18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Menghadapi Suami yang Berkhianat

Menghadapi Suami yang Berkhianat Fiqhislam.com - Siapapun yang terlanjur berbuat dosa hendaknya segera bertaubat dengan benar; yaitu meng-hentikan dosa, menyesal atas dosa yang sudah dilakukan, berniat dan bertekad untuk tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut. Kemudian memperbanyak ibadah kepada Allah.

Suami yang berselingkuh atau berzina, ia telah berdosa kepada Allah dan berdosa kepada istrinya. Ia harus bertaubat kepada Allah dan ia harus minta maaf kepada istri. Kewajiban istri adalah menyadarkan suami agar ia sadar dan bertaubat kepada Allah SWT, agar ia tidak mengulangi perbuatan dosanya itu.

Seorang istri yang suaminya berselingkuh hendaknya berintrospeksi; Kenapa suami melakukan perbuatan zina padahal ia punya istri? Apakah karena ia tidak mendapatkan pelayanan dari istrinya? Atau apakah istrinya tidak memberikan kepuasan kepada suaminya? Atau karena suaminya memang sudah rusak moralnya sehingga yang halal ditinggalkan dan menggantinya dengan yang haram?

Kalau suami berselingkuh karena istri tidak memberikan kepuasan, maka istri harus berusaha secara optimal untuk memberikan yang terbaik kepada suaminya, selain harus terus menyadarkannya. Istri tidak boleh putus asa untuk terus berusaha menyadarkan suami dengan pelayanan, penjelasan, keteladanan dan dengan doa demi doa.

Kalau suami sudah kembali kepada jalan yang benar, tidak mengulangi lagi perbuatan yang dimurkai oleh Allah, maka istri harus mampu melupakan dosa dan kesalahan suami serta memaafkannya dan tidak melupakan jasa dan kebaikan suami.

Tapi kalau perilaku dosa besar itu terus dilakukan, ia tidak bisa disadarkan, walaupun istri sudah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya maka istri punya pilihan:

a. Tetap sebagai istrinya dengan ekstra sabar dan terus berusaha menyadarkannya. Kewajiban kita adalah berusaha yang tulus dan sungguh-sungguh sedang hasilnya hanyalah Allah yang menentukan. Pilihan ini ditempuh kalau apa yang dilakukan oleh suaminya itu tidak membahayakan atau tidak memberikan dampak negatif bagi istri atau bagi keselamatan moral anak-anak.

b. Menempuh proses Khulu yaitu gugat cerai ke Pengadilan Agama, agar diproses perceraian sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Untuk memilih salah satu di antara dua pilihan itu, terutama untuk memilih pilihan cerai hendaknya dipertimbangkan dengan matang, musyawarah dengan orang tua atau orang yang dianggap perlu mempertimbangkan maslahat mudharat-nya untuk berbagai pihak, terutama anak, serta melakukan shalat istikharah, berta-nya kepada Allah setelah selesai shalat dua rakaat.Jangan lupa munajat kepada Allah SWT, agar Anda mendapat pilihan yang terbaik untuk Anda dan keluarga Anda.

alhikmahonline.com