dalam Buku Kumpulan Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) yang menukil pendapat yang tertera dalam kitab I’anat At-Thalibin, dijelaskan bahwa perintah penghulu atau yang dikenal dengan naib untuk mengucapkan taklik talak itu hukumnya kurang baik karena taklik talak itu sendiri hukumnya makruh. Walaupun demikian, taklik talak itu sah, artinya bila dilanggar dapat jatuh talaknya.

Pendapat itu diperkuat juga dengan paparan lain yang terdapat dalam kitab Fath Al Mu’in. Bahwasanya, sumpah itu hukumnya makruh kecuali dalam baiat atau sumpah setia mati, jihad, menganjurkan pada kebaikan dan kejujuran dalam gugatan (pengadilan).

Sumpah itu hukumnya makruh sebagaimana firman Allah, Janganlah kamu jadikan nama (Allah) dalam sumpahnya sebagai penghalang." (QS. Al-Baqarah: 224), kecuali dalam hal ketaatan, seperti melaksanakan yang wajib dan yang sunah, serta meninggalkan yang haram ataupun makruh. Maka, dalam hal ini sumpah itu merupakan suatu ketaatan.

republika.co.id