fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Fenomena Media Sosial Picu Perceraian

Fenomena Media Sosial Picu Perceraian


Fiqhislam.com - Aktivitas di media sosial kini mulai mengarah kepada sisi yang membahayakan. Hal itu ditunjukkan dari fakta pengadilan bahwa sebagian besar perceraian di Kota Depok disebabkan oleh faktor aktivitas di media sosial yang memicu kecemburuan.

"Bila dulu pemicu perceraian pasangan suami isteri disebabkan faktor ekonomi, kini karena timbulnya kecemburuan," ungkap Panitera Pengadilan Agama Kota Depok Entoh Abdul Fatah, Rabu (4/10).

Data Pengadilan Agama Kota Depok menyebutkan, angka perceraian selama Agustus 2017 mencapai 157 kasus. Mayoritas pasangan suami istri yang bercerai diakibatkan timbulnya kecemburuan yang bermula di media sosial.

"Media sosial memiliki dampak yang buruk terhadap hubungan sosial Karena pasangannya mulai bertingkah di media sosial ataupun aplikasinya, “ bebernya.

Mengacu pada fakta tersebut, Entoh mengimbau agar setiap individu, baik laki-laki atau perempuan yang menikah untuk tidak berlebihan berkomukasi di media sosial. "Media sosial dimanfaatkan untuk lebih bijak dan benar. Jadi kalau ada yang iseng jangan direspons kalau sudah punya istri atau suami," pesan Entoh.

Ia menyontohkan, satu pasangan yang menikah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan setempat. Pasangan tersebut terlibat pertengkaran rutin setiap minggu yang terkait dengan aktivitas di media sosial. Ketika dimediasi, pasangan tersebut mengatakan bahwa mereka bertengkar dengan pasangannya setiap hari karena aktivitas yang romantis dengan pihak lain di Facebook.

"Ini menjadikan suami atau istri cemburu dan berujung pertengkaran hingga akhirnya cerai, padahal dulu, kasus perceraian lebih banyak dilatarbelakangi masalah ekonomi," ujar Entoh.

Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna mengingatkan masyarakat agar dapat memfilter penggunaan media sosial atau medsos sebagai salah satu faktor tingginya angka perceraian. Data yang ada angka perceraian di Kota Depok dinilai olehnya cukup memprihatinkan.

"Pemakaian media sosial harus arif dan bijaksana agar tidak timbul pertengkaran rumah tangga," ujarnya.

Pradi mengatakan perlu dilakukan penyuluhan terhadap generasi muda serta anak remaja hingga orang dewasa agar dapat membentengi diri dengan kuat terhadap sejumlah godaan di media sosial. [yy/republika]