5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Setelah Punya Anak, Kenapa Istri Sering Kesal pada Suami?

Setelah Punya Anak, Kenapa Istri Sering Kesal pada Suami?


Fiqhislam.com - Memiliki buah hati menjadi anugerah sekaligus tantangan bagi pasangan yang baru saja berumah tangga. Setelah seorang bayi mungil lahir di tengah-tengah Anda berdua, tugas dan kewajiban masing-masing pasangan sebagai suami istri mungkin tampak menjadi samar.

Sebagai ibu baru, Anda mungkin mengalami dilema antara menjalankan tugas harian, seperti memasak, membersihkan rumah, bahkan bekerja sambil mengurus anak. Tentunya, anak yang menjadi prioritas utama ibu.

Selama menjaga si kecil, terjadi perubahan rutinitas, misalnya jam tidur, berkurangnya waktu untuk diri sendiri, sementara suami tetap berkutat dengan rutinitasnya seperti belum punya anak. Punya anak kecil menjadi tantangan tersendiri bagi ibu.

Tak jarang kelelahan mengurus anak dan kebutuhan rumah tangga membuat ibu tiba-tiba merasa sedih ingin marah. Supaya rumah tangga tetap harmonis dengan kehadiran si kecil, berikut ini saran bagi suami dan istri, seperti dikutip dari laman Telegraph UK.

1. Jangan ada kata 'nanti'
Suami jangan sampai mengucapkan 'nanti' jika istri meminta sesuatu yang mendesak. Psikoterapis Jean Fitzpatrick mengatakan, seorang ibu yang punya bayi cenderung menjadi orang yang melakukan tugasnya dengan cepat dan punya tenggat yang ketat.

2. Hati - hati dengan kata 'saya' dan 'kamu'
Konsultan pernikahan, John dan Julie Gottman mengingatkan agar ibu berhati-hati dalam mengucapkan kata saya dan kamu. Jika merasa sudah kelelahan, ucapkan "Saya merasa lelah dan berharap kamu yang membereskan rumah". Ucapan ini lebih baik ketimbang ibu berkata, "Kamu tidak pernah mencuci piring".

Intinya, menurut John dan Julie Gottman, ibu menjelaskan apa yang terjadi tanpa penilaian atau penghakiman terhadap suami. Sampaikan dengan jelas apa yang ibu butuhkan dan sampaikan kenapa ibu perlu menyampaikan ini kepada suami.

3. Libatkan pasangan
Para ibu sering merasa hasil pekerjaannya lebih baik dari suami alias maternal gatekeeping. Akibat dari sikap ini ternyata cukup besar karena suami menjadi kurang percaya diri ketika hendak membantu melakukan pekerjaan rumah. Ketimbang nantinya dibilang tidak becus, mereka memilih mundur saja.

Solusinya, tak perlu mengkritik pasangan jika ia tak bisa memakaikan popok dengan benar. Atau jangan mencela ketidakmampuan suami membersihkan kotoran bayi. Libatkan suami dalam urusan rumah tangga dan bayi tanpa mengkritiknya. Pujilah sesekali atau ucapkan terima kasih.

4. Bagi tugas dengan jelas
Bagi tugas antara suami dan istri dengan jelas. Memang terkadang sulit membuat pria berinisiatif mengerjakan sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Jadi, katakan dengan jelas dan buat kesepakatan soal siapa yang membersihkan kamar hingga urusan membeli kebutuhan rumah tangga ketika si kecil hadir.

5. Kencan berdua
Luangkan waktu untuk berdua. Sebab, ketika baru pertama kali punya anak, pasangan muda terlalu fokus pada anak hingga melupakan pernikahan mereka. [yy/tempo]